Hal yang Perlu Dijaga Pasien Setelah Transplantasi Ginjal
– Banyak orang mengira transplant ginjal berarti sembuh total dari gagal ginjal. Padahal, pasien yang telah menjalani transplantasi tetap harus menjalani pengobatan dan kontrol medis seumur hidup.
Dokter Spesialis Ginjal dan Hipertensi Prof. Dr. dr. Endang Susalit, SpPD-KGH, FINASIM, menjelaskan bahwa ginjal hasil transplantasi merupakan organ dari orang lain yang berfungsi sebagai terapi pengganti, bukan ginjal asli pasien.
“Pasien transplant itu bukan berarti sudah bebas penyakit. Dia masih tetap pasien penyakit ginjal. Itu terapi pengganti, bukan ginjal dia sendiri,” katanya di acara konferensi pers Keberhasilan Pencapaian 500 Transplantasi Ginjal Siloam Hospitals Asri di Jakarta Selatan, Sabtu (14/2/2026).
Baca juga: Pasien Ginjal dengan Nilai Fungsi Ginjal di Bawah 40 Tak Dianjurkan Puasa
Wajib Minum Obat Seumur Hidup
Menurut dr. Endang, karena ginjal berasal dari donor, selalu ada risiko penolakan oleh tubuh penerima.
Bahkan jika donor berasal dari anggota keluarga, organ tersebut tetap dianggap benda asing oleh sistem imun.
“Karena ini ginjal dari orang lain, setiap saat bisa ditolak. Jadi satu-satunya jalan dia harus makan obat seumur hidup,” katanya.
Obat yang dikonsumsi umumnya berupa obat imunosupresan untuk menekan sistem kekebalan tubuh agar tidak menyerang ginjal baru. Meski jumlahnya tidak banyak, disiplin menjadi faktor kunci.
Oleh sebab itu, dr. Endang menegaskan bahwa kepatuhan minum obat menjadi salah satu penentu utama keberhasilan transplantasi dalam jangka panjang.
Baca juga: Penyebab Utama Gagal Ginjal di Indonesia, Bisa Dicegah Sejak Dini
Makanan Tetap Harus Dijaga
Dokter Spesialis Ginjal dan Hipertensi Prof. Dr. dr. Endang Susalit, SpPD-KGH, FINASIM Konsultan sekaligus Ketua Tim Transplantasi Ginjal Siloam Asri dalam acara Keberhasilan Pencapaian 500 Transplantasi Ginjal Siloam Hospitals Asri di Jakarta Selatan, Sabtu (14/2/2026).
Selain disiplin minum obat, pasien transplant juga perlu menjaga pola makan dan kebersihan makanan.
Adapun dr. Endang mengatakan, makanan sebaiknya bersih dan matang untuk mencegah infeksi, mengingat pasien transplant harus mengonsumsi obat yang menekan sistem imun.
“Makanannya harus bersih, matang supaya enggak kena infeksi,” ujarnya.
Selain itu, pasien juga dianjurkan menerapkan pola makan sehat secara umum, seperti membatasi konsumsi gula, garam, dan lemak berlebihan serta menjaga berat badan tetap ideal.
Baca juga: Donor Ginjal di Indonesia Masih Minim, Dokter Ungkap Tantangannya
Menurutnya, prinsipnya tidak jauh berbeda dengan anjuran hidup sehat pada umumnya. Pasien perlu menghindari makanan yang berisiko meningkatkan tekanan darah, kadar gula, maupun kolesterol karena kondisi tersebut dapat memengaruhi fungsi ginjal dalam jangka panjang.
Sejalan dengan hal tersebut, Dokter Spesialis Urologi Prof. Dr. dr. Nur Rasyid, Sp.U(K), menekankan bahwa prinsip makan setelah transplantasi sebenarnya sederhana, yaitu mengurangi makanan manis, asin, dan lemak berlebihan.
“Kalau yang dihindari sudah pasti makanan yang membuat kita tidak sehat. Manis berlebihan, lemak berlebihan, asin berlebihan. Itu saja. Sesederhana itu,” kata dr. Rasyid dalam kesempatan yang sama.
Baca juga: Waspadai Komplikasi Diabetes, Ini Pentingnya Kontrol Gula Darah Menurut Dokter
Kontrol dan Pemeriksaan Seumur Hidup
Dokter Spesialis Urologi, Prof. Dr. dr. Nur Rasyid, Sp.U(K) saat ditemui setelah acara Keberhasilan Pencapaian 500 Transplantasi Ginjal Siloam Hospitals Asri di Jakarta Selatan, Sabtu (14/2/2026).
Selain minum obat dan menjaga pola makan, pasien transplant ginjal juga harus menjalani pemeriksaan laboratorium secara rutin.
Menurut dr. Rasyid, pada awal setelah transplantasi, kontrol bisa dilakukan setiap minggu atau dua minggu sekali.
Baca juga: Gagal Ginjal Akut pada Anak, Apa Bisa Sembuh? Simak Jawaban Dokter
Jika kondisi stabil, jarak kontrol akan makin panjang. Namun, pemeriksaan tetap dilakukan seumur hidup.
“Minum obatnya seumur hidup, diperiksa labnya seumur hidup,” tutur dr. Rasyid.
Pemeriksaan rutin ini bertujuan memantau fungsi ginjal serta mendeteksi dini tanda-tanda penolakan atau komplikasi lain.
Meski tidak berarti sembuh total, transplantasi ginjal tetap memberikan kualitas hidup yang jauh lebih baik dibandingkan terapi cuci darah jangka panjang.
Dr. Endang menjelaskan bahwa transplantasi umumnya dipertimbangkan ketika fungsi ginjal sudah sangat menurun, bahkan sebelum pasien rutin menjalani cuci darah.
Di samping itu, dr. Rasyid menambahkan bahwa pasien dengan fungsi ginjal di bawah 15 persen sebaiknya mulai mencari donor hidup, meski belum menjalani cuci darah.
Baca juga: Syarat untuk Jadi Donor Ginjal Hidup di Indonesia, Ini Kriterianya
Menurut dr. Endang, transplantasi yang dilakukan lebih awal dapat memberikan perbaikan kondisi yang signifikan. Pasien biasanya akan merasa lebih bugar dibanding melakukan cuci darah.
Meski demikian, keberhasilan jangka panjang tetap sangat bergantung pada kedisiplinan pasien dalam menjalani pengobatan, kontrol, dan menjaga gaya hidup sehat.
Dengan pemahaman yang tepat, pasien transplant dapat menjalani kehidupan aktif selama bertahun-tahun, asalkan tetap menyadari bahwa ginjal tersebut perlu dirawat secara disiplin.
Baca juga: Dokter Sebut Orang yang Donor Ginjal Bisa Hidup Lebih Sehat, Ini Tipsnya…
Tag: #yang #perlu #dijaga #pasien #setelah #transplantasi #ginjal