Benarkah Darah Kental Bisa Picu Stroke, Seperti Klaim Donald Trump? Ini Fakta Medisnya
Ilustrasi obat. Pernyataan Donald Trump soal ?darah kental? dan kebiasaannya minum aspirin dosis tinggi memicu pertanyaan publik, tetapi apa kata dokter tentang risiko stroke sebenarnya?(Shutterstock/Irin Fierce)
18:06
4 Januari 2026

Benarkah Darah Kental Bisa Picu Stroke, Seperti Klaim Donald Trump? Ini Fakta Medisnya

Pernyataan Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengenai kebiasaannya mengonsumsi aspirin dosis tinggi kembali menjadi perhatian setelah ia menyebut ingin menghindari “darah kental” yang menurutnya berisiko memicu masalah jantung dan stroke.

Dalam wawancara dengan The Wall Street Journal, Trump mengaku telah mengonsumsi aspirin 325 miligram setiap hari selama sekitar 25 tahun meskipun dokter menyarankan dosis yang lebih rendah.

“Aspirin bagus untuk mengencerkan darah, dan saya tidak mau darah kental mengalir ke jantung saya,” ujar Trump, seperti dikutip NPR dan CNN.

Mengintai

Apa yang dimaksud “darah kental” dalam dunia medis?

Istilah “darah kental” sebenarnya bukan diagnosis medis resmi, melainkan istilah awam yang sering digunakan masyarakat untuk menggambarkan kondisi pembekuan darah atau gangguan aliran darah.

Dokter spesialis jantung preventif dari Stanford Medicine, Dr. Eleanor Levin, menjelaskan bahwa aspirin bekerja dengan menghambat pembentukan trombosit sehingga mengurangi risiko penggumpalan darah, tetapi mekanismenya tidak sesederhana sekadar mengencerkan darah.

Benarkah darah kental menjadi penyebab stroke?

Ilustrasi stroke. Pernyataan Donald Trump soal ?darah kental? dan kebiasaannya minum aspirin dosis tinggi memicu pertanyaan publik, tetapi apa kata dokter tentang risiko stroke sebenarnya?Pexels/freestocks.org Ilustrasi stroke. Pernyataan Donald Trump soal ?darah kental? dan kebiasaannya minum aspirin dosis tinggi memicu pertanyaan publik, tetapi apa kata dokter tentang risiko stroke sebenarnya?

Menurut Levin, stroke dan serangan jantung jarang disebabkan oleh satu faktor tunggal, apalagi hanya karena darah dianggap terlalu kental.

“Tidak ada keuntungan tambahan dari dosis 325 miligram dibandingkan 81 miligram dalam pencegahan penyakit jantung, sehingga dosis tinggi itu sebenarnya tidak diperlukan,” kata Levin kepada NPR.

Ia menegaskan bahwa faktor risiko stroke jauh lebih kompleks, mulai dari tekanan darah tinggi, kolesterol, diabetes, gangguan irama jantung, hingga gaya hidup.

Risiko aspirin dosis tinggi pada usia lanjut

Konsumsi aspirin jangka panjang, terutama pada usia lanjut, membawa risiko perdarahan di lambung dan otak meskipun kematian akibat efek samping tersebut tergolong jarang.

Levin menyebutkan bahwa memar dan perdarahan ringan, seperti yang dialami Trump, merupakan efek samping yang cukup umum dan tidak selalu berbahaya, tetapi tetap perlu dipantau.

Pandangan kritis juga disampaikan dr. Jonathan Reiner, profesor kardiologi dari George Washington University School of Medicine, yang menilai tidak ada alasan medis kuat untuk mengonsumsi aspirin dosis tinggi setiap hari.

“Aspirin 325 miligram meningkatkan risiko perdarahan, tetapi tidak meningkatkan efektivitas pencegahan stroke atau serangan jantung dibanding dosis rendah,” ujar Reiner, seperti dikutip CNN.

Reiner menekankan bahwa dalam praktik klinis, dosis 81 miligram dipilih karena memberikan keseimbangan terbaik antara manfaat dan risiko.

Pedoman medis soal aspirin harian

Sejak 2022, U.S. Preventive Services Task Force tidak lagi merekomendasikan penggunaan aspirin harian bagi orang berusia di atas 60 tahun yang tidak memiliki kondisi kardiovaskular tertentu.

Lembaga tersebut juga menyarankan penghentian aspirin preventif pada banyak pasien di sekitar usia 75 tahun karena risiko efek samping mulai lebih besar dibandingkan manfaatnya.

Polemik seputar pernyataan Trump membuka diskusi lebih luas tentang pentingnya literasi kesehatan publik dan pemahaman yang tepat terhadap istilah medis.

Para ahli menegaskan bahwa pencegahan stroke lebih efektif dilakukan melalui pengendalian tekanan darah, pola makan sehat, aktivitas fisik teratur, serta pemeriksaan medis rutin, bukan sekadar bergantung pada obat dosis tinggi.

Aspirin tetap memiliki peran penting dalam dunia medis, tetapi penggunaannya perlu berdasarkan indikasi jelas dan keputusan bersama antara pasien dan dokter, bukan asumsi tentang “darah kental” semata.

Tag:  #benarkah #darah #kental #bisa #picu #stroke #seperti #klaim #donald #trump #fakta #medisnya

KOMENTAR