Saat AI Masuk ke Tubuh Manusia: AlphaGenome dan Langkah Google DeepMind Mengubah Riset Penyakit
- Google DeepMind kembali mendorong batas peran kecerdasan buatan ke wilayah paling fundamental dalam kehidupan manusia: DNA. Unit riset AI milik Google itu meluncurkan AlphaGenome, sebuah sistem kecerdasan buatan yang dirancang untuk membantu ilmuwan mengidentifikasi pemicu genetik utama berbagai penyakit kompleks, dari kanker hingga gangguan autoimun. Langkah ini menandai fase baru ekspansi AI global, dari pengolahan data dan bahasa ke biologi manusia.
Berbeda dari inovasi AI sebelumnya yang banyak menyasar produktivitas atau layanan digital, AlphaGenome bergerak di ranah kesehatan dan ilmu hayati, sektor yang dampaknya bersifat jangka panjang dan lintas negara. Teknologi ini mampu menganalisis hingga satu juta huruf kode DNA dalam satu waktu, memungkinkan peneliti membaca bagian genom yang selama ini sulit dipahami dan kerap luput dari penelitian medis konvensional.
Dilansir dari The Guardian, Kamis (29/1/2026), tim DeepMind menjelaskan bahwa AlphaGenome dikembangkan untuk memprediksi bagaimana mutasi genetik mengganggu mekanisme pengendalian gen di dalam tubuh. Gangguan tersebut dapat memengaruhi kapan suatu gen aktif, di jaringan tubuh mana gen bekerja, serta seberapa besar tingkat aktivitas biologisnya.
"Kami melihat AlphaGenome sebagai alat untuk memahami apa yang sebenarnya dilakukan elemen fungsional dalam genom, yang kami harapkan dapat mempercepat pemahaman mendasar tentang kode kehidupan," ujar peneliti DeepMind, Natasha Latysheva.
Sebagai gambaran sederhana, tubuh manusia menyimpan "buku petunjuk" raksasa bernama genom, yang terdiri atas sekitar 3 miliar huruf penyusun DNA. Namun, hanya sekitar 2 persen dari isi buku itu yang berfungsi sebagai resep pembuat protein. Sebagian besar sisanya bertugas sebagai pengatur—menentukan kapan gen bekerja, di bagian tubuh mana, dan seberapa kuat dampaknya. Justru di wilayah pengatur inilah banyak mutasi yang terbukti berkaitan dengan penyakit jantung, gangguan autoimun, masalah kesehatan mental, hingga kanker.
Untuk membangun AlphaGenome, DeepMind melatih sistem AI ini menggunakan basis data publik genetika manusia dan tikus. Dari proses tersebut, model mempelajari hubungan antara mutasi tertentu dengan dampaknya pada regulasi gen di jaringan tubuh yang berbeda. Dengan pendekatan ini, AlphaGenome tidak hanya membaca DNA, tetapi juga memprediksi konsekuensi biologis dari perubahan kecil dalam kode genetik.
Lebih jauh, DeepMind menilai AlphaGenome dapat membantu ilmuwan memetakan bagian DNA yang paling penting bagi perkembangan jaringan tertentu, seperti sel saraf atau sel hati. Informasi ini dinilai krusial untuk memahami penyakit sejak tahap paling awal, sekaligus membuka peluang pengembangan terapi gen yang lebih presisi, termasuk perancangan urutan DNA baru untuk mengaktifkan gen tertentu hanya pada sel yang diinginkan.
Peneliti di luar DeepMind melihat inovasi ini sebagai kemajuan besar, meski belum menggantikan eksperimen laboratorium.
Carl de Boer, peneliti University of British Columbia, Kanada, menyatakan, "AlphaGenome dapat mengidentifikasi apakah mutasi memengaruhi regulasi genom, gen mana yang terdampak dan bagaimana dampaknya, serta pada jenis sel apa. Dari situ, obat dapat dikembangkan untuk melawan efek tersebut."
Namun, dia menegaskan, "Meskipun ini merupakan inovasi signifikan, tujuan untuk sepenuhnya mengandalkan prediksi model masih memerlukan kerja lanjutan dari komunitas ilmiah."
Di tingkat klinis, AlphaGenome mulai memberi dampak langsung. Marc Mansour, profesor klinis hemato-onkologi pediatrik di University College London (UCL), menyebut teknologi ini sebagai sebuah "perubahan besar" dalam upayanya menemukan penggerak genetik kanker pada anak, sebuah bidang yang selama ini dihambat kompleksitas genom manusia.
Pandangan senada disampaikan Gareth Hawkes, ahli genetika statistik dari University of Exeter. Menurutnya, tantangan terbesar riset genetika selama ini terletak pada wilayah DNA yang tidak menghasilkan protein.
"Genom non-coding mencakup 98 persen dari 3 miliar pasangan basa genom kita. Kita cukup memahami 2 persen sisanya, tetapi fakta bahwa kini ada AlphaGenome yang dapat memprediksi apa yang dilakukan 2,94 miliar pasangan basa lainnya merupakan langkah maju besar bagi kami," ujarnya.
Dengan AlphaGenome, Google DeepMind menegaskan ambisinya bukan sekadar membangun AI yang cerdas, tetapi juga AI yang berperan dalam membentuk masa depan kesehatan global. Ketika kecerdasan buatan mulai membaca dan menafsirkan kode kehidupan manusia, persaingan teknologi dunia pun bergerak ke medan baru—lebih dalam, lebih sensitif, dan berdampak jauh melampaui industri digital.
Tag: #saat #masuk #tubuh #manusia #alphagenome #langkah #google #deepmind #mengubah #riset #penyakit