Laporan EY: Investasi Ekuitas Swasta Asia Tenggara Turun, Indonesia Justru Dilirik
Ilustrasi investasi. (PIXABAY)
13:04
19 Februari 2026

Laporan EY: Investasi Ekuitas Swasta Asia Tenggara Turun, Indonesia Justru Dilirik

- Investasi ekuitas swasta di Asia Tenggara mengalami penurunan pada 2025, seiring sikap investor yang semakin selektif dalam menempatkan modalnya, termasuk di Indonesia yang kini mulai bergeser ke sektor konsumer, kesehatan, dan jasa keuangan.

Fakta ini berdasarkan laporan "EY Southeast Asia Private Equity Pulse 2025: Year-in-review", yang mengulas aktivitas investasi PE dan pergerakan modal di berbagai sektor utama di kawasan sepanjang Januari hingga Desember 2025.

Luke Pais, EY-Parthenon Asean Private Equity Leader, mengatakan, meskipun 2025 dibuka dengan aktivitas kuat pada kuartal pertama, volatilitas geopolitik dan kekhawatiran mengenai potensi tarif AS membuat sentimen investor lebih berhati-hati pada kuartal kedua.

“Namun, aktivitas investasi PE kembali meningkat pada kuartal ketiga, yang menjadi periode penyebaran paling aktif di tahun 2025,” kata Pais, melalui keterangan pers, Kamis (19/2/2026).

Sepanjang 2025, tercatat sebanyak 9,1 miliar dollar AS atau sekitar Rp 142,87 triliun (kurs Rp 15.700) diinvestasikan dalam 59 transaksi yang didukung PE. Angka ini turun dari 16 miliar dollar AS atau sekitar Rp 251,2 triliun melalui 67 transaksi pada tahun sebelumnya.

Baca juga: Perusahaan RI dan AS Teken Kerja Sama Dagang dan Investasi 7 Miliar Dollar AS

Infrastruktur Digital Masih Dominan

Penurunan tersebut setara dengan kontraksi tahunan sebesar 43 persen dari sisi nilai transaksi dan 12 persen dari sisi volume. Hal ini juga tercermin dari berkurangnya jumlah transaksi megadeals di atas 1 miliar dollar AS.

Secara keseluruhan, hanya terdapat empat megadeals pada 2025, turun dari delapan transaksi pada tahun sebelumnya. Nilai transaksi rata-rata pun turun menjadi 267 juta dollar AS atau sekitar Rp 4,19 triliun, dari 356 juta dollar AS pada tahun lalu.

Dari sisi sektor, infrastruktur, terutama infrastruktur digital, menyumbang 42 persen dari total investasi PE. Sektor ini diikuti oleh telekomunikasi sebesar 12 persen, real estat sebesar 10 persen, serta energi sebesar 10 persen.

Baca juga: Ekonomi Thailand 2025 Tumbuh 2,4 Persen, Ditopang Investasi dan Pariwisata

Indonesia Dilirik di Sektor Konsumer dan Kesehatan

Di Indonesia sendiri, aktivitas transaksi dalam setahun terakhir justru lebih banyak terjadi di sektor yang berorientasi pada konsumen, layanan kesehatan, dan jasa keuangan.

Pergeseran ini mencerminkan preferensi investor terhadap sektor dengan visibilitas permintaan yang lebih jelas serta fundamental domestik yang kuat.

EY-Parthenon Indonesia Strategy and Transactions Partner Oki Stefanus mengatakan, sektor konsumen Indonesia terus menarik minat karena kuatnya konsumsi domestik dan besarnya populasi kelas menengah.

“Di sektor kesehatan, investor merespons rendahnya penetrasi, meningkatnya cakupan asuransi, serta permintaan layanan yang lebih berkualitas,” ujar Oki.

Ia menambahkan, sektor jasa keuangan juga dinilai masih menyimpan potensi pertumbuhan besar.

“Rendahnya penetrasi perbankan dan kredit, ditambah dengan adopsi digital yang cepat terus menciptakan peluang pertumbuhan yang sangat besar,” kata Oki.

Di sisi divestasi, Asia Tenggara mencatat 33 kesepakatan dengan nilai total mencapai 4,4 miliar dollar AS atau sekitar Rp 69,08 triliun pada 2025, dengan peningkatan volume sebesar 18 persen secara tahunan.

Pais menuturkan, lanskap PE di Asia Tenggara kini semakin berfokus pada ketahanan di tengah ketidakpastian ekonomi global.

“Pasar bergerak menuju PE berbasis value creation, dengan sponsor yang mengejar control lebih besar, peningkatan operasional, dan kesiapan exit,” ujarnya.

Selain itu, kawasan Asia Tenggara juga mencatat 10 penutupan dana PE pada 2025 dengan total penggalangan dana sebesar 4,6 miliar dollar AS atau sekitar Rp 72,22 triliun, meningkat 97 persen secara tahunan.

Tag:  #laporan #investasi #ekuitas #swasta #asia #tenggara #turun #indonesia #justru #dilirik

KOMENTAR