Persalinan Terencana Tingkatkan Keselamatan Bayi dengan Penyakit Jantung Bawaan
Ilustrasi bayi baru lahir. Mengapa Lebih Banyak Orang Tua Menginginkan Anak Perempuan daripada Laki-laki?(Freepik/yanalya)
14:36
19 Februari 2026

Persalinan Terencana Tingkatkan Keselamatan Bayi dengan Penyakit Jantung Bawaan

– Tidak semua penyakit jantung bawaan (PJB) baru diketahui setelah bayi lahir. Dalam banyak kasus, pemeriksaan kehamilan sudah mampu mendeteksi adanya kelainan jantung pada janin.

Ketua Pokja Kardiologi Pediatrik dan Penyakit Jantung Bawaan PERKI, dr. Oktavia Lilysari, SpJP(K), FIHA, menjelaskan bahwa deteksi dini sangat penting, terutama karena sekitar seperempat pasien PJB lahir dalam kondisi kritis.

“Seperempat dari pasien PJB itu lahir dengan PJB kritis. PJB kritis itu harus segera kita tangani,” ujarnya saat ditemui dalam rangkaian skrining PJB di SDN 03 Makasar, Jakarta Timur, Kamis (12/2/2026).

Baca juga: Aktivitas yang Aman untuk Anak dengan Penyakit Jantung Bawaan

PJB Kritis Perlu Ditangani Jam Demi Jam

PJB kritis adalah kondisi kelainan jantung yang memerlukan intervensi segera setelah bayi lahir. Dalam beberapa kasus, pembuluh darah besar bayi bisa berada pada posisi yang tidak normal sehingga aliran darah tidak berjalan sebagaimana mestinya.

Dr. Oktavia mencontohkan, ada kondisi di mana sekat jantung justru perlu dibuat terbuka agar terjadi percampuran darah yang cukup untuk mempertahankan kehidupan bayi.

“Kadang dindingnya malah harus dibolongin supaya ada mixing,” jelasnya.

Pada bayi baru lahir, secara alami ada saluran yang biasanya akan menutup setelah bayi mulai bernapas dan menangis. 

Namun pada kasus tertentu, saluran ini justru harus dipertahankan tetap terbuka. Untuk mempertahankan kondisi tersebut, dokter dapat memberikan obat tertentu atau melakukan tindakan seperti pemasangan stent agar aliran darah tetap terjaga.

Baca juga: Penyakit Jantung Bawaan Sering Tak Terdeteksi, PERKI Gelar Skrining Nasional 

Pentingnya Rencana Persalinan di Rumah Sakit

Karena risiko yang tinggi, deteksi PJB sebelum bayi lahir memungkinkan tim medis dan keluarga untuk mempersiapkan persalinan di fasilitas kesehatan yang memadai.

Menurut dr. Oktavia, bayi dengan dugaan PJB kritis sebaiknya lahir di rumah sakit yang memiliki fasilitas NICU (Neonatal Intensive Care Unit) serta dokter spesialis jantung anak.

Dengan persiapan tersebut, tim medis dapat langsung bertindak begitu bayi lahir. Dokter anak, dokter jantung anak, hingga tim NICU sudah bersiaga untuk melakukan evaluasi dan tindakan segera jika diperlukan.

“Begitu anak itu lahir, kita semua sudah prepare,” katanya.

Dalam beberapa kondisi tertentu, bayi bahkan bisa langsung dibawa ke ruang tindakan setelah lahir untuk menjalani intervensi yang diperlukan.

Baca juga: Upaya Menurunkan Risiko Penyakit Jantung Bawaan Sejak Kehamilan

Risiko Jika Terlambat Ditangani

Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia (PERKI) bersama GE HealthCare menggelar skrining Penyakit Jantung Bawaan gratis secara berseri di 27 kota di Indonesia pada 23 Januari hingga 14 Februari 2026. Kegiatan ini menyasar siswa Sekolah Dasar. KOMPAS.com/Aliyah Shifa Rifai Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia (PERKI) bersama GE HealthCare menggelar skrining Penyakit Jantung Bawaan gratis secara berseri di 27 kota di Indonesia pada 23 Januari hingga 14 Februari 2026. Kegiatan ini menyasar siswa Sekolah Dasar. 

Sebaliknya, jika PJB kritis tidak terdeteksi lebih awal dan bayi lahir di fasilitas yang tidak memiliki sarana memadai, risiko keterlambatan penanganan menjadi sangat besar.

Proses rujukan dan transportasi bayi ke rumah sakit yang lebih lengkap bisa memakan waktu berjam-jam, bahkan berhari-hari. Dalam kondisi kritis, keterlambatan tersebut dapat mengancam keselamatan bayi.

“Kalau terlambat, nyari ICU-nya saja sudah susah. Belum lagi transport. Itu bisa jadi mungkin dia enggak survive,” ujar dr. Oktavia.

Maka dari itu, skrining dan pemeriksaan kehamilan yang baik menjadi langkah awal penting untuk mendeteksi kemungkinan kelainan jantung sejak dini.

Baca juga: Studi Terbaru Ungkap 5 Tipe Pola Tidur, Ada yang Berkaitan dengan Depresi dan Penyakit Jantung

Edukasi untuk Orangtua dan Tenaga Kesehatan

Selain mempersiapkan fasilitas persalinan, deteksi dini juga memberi kesempatan bagi dokter untuk memberikan edukasi kepada orangtua mengenai kondisi bayi, kemungkinan tindakan yang diperlukan, hingga peluang keberhasilan.

Dengan informasi yang jelas, keluarga dapat lebih siap secara mental dan memahami langkah-langkah medis yang akan diambil.

Menurut dr. Oktavia, komunikasi juga dilakukan dengan dokter kandungan atau bidan yang menangani persalinan agar tidak terjadi kepanikan ketika bayi lahir dengan kondisi tertentu, seperti tampak kebiruan atau mengalami gangguan pernapasan.

Dengan deteksi lebih awal, koordinasi tim medis menjadi lebih terarah dan penanganan dapat dilakukan lebih cepat.

“Lebih cepat kita deteksi, lebih cepat kita tangani. Anak itu insya Allah hasilnya juga lebih baik,” ujarnya.

Melalui skrining dan pemeriksaan yang tepat selama kehamilan, peluang keselamatan bayi dengan PJB kritis dapat ditingkatkan secara signifikan.

Baca juga: Pola Makan Anak Dibentuk Sejak Kehamilan, Hindari Kesalahan Ini

Tag:  #persalinan #terencana #tingkatkan #keselamatan #bayi #dengan #penyakit #jantung #bawaan

KOMENTAR