Pubertas Dini pada Anak Tidak Sekadar Tumbuh Lebih Cepat, Ini Dampaknya Menurut Dokter
Ilustrasi tinggi anak. Pubertas yang muncul terlalu cepat pada anak bukan sekadar soal perubahan fisik, tetapi bisa menjadi sinyal gangguan kesehatan.()
10:18
7 Januari 2026

Pubertas Dini pada Anak Tidak Sekadar Tumbuh Lebih Cepat, Ini Dampaknya Menurut Dokter

Pubertas dini atau precocious puberty menjadi kondisi yang perlu diwaspadai orangtua karena perubahan fisik dan hormonal pada anak dapat terjadi jauh lebih cepat dari usia seharusnya.

Profesor Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia sekaligus ahli endokrinologi anak, Prof. Dr. dr. Aman Bhakti Pulungan, Sp.A, Subsp.End, FAAP, FRCPI (Hon.), FIAP (Hon.) menjelaskan bahwa pubertas dini pada anak perempuan terjadi bila tanda pubertas muncul sebelum usia 8 tahun, sedangkan pada anak laki-laki bila terjadi sebelum usia 9 tahun.

Tanda awal pubertas dini yang perlu diperhatikan

“Pada anak perempuan, tanda awal pubertas biasanya berupa pembesaran payudara, sementara pada anak laki-laki ditandai dengan pembesaran testis atau buah zakar,” ujar Prof. Aman Pulungan saat diwawancarai Kompas.com pada Selasa (6/1/2026).

Dokter spesialis anak subspesialis endokrinologi yang berpraktik di Klinik Anak AP&AP Jakarta dan RSPI Pondok Indah itu menekankan bahwa orangtua perlu peka terhadap perubahan fisik yang muncul lebih cepat dari teman sebaya anak.

Prof. Aman Pulungan menjelaskan bahwa pubertas yang terjadi pada usia sangat muda, khususnya pada anak perempuan di bawah 6 tahun, patut dicurigai sebagai kondisi patologis.

“Jika pubertas pada anak perempuan terjadi di bawah usia 6 tahun, kemungkinan besar ada penyebab patologi seperti tumor atau penyakit tertentu sehingga harus segera disingkirkan,” katanya.

Sementara itu, Guru Besar UI tersebut menyebut bahwa pubertas dini pada anak laki-laki lebih sering berkaitan dengan kelainan medis dibandingkan variasi normal.

“Pada anak laki-laki, pubertas dini hampir selalu patologi sehingga perlu evaluasi menyeluruh,” ujarnya.

Pemeriksaan medis yang perlu dilakukan

Ilustrasi anak. Pubertas yang muncul terlalu cepat pada anak bukan sekadar soal perubahan fisik, tetapi bisa menjadi sinyal gangguan kesehatan.FREEPIK Ilustrasi anak. Pubertas yang muncul terlalu cepat pada anak bukan sekadar soal perubahan fisik, tetapi bisa menjadi sinyal gangguan kesehatan.

Evaluasi pubertas dini tidak hanya dilakukan melalui pemeriksaan fisik, tetapi juga pemeriksaan laboratorium dan pencitraan sesuai indikasi medis.

“Pemeriksaannya meliputi pemeriksaan fisik, pemeriksaan darah, pemeriksaan usia tulang, serta MRI atau USG bila diperlukan,” jelasnya.

Ia menambahkan bahwa penilaian apakah pubertas masih tergolong variasi normal atau sudah membutuhkan penanganan harus dilakukan oleh dokter spesialis endokrinologi anak.

Dampak fisik pubertas dini pada anak

Menurut Prof. Aman Pulungan, pubertas dini membawa sejumlah dampak fisik jangka panjang yang tidak boleh dianggap sepele.

“Secara fisik, anak akan tampak dewasa lebih cepat, tetapi tinggi badannya bisa lebih pendek saat dewasa, anak perempuan mengalami haid lebih dini, serta berisiko mengalami osteoporosis, keganasan, hingga sindrom ovarium polikistik atau PCOS,” ujarnya.

Selain dampak fisik, perubahan tubuh yang terlalu cepat juga berdampak besar pada kondisi mental dan sosial anak.

“Bayangkan anak usia 8 atau 9 tahun sudah haid, secara psikologis tentu sangat berat karena pola hidupnya harus berbeda dari teman-temannya,” katanya.

Ia menambahkan bahwa perbedaan fisik yang mencolok juga dapat memicu perundungan di lingkungan sekolah dan membuat anak merasa terasing.

Kapan pubertas dini perlu diobati

Prof. Aman Pulungan menyatakan bahwa pubertas dini yang telah memenuhi indikasi medis sebaiknya segera mendapatkan terapi.

“Jika sudah masuk kriteria pubertas dini, kondisi ini memang diindikasikan untuk diobati,” ujarnya.

Terkait keamanan terapi, ia menegaskan bahwa pengobatan hormonal penunda pubertas telah direkomendasikan secara ilmiah.

“Terapi hormonal ini aman secara saintifik, tetapi tetap harus dilakukan dengan tepat karena ada potensi efek samping,” katanya.

Peran orangtua dalam pencegahan pubertas dini

Dalam upaya pencegahan, dokter spesialis endokrinologi anak dari Klinik Anak AP&AP Jakarta itu menekankan pentingnya pola hidup sehat sejak dini.

“Hiduplah sesehat mungkin, tidur cukup, hindari makanan ultra-proses, tinggi gula dan tinggi kalori, serta cegah obesitas pada anak,” ujarnya.

Ia juga menyarankan agar anak rutin berolahraga dan mendapatkan asupan gizi seimbang untuk menjaga keseimbangan hormon tubuh.

“Pola hidup sehat, aktivitas fisik yang cukup, dan tidur yang berkualitas sangat berperan dalam menjaga tumbuh kembang anak,” kata Prof. Aman Pulungan.

Dengan pemahaman yang tepat dan deteksi dini, orangtua diharapkan tidak mengabaikan tanda-tanda pubertas dini dan segera berkonsultasi ke dokter bila menemukan perubahan yang tidak sesuai usia anak.

Tag:  #pubertas #dini #pada #anak #tidak #sekadar #tumbuh #lebih #cepat #dampaknya #menurut #dokter

KOMENTAR