Anggota DPR Azis Subekti Sampaikan 5 Langkah untuk Putus Siklus Bencana di Sumatera
Banjir dan longsor Sumatera menyebabkan rumah warga di Sibolga rusak dan tidak layak huni. (Istimewa)
16:08
31 Januari 2026

Anggota DPR Azis Subekti Sampaikan 5 Langkah untuk Putus Siklus Bencana di Sumatera

- Bencana alam di Sumatera menyebabkan kerusakan luar biasa. Sampai hari ini (31/1), sebanyak 1.204 korban meninggal dunia dan ribuan bangunan serta fasilitas publik rusak. Untuk memastikan siklus bencana di Sumatera tidak putus, Anggota Komisi II DPR Azis Subekti menyampaikan 5 langkah yang harus dilakukan oleh pemerintah dan semua pihak terkait.

Pertama, restorasi daerah aliran sungai (DAS). Menurut Azis langkah itu harus menjadi proyek utama, bukan tambahan. Dia menyebut, pemulihan pasca bencana tidak cukup dengan normalisasi sungai di hilir. Negara harus berani memindahkan fokus ke hulu dengan cara melakukan rehabilitasi hutan, pengendalian pembukaan lahan, dan penataan ulang ruang tangkap air.

”Tanpa itu, rumah yang dibangun hari ini hanya menunggu banjir berikutnya,” kata dia dalam keterangan resmi pada Sabtu (31/1).

Langkah kedua adalah rekonstruksi hunian berbasis peta risiko ekologis terbaru. Relokasi tidak boleh sekadar memindahkan warga dari satu titik ke titik lain yang sama-sama rawan. Karena itu, dia menyampaikan, setiap keputusan relokasi harus didasarkan pada kajian geologi, hidrologi, dan perubahan iklim lokal. Artinya ada wilayah yang harus dikosongkan secara permanen.

Ketiga, pemulihan ekonomi desa harus dikaitkan dengan ekologi lokal. Menurut Azis, BUMDes dan pasar desa yang rusak tidak cukup dibangun kembali secara fisik. Perlu ada penyesuaian arah usaha dengan daya dukung lingkungan seperti pertanian yang lebih adaptif terhadap banjir, perikanan yang tidak merusak pesisir, serta usaha jasa lingkungan seperti pengelolaan air, hutan desa, dan ekowisata berbasis komunitas.

”Tanpa itu, pemulihan ekonomi akan rapuh dan mudah runtuh oleh guncangan berikutnya,” ucap dia.

Lebih lanut, Azis menyampaikan langkah keempat yang perlu diambil adalah perlindungan kawasan pesisir dan pulau kecil terluar harus dipercepat sebagai bagian dari kedaulatan ekologis. Dia menilai, abrasi yang menggerus daratan bukan hanya mengancam rumah warga, melainkan juga menghilangkan batas fisik negara.

”Infrastruktur pengaman pantai harus dipadukan dengan rehabilitasi mangrove dan tata ruang pesisir yang ketat. Mengabaikan itu sama artinya membiarkan wilayah negara hilang perlahan,” jelasya.

Terakhir, sebagai langkah kelima harus ada indikator pemulihan pasca bencana dengan memasukkan variabel ekologis. Menurut dia, selama ini pemulihan diukur dari berfungsinya layanan pemerintahan dan infrastruktur dasar. Itu penting, tetapi tidak cukup. Pemulihan sejati perlu diukur dari pulihnya fungsi lingkungan. Mulai kualitas air, stabilitas tanah, tutupan vegetasi, dan berkurangnya risiko bencana ulang.

”Tanpa indikator tersebut, laporan pemulihan akan tampak baik di atas kertas, tetapi rapuh di lapangan,” tegasnya.

Azis menyampaikan, penajaman ekologi juga harus berjalan seiring dengan penguatan tata kelola. Data yang sudah dikumpulkan by name by address perlu ditautkan dengan by location by risk. Sebab, transparansi bukan hanya soal siapa yang menerima bantuan, melainkan juga mengapa suatu wilayah dibangun kembali dan wilayah lain tidak.

Dia pun mengungkapkan bahwa rehabilitasi dan rekonstruksi pasca bencana adalah ujian kedewasaan negara. Membangun kembali lebih baik bukan berarti membangun lebih besar dan lebih cepat, melainkan membangun lebih bijak, selaras dengan batas-batas ekologis yang selama ini dilanggar.

”Jika setelah air surut negara kembali ke titik nol, maka bencana berikutnya tinggal menunggu waktu. Tetapi jika pemulihan dijadikan momentum koreksi arah, maka dari puing dan lumpur, kepercayaan warga pada negara bisa tumbuh kembali lebih kuat, lebih jujur, dan lebih berkelanjutan,” pungkasnya.

 

Editor: Sabik Aji Taufan

Tag:  #anggota #azis #subekti #sampaikan #langkah #untuk #putus #siklus #bencana #sumatera

KOMENTAR