Jagung, Gandum, hingga Beras: Produk Pertanian AS yang Bakal Diimpor RI
Indonesia dan Amerika Serikat (AS) resmi menandatangani perjanjian tarif timbal balik atau tarif resiprokal (Agreement on Reciprocal Trade/ART) kedua negara pada Kamis (19/2/2026) waktu setempat. Penandatanganan ini dilaksanakan langsung oleh Presiden Prabowo Subianto dan Presiden AS Donald Trump di sela-sela kunjungan Presiden Prabowo ke Washington DC, Amerika Serikat (AS). (Dok. Instagram Sekretariat Kabinet)
17:56
22 Februari 2026

Jagung, Gandum, hingga Beras: Produk Pertanian AS yang Bakal Diimpor RI

Penandatanganan The Agreement on Reciprocal Trade (ART) antara Indonesia dan Amerika Serikat (AS) pada 19 Februari 2026 memuat sejumlah komitmen perdagangan, termasuk peningkatan pembelian produk pertanian asal AS.

Juru Bicara Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Haryo Limanseto dalam keterangan tertulis, Minggu (22/2/2026) menyatakan, pemerintah merinci sejumlah komoditas pertanian yang menjadi bagian dari kesepakatan tersebut.

Kesepakatan ini lahir setelah sebelumnya, pada 2 April 2025, Pemerintah AS secara unilateral menetapkan tarif resiprokal 32 persen terhadap Indonesia, berdasarkan data defisit perdagangan AS terhadap Indonesia sebesar 19,3 miliar dollar AS pada 2024.

Baca juga: Ekonom Sebut RI Kehilangan Posisi Unggul Akibat Tarif AS

Ilustrasi impor.SHUTTERSTOCK/NUAMFOLIO Ilustrasi impor.

Setelah proses negosiasi, tarif tersebut diturunkan menjadi 19 persen dan kemudian diformalkan dalam ART.

Dalam konteks itulah, pembelian produk pertanian dari AS menjadi bagian dari strategi penyeimbangan perdagangan.

Komitmen pembelian produk pertanian Amerika senilai 4,5 miliar dollar AS

Haryo menyebutkan adanya komitmen pembelian produk pertanian berupa kapas, kedelai, bungkil kedelai, gandum, dan jagung senilai 4,5 miliar dollar AS. Dengan asumsi kurs Rp 16.862 per dollar AS, nilai tersebut setara sekitar Rp 75,88 triliun.

 “Pembelian produk pertanian (kapas, kedelai, bungkil kedelai, gandum, dan jagung) senilai 4,5 miliar dollar AS,” kata Haryo.

Baca juga: Strategi Baru Trump: Tarif 15 Persen untuk Impor Global

Kelima komoditas ini merupakan bahan baku utama bagi berbagai sektor industri di dalam negeri, terutama tekstil dan makanan-minuman.

1. Kapas

Kapas menjadi bahan baku utama industri tekstil nasional. Haryo menyebut, kapas termasuk dalam daftar komitmen pembelian produk pertanian.

Industri tekstil Indonesia selama ini memang sangat bergantung pada bahan baku impor karena produksi kapas domestik terbatas.

Ilustrasi kedelai.PIXABAY/pnmralex Ilustrasi kedelai.

2. Kedelai dan bungkil kedelai

Kedelai digunakan untuk industri pangan, seperti tahu dan tempe, serta berbagai produk olahan lainnya. Sementara bungkil kedelai (soybean meal) merupakan bahan baku penting untuk pakan ternak.

Baca juga: Perjanjian Dagang, Impor LPG Indonesia dari AS Naik Jadi 70 Persen

Keduanya tercantum secara eksplisit dalam komitmen pembelian senilai 4,5 miliar dollar AS.

3. Gandum

Gandum merupakan bahan baku utama industri tepung terigu dan produk turunannya. Indonesia bukan negara penghasil gandum, sehingga kebutuhan dalam negeri sepenuhnya dipenuhi melalui impor.

Gandum juga termasuk dalam daftar komoditas yang akan dibeli Indonesia dalam kesepakatan ART.

4. Jagung

Jagung masuk dalam dua konteks, yakni sebagai bagian dari komitmen pembelian 4,5 miliar dollar AS dan sebagai komoditas dengan akses impor untuk kebutuhan industri makanan dan minuman.

Baca juga: Kesepakatan Tarif RI-AS: Indonesia Diwajibkan Tingkatkan Impor Batu Bara Metalurgi dari Amerika

“Ketentuan ini mengatur bahwa Indonesia memberikan akses impor Jagung asal AS untuk peruntukan bahan baku industri makanan & minuman (MaMin) dengan volume tertentu per tahun," sebut Haryo.

Ia menjelaskan, kebutuhan impor jagung untuk industri makanan dan minuman pada 2025 sekitar 1,4 juta ton.

Ilustrasi jagung. PIXABAY/MUHAMMAD AAMIIR AKHTER Ilustrasi jagung.

“Produk jagung asal AS memiliki spesifikasi dan standar mutu sesuai yang dibutuhkan oleh industri MaMin," ungkapnya.

Industri makanan dan minuman disebut memiliki kontribusi 7,13 persen terhadap PDB nasional dan menyumbang 21 persen dari total ekspor industri nonmigas, atau senilai 48 miliar dollar AS, serta menyerap 6,7 juta tenaga kerja pada 2025.

Baca juga: Kesepakatan Dagang dengan AS, Bos Danantara Sebut RI Akan Beli 50 Pesawat Boeing hingga Impor Energi

Dengan kurs Rp 16.862 per dollar AS, nilai ekspor 48 miliar dollar AS tersebut setara sekitar Rp 809,38 triliun.

5. Beras: 1.000 ton dan disebut tidak signifikan

Selain komoditas besar seperti gandum dan kedelai, dokumen ART juga menyinggung impor beras dari AS.

“Pemerintah setuju memberikan alokasi impor untuk beras klasifikasi khusus asal AS, namun tetap realisasinya tergantung permintaan dalam negeri," terang Haryo.

Dalam lima tahun terakhir, Indonesia disebut tidak melakukan impor beras dari AS. Komitmen impor beras dari AS hanya sebesar 1.000 ton.

Baca juga: Siapa yang Menanggung Tarif Impor Trump? Warga AS Sendiri

“Komitmen impor beras AS hanya sebesar 1.000 Ton tidak signifikan atau hanya sekitar 0,00003 persen dari total produksi beras nasional yang mencapai 34,69 juta ton tahun 2025,” imbuh dia.

Dengan produksi beras nasional 34,69 juta ton pada 2025, porsi impor tersebut dinyatakan sangat kecil dibanding total produksi domestik.

6. Produk ayam: Grand Parent Stock dan MDM

Produk unggas juga menjadi bagian dari pembahasan dalam ART. Haryo menegaskan bahwa impor dari AS bukan dalam bentuk daging ayam konsumsi massal, melainkan untuk kebutuhan tertentu.

Ilustrasi peternakan ayamSHUTTERSTOCK/Yuangeng Zhang Ilustrasi peternakan ayam

“Indonesia mengimpor produk ayam AS dalam bentuk live poultry yakni untuk kebutuhan Grand Parent Stock (GPS) sebanyak 580.000 ekor (dengan estimasi nilai sekitar 17-20 juta dollar AS). GPS sangat dibutuhkan peternak ayam dalam negeri sebagai sumber genetik utama dan belum ada fasilitas pembibitan GPS di Indonesia," terang Haryo.

Baca juga: Bangladesh Dapat Potongan Tarif Impor AS, Tekstil Nikmati Bebas Bea

Dengan kurs Rp 16.862 per dollar AS, estimasi nilai tersebut setara sekitar Rp 286,65 miliar hingga Rp 337,24 miliar.

Selain GPS, pemerintah juga menyinggung impor bagian ayam dan daging ayam olahan.

“Untuk kebutuhan industri makanan domestik, Indonesia juga melakukan importasi mechanically deboned meat (MDM) sebagai bahan baku pembuatan sosis, nugget, bakso, dan produk olahan lainnya dengan estimasi volume impor sekitar 120.000 sampai 150.000 ton per tahun," ucap Haryo.

“Pemerintah tetap memprioritaskan perlindungan peternak dalam negeri serta menjaga keseimbangan pasokan dan harga ayam nasional. Tidak ada kebijakan yang mengorbankan industri domestik," imbuhnya.

Baca juga: Dirut Agrinas Ungkap Alasan Impor 105.000 Mobil dari India buat Koperasi Merah Putih

Akses pasar dan kemudahan impor produk pertanian AS

Selain komitmen pembelian, ART juga mencantumkan komitmen Indonesia membuka akses pasar untuk 99 persen produk asal AS dengan tarif nol persen, berlaku saat Entry Into Force (EIF) perjanjian.

“Dengan diberikannya kemudahan perizinan impor dan persyaratan standarisasi pada produk pertanian asal AS, diharapkan bisnis dapat memperoleh bahan baku secara lebih efisien dan menjaga kelancaran proses produksi, sehingga mendukung program ketahanan pangan nasional," papar Haryo.

Selain itu, Indonesia juga berkomitmen menghapus hambatan non-tarif, termasuk terkait perizinan impor dan pengakuan standar AS.

Ilustrasi impor.SHUTTERSTOCK/AUN PHOTOGRAPHER Ilustrasi impor.

Forum evaluasi jika terjadi lonjakan impor

Terkait potensi lonjakan impor, pemerintah menyatakan adanya forum Council on Trade and Investment yang akan membahas implementasi perjanjian secara periodik.

Baca juga: Menperin Tegaskan Industri Nasional Bagus, Sindir Impor Pikap

“Melalui ketentuan dalam ART ini, Pemerintah Indonesia dan AS memiliki forum Council on Trade and Investment yang secara periodik akan membahas implementasi perjanjian ini, termasuk jika terjadi lonjakan impor yang signifikan dan mengganggu stabilitas pasar dalam negeri maupun perdagangan pada kedua negara," jelas Haryo.

Selain itu, jika terdapat aktivitas perdagangan yang mengancam industri lokal, pemerintah disebut dimungkinkan menerapkan instrumen bea masuk tambahan seperti safeguard, anti-dumping, dan anti-subsidi sesuai kaidah Organisasi Perdagangan Dunia (WTO).

Secara keseluruhan, impor produk pertanian dari AS dalam kerangka ART mencakup komitmen pembelian bernilai sekitar Rp 75,88 triliun untuk kapas, kedelai, bungkil kedelai, gandum, dan jagung, ditambah akses impor untuk beras khusus 1.000 ton, serta GPS ayam dan MDM.

Tag:  #jagung #gandum #hingga #beras #produk #pertanian #yang #bakal #diimpor

KOMENTAR