4 Kesalahan Megasuh, Bisa Bikin Anak Menjauh dari Keluarga Saat Dewasa
Brooklyn Peltz Beckham, istrinya Nicola Peltz Beckham, dan sang ibu Victoria Beckham di acara karpet merah pemutaran perdana dokumenter Beckham di London pada Oktober 2023. ()
09:05
30 Januari 2026

4 Kesalahan Megasuh, Bisa Bikin Anak Menjauh dari Keluarga Saat Dewasa

- Jarak antara anak dan orangtua tidak muncul begitu saja ketika anak sudah dewasa, seperti keretakan hubungan Brooklyn Beckham dengan David dan Victoria Beckham.

Dalam banyak kasus, keputusan anak untuk membatasi interaksi, menjaga jarak emosional, bahkan memutus hubungan keluarga setelah menikah, sering kali merupakan ujung dari dinamika panjang yang sudah terbentuk sejak masa kecil.

Perihal keluarga Beckham, misalnya. Konflik rupanya mencuat dari David dan Victoria yang disebut terlalu mengontrol kehidupan Brooklyn sejak kecil, berdasarkan unggahan Brooklyn di InstaStory-nya beberapa waktu lalu.

Baca juga: 3 Jebakan dalam Mengasuh Anak yang Sering Tak Disadari Orangtua

Menurut para ahli, ada beberapa kesalahan dalam mengasuh anak, yang bisa membuat anak menjaga jarak dengan orangtua saat sudah dewasa kelak.

Tidak menghargai anak

Brooklyn Beckham dan Nicola Peltz. Pola kelekatan emosional kerap memengaruhi relasi keluarga dewasa, termasuk pada kasus Brooklyn Beckham yang memilih menjaga jarak dari orangtuanya.Instagram/@nicolaannepeltzbeckham Brooklyn Beckham dan Nicola Peltz. Pola kelekatan emosional kerap memengaruhi relasi keluarga dewasa, termasuk pada kasus Brooklyn Beckham yang memilih menjaga jarak dari orangtuanya.

Psikiater dr. Leonita Ariesti Putri, Sp.KJ, MSc, yang berpraktik di Primaya Hospital Kelapa Gading, mengatakan, tidak menghargai anak berpotensi membuat mereka menjauh saat dewasa.

Baca juga: 4 Cara Mengelola Emosi Saat Mengasuh Anak di Bulan Puasa

“Enggak menghargai anak sebagai individu yang terpisah dari orangtua, yang punya otonomi dirinya sendiri,” ujar dia dalam wawancara daring pada Kamis (29/1/2026).

Misalnya adalah meremehkan perasaan anak dengan membandingkan diri sendiri pada situasi tersebut, memberi kritik halus tetapi menusuk hati, serta mengungkit pengorbanan orangtua.

Ucapan seperti ini kerap muncul dalam konteks mendidik atau menasihati. Namun, bagi anak, pesan yang tertanam bisa berbeda. Ini dapat membuat anak merasa lelah dan kewalahan secara emosional.

“Orangtua mungkin enggak sadar, tapi buat si anak, itu bikin capek. Wajar kalau kita capek ketika terlalu dekat sama orang seperti itu, jadi kita bikin jarak,” utur dr. Leonita.

Parentification

Pola pengasuhan lainnya yang disorot adalah parentification, yakni situasi ketika anak mengambil peran sebagai pembantu pengelola emosi untuk orangtuanya.

“Parentification secara emosional jadi berubah dinamikanya. Si orangtua malah curhat sama anaknya atau jadi pelampiasan. Buat si anak kan harusnya enggak begitu,” tutur dr. Leonita.

Momen kebersamaan keluarga Beckham dengan sang menantu Nicola Peltz. Nikmati cerita tentang perjalanan hidup Nicola Peltz Beckham, dari aktris dan model hingga menjadi istri Brooklyn Beckham yang kini jadi sorotan.Instagram.com/@victoriabeckham Momen kebersamaan keluarga Beckham dengan sang menantu Nicola Peltz. Nikmati cerita tentang perjalanan hidup Nicola Peltz Beckham, dari aktris dan model hingga menjadi istri Brooklyn Beckham yang kini jadi sorotan.

Dalam hubungan orangtua dan anak yang sehat, orangtua membantu anak mengelola emosi. Namun dalam parentification, peran ini terbalik.

Bentuknya bisa berupa anak menjadi tempat curhat, penenang emosi, penengah konflik, atau sumber dukungan emosional bagi ayah dan ibunya.

“Lama-lama anak itu akan belajar, ‘oh perasaanku enggak penting, perasaanku itu nomor dua, yang penting itu perasaan orang tua baik-baik saja’,” kata dr. Leonita.

Saat dewasa, anak jadi terbiasa bertanggung jawab atas emosi semua orang dalam hidupnya. Pada akhirnya, anak akan kelelahan dan merasa bahwa menjalin relasi adalah sesuatu yang melelahkan.

“Jadi kayak, ‘udah mendingan aku ngejauh saja, enggak mau punya hubungan dekat’, bahkan dalam hubungan pertemanan atau dalam hubungan romantis karena itu bentuk perlindungan diri dia. Bisa juga anak jadi people pleaser dan sulit memasang batasan,” jelas dr. Leonita.

Namun, parentification sering kali terjadi tanpa diketahui, dan tanpa niat buruk dari orangtua. Mereka hanya membutuhkan dukungan emosional. Hanya, tempatnya salah.

“Seharusnya, dukungan itu carinya ke sumber yang tepat, ke sesama orang dewasa atau ke profesional, bukan menjatuhkan bebannya ke anak,” sambung dia.

Masih dianggap seperti anak kecil

Clement Eko Prasetio, M.Psi. Psikolog dari Indopsycare, melihat jarak juga sering muncul karena orangtua tidak mengubah cara memperlakukan anak yang sudah dewasa.

David Beckham (kanan) dan anaknya, Brooklyn Beckham (kiri), saat menghadiri penayangan perdana film Our Planet di London, Inggris, 4 April 2019. David Beckham akhirnya berbicara tentang perseteruan keluarga setelah pernyataan mengejutkan dari Brooklyn Beckham.AFP/NIKLAS HALLE'N David Beckham (kanan) dan anaknya, Brooklyn Beckham (kiri), saat menghadiri penayangan perdana film Our Planet di London, Inggris, 4 April 2019. David Beckham akhirnya berbicara tentang perseteruan keluarga setelah pernyataan mengejutkan dari Brooklyn Beckham.

“Orangtua suka lupa bahwa anak yang mereka besarkan itu sudah dewasa. Ketika anak sudah dewasa, maka sangat wajar anak memiliki identitas sendiri, dan anak menjadi sosok yang tahu dia ini maunya apa,” kata Clement saat dihubungi pada Kamis.

Pola pikir mereka masih menganggap bahwa anak yang kini sudah dewasa, masih kecil, sehingga masih perlu dibina dan dibimbing.

“Orangtua perlu sadar bahwa anak-anak sudah bukan lagi sosok yang perlu diarahkan, tapi menjadi teman diskusi,” ujar dia.

Ketika anak merasa tidak diakui sebagai individu dewasa, hubungan bisa terasa tidak setara. Jarak kemudian menjadi cara untuk membangun batasan.

Baca juga: Tak Cukup Sekedar Mengasuh, Tumbuh Kembang Anak Butuh Asih dan Asah

Anak harus menurut sampai tidak bebas berpendapat

Mengatur anak agar disiplin memang wajar dilakukan oleh orangtua. Namun, mengatur secara terus-menerus sampai ke ranah yang sangat personal, bisa membuat anak membangkang saat dewasa.

Misalnya, anak sejak kecil terus dinasihati agar “pokoknya nurut saja”, maka ia akan tumbuh sebagai orang yang sulit mengemukakan pendapat.

Orangtua tidak mendengarkan, dan tidak mau mendengarkan. Jika mendengarkan pendapat anak pun, hanya dianggap sebagai angin lalu.

“Seiring waktu, anak-anak makin dewasa, mulai kuliah, mulai bekerja, mulai menikah, anak-anak jadi punya power untuk mengatakan sesuatu yang selalu ingin diungkapkan ke orangtuanya, yang selama ini mungkin dia pendam,” ujar Clement.

Konflik yang menumpuk sejak kecil, dapat membuat anak menjaga jarak, bahkan memutus hubungan dengan orangtua.

Baca juga: 5 Tips Mengasuh Anak Generasi Alpha agar Berkepribadian Positif

Tag:  #kesalahan #megasuh #bisa #bikin #anak #menjauh #dari #keluarga #saat #dewasa

KOMENTAR