Penelitian Ungkap Musik Bisa Lindungi Lansia dari Risiko Demensia
- Sebuah penelitian terbaru menemukan bahwa kebiasaan mendengarkan musik secara rutin dapat membantu menurunkan risiko demensia sekaligus menjaga fungsi kognitif di usia lanjut.
Temuan ini menjadi kabar baik, mengingat demensia merupakan salah satu tantangan kesehatan terbesar pada populasi lanjut usia.
Seiring meningkatnya angka harapan hidup, jumlah penderita demensia juga terus bertambah. Maka, upaya pencegahan yang mudah dilakukan, murah, dan minim risiko menjadi sangat penting.
Studi Monash University ungkap peran musik
Dilansir dari HuffPost, Kamis (8/1/2025), penelitian yang dilakukan oleh tim peneliti dari Monash University, Australia.
Para peneliti menganalisis data lebih dari 10.800 orang dewasa berusia di atas 70 tahun untuk melihat hubungan antara kebiasaan bermusik dan kesehatan kognitif.
Hasilnya cukup mencolok. Lansia yang mendengarkan musik hampir setiap hari tercatat memiliki risiko demensia 39 persen lebih rendah dibandingkan mereka yang jarang atau tidak pernah mendengarkan musik.
Tak hanya itu, kelompok ini juga menunjukkan penurunan risiko gangguan kognitif sebesar 17 persen, serta memiliki skor kognitif secara keseluruhan yang lebih tinggi.
Peneliti juga menemukan bahwa memori episodik, jenis memori yang digunakan untuk mengingat peristiwa sehari-hari, lebih baik pada lansia yang rutin mendengarkan musik.
Bermain alat musik dan bernyanyi tak kalah bermanfaat
Manfaat musik tidak berhenti pada aktivitas mendengarkan saja. Penelitian yang sama menunjukkan bahwa lansia yang bermain alat musik atau bernyanyi juga memperoleh perlindungan signifikan terhadap demensia.
Mereka yang aktif bermain musik memiliki penurunan risiko demensia hingga 35 persen.
Sementara itu, lansia yang mengombinasikan kebiasaan mendengarkan dan bermain musik secara rutin tercatat mengalami penurunan risiko demensia sebesar 33 persen dan risiko gangguan kognitif turun 22 persen.
Temuan ini menunjukkan bahwa semakin aktif keterlibatan seseorang dengan musik, semakin besar pula manfaat yang didapatkan bagi kesehatan otak.
Musik sebagai latihan otak menyeluruh
Salah satu peneliti studi ini, Emma Jaffa, mahasiswa kehormatan biomedis di Monash University, menjelaskan bahwa musik bekerja dengan cara yang unik pada otak.
“Kami tahu bahwa mendengarkan musik melibatkan banyak area otak sekaligus, sehingga bekerja seperti latihan menyeluruh bagi otak,” ungkap Jaffa.
Menurutnya, musik tidak hanya memicu area pendengaran, tetapi juga area yang berkaitan dengan memori, emosi, bahasa, dan koordinasi.
Aktivasi serentak berbagai bagian otak inilah yang diduga membantu menjaga ketajaman fungsi kognitif pada lansia.
Dampak musik pada memori dan bahasa
Jaffa menambahkan, penelitian sebelumnya telah menunjukkan sejumlah manfaat kognitif dari musik.
“Studi-studi terdahulu menunjukkan bahwa mendengarkan musik dapat meningkatkan kecepatan pemrosesan informasi, kemampuan bahasa, memori, dan koordinasi,” kata dia.
Selain itu, aktivitas bermusik sering kali melibatkan interaksi sosial, seperti bernyanyi bersama atau bermain musik dalam kelompok.
Faktor sosial ini juga berperan penting dalam menjaga kesehatan otak dan menurunkan risiko demensia.
Musik hanya bagian dari gaya hidup sehat untuk otak
Meski demikian, para peneliti menekankan bahwa musik bukanlah satu-satunya faktor pelindung dari demensia.
Musik sebaiknya menjadi bagian dari pendekatan menyeluruh untuk menjaga kesehatan otak.
Mengombinasikan kebiasaan mendengarkan atau bermain musik dengan aktivitas fisik, interaksi sosial, dan stimulasi mental lainnya diyakini dapat memberikan manfaat yang lebih optimal bagi lansia.
Musik bukan sekadar hiburan nostalgia, tetapi juga bisa menjadi salah satu kunci sederhana untuk membantu lansia menjalani masa tua dengan kualitas hidup dan kesehatan otak yang lebih baik.
Tag: #penelitian #ungkap #musik #bisa #lindungi #lansia #dari #risiko #demensia