Siap-siap Harga Hard Disk, Router, STB Naik Imbas Krisis Memori Global
- Efek dari krisis memori global akibat lonjakan kebutuhan industri Artificial Intelligence (AI) turut memengaruhi stok dan harga dari perangkat lain. Laporan terbaru menunjukkan harga Hard Disk (HDD), router, dan Set Top Box (STB) terancam naik.
Kebutuhan memori untuk menunjang server AI yang meningkat menyebabkan kelangkaan dan membuat harga komponen memori, terutama jenis DRAM dan NAND, ikut meroket. Harga DRAM dan NAND terpantau naik lebih dari 600 persen dalam setahun terakhir.
Baca juga: Penyebab Harga RAM Meroket di Berbagai Negara, Termasuk Indonesia
Dengan kenaikan harga tersebut, sejumlah perangkat elektronik, termasuk HDD, router, dan STB, yang menggunakan komponen memori turut terkena imbasnya.
Harga router dan STB terancam naik
Ilustrasi router WiFi.
Menurut laporan dari lembaga riset pasar Counterpoint Research yang dirilis pekan lalu, dampak lonjakan harga memori paling terasa di segmen perangkat konsumen, seperti PC entry-level, smartphone, router, hingga STB.
Dari berbagai perangkat konsumen itu, perangkat yang paling terdampak adalah perangkat broadband seperti router dan STB. Dalam sembilan bulan terakhir, Counterpoint mencatat, harga memori untuk perangkat broadband naik jauh lebih tinggi dari smartphone.
Harga memori untuk smartphone "hanya" naik tiga kali lipat, sedangkan memori untuk perangkat broadband naik hampir tujuh kali lipat. Kenaikan ini berdampak signifikan terhadap biaya produksi.
Riset Counterpoint menunjukkan bahwa harga RAM untuk perangkat broadband seperti router dan STB melonjak tujuh kali lipat dalam sembilan bulan terakhir. Ini lebih tinggi dibanding harga RAM untuk smartphone yang naik tiga kali lipat dalam periode yang sama.
Riset Counterpoint menunjukkan bahwa harga RAM untuk perangkat broadband seperti router dan STB melonjak tujuh kali lipat dalam sembilan bulan terakhir. Ini lebih tinggi dibanding harga RAM untuk smartphone yang naik tiga kali lipat dalam periode yang sama.
Menurut riset Counterpoint, jika setahun lalu kontribusi memori hanya sekitar 3 persen dari total biaya material (bill of materials/BOM) router, kini porsinya melonjak menjadi lebih dari 20 persen, terutama pada router kelas bawah dan menengah.
Dalam laporan Memory Price Tracker tersebut, Counterpoint mengatakan bahwa kenaikan harga ini diperkirakan terjadi hingga Juni 2026. Meski harga puncak berpeluang terjadi pada paruh pertama 2026, kendala pasokan diprediksi masih akan membayangi pasar.
Kenaikan tajam ini membuat produsen perangkat (OEM) dengan daya tawar lemah berada dalam posisi paling rentan.
Kondisi ini menjadi alarm bagi perusahaan telekomunikasi yang tengah menargetkan ekspansi layanan broadband secara agresif pada 2026, baik berbasis fiber maupun fixed wireless access (FWA).
Ketersediaan perangkat pelanggan seperti router, customer premises equipment (CPE), dan STB bisa terhambat, sementara biaya pengadaannya ikut meningkat.
Baca juga: Siap-siap, Tahun Depan Harga HP Bakal Makin Mahal dan Cuma Dapat RAM Kecil
Apalagi, operator telekomunikasi juga mulai mendorong penggunaan CPE berbasis AI untuk layanan fixed broadband maupun wireless broadband.
Perangkat semacam ini membutuhkan kapasitas komputasi dan memori yang lebih besar, sehingga tekanan biaya berpotensi makin tinggi.
"Penting bagi perusahaan telekomunikasi untuk memantau dinamika harga ini dengan cermat, mengidentifikasi OEM mana yang telah mengamankan pasokan yang cukup, dan melacak biaya BOM dan tren harga yang diperbarui," tulis Counterpoint, sebagaimana dikutip KompasTekno.
HDD mulai langka, harga bakal naik
Ilustrasi hard disk drive (HDD)
HDD kini mulai langka. Produsen media penyimpanan (storage) PC Western Digital (WD) mengungkap, produksi HDD mereka untuk tahun 2026 hampir seluruhnya sudah habis terjual, yang diungkap langsung oleh CEO Western Digital, Irving Tan.
“Pada dasarnya (stok HDD) kami sudah hampir sold out (ludes) untuk tahun kalender 2026. Kami memiliki purchase order tetap dari tujuh pelanggan terbesar kami,” kata Irving Tan dalam paparan kinerja kuartal kedua 2026 perusahaan.
Tak hanya itu, Western Digital juga sudah menandatangani perjanjian jangka panjang untuk 2027 dan bahkan 2028 dengan beberapa pelanggan besar. Kontrak tersebut mencakup volume penyimpanan dalam skala exabyte serta kesepakatan harga.
Berdasarkan data perusahaan, sekitar 89 persen pendapatan Western Digital kini berasal dari segmen cloud dan enterprise. Sementara kontribusi pasar konsumen hanya tersisa sekitar 5 persen.
Artinya, mayoritas kapasitas produksi kini dialokasikan untuk hyperscaler dan penyedia layanan cloud yang tengah membangun infrastruktur AI dalam skala masif. Tak cuma GPU, AI juga butuh penyimpanan data yang murah dan efisien.
Sebab, AI membutuhkan data dalam jumlah sangat besar, mulai dari data pelatihan, log inferensi, cadangan sistem, hingga data hasil scraping web.
Hard disk drive tetap menjadi pilihan utama untuk penyimpanan cold dan warm data (data yang jarang diakses atau sesekali diakses tapi harus disimpan) karena lebih murah dari sisi biaya per terabyte, bila dibandingkan dengan SSD yang unggul dari sisi kecepatan.
Industri HDD saat ini hanya didominasi tiga pemain besar secara global, yakni Seagate Technology, Western Digital (WD), and Toshiba. Menurut laporan Igors Lab, kapasitas produksi tidak bisa ditingkatkan secara instan karena butuh investasi besar dan waktu panjang.
Di sisi lain, pembangunan pusat data AI terus dipercepat, terutama di Amerika Serikat dan kawasan lain. Kombinasi ini menciptakan tekanan pasokan yang tak terhindarkan.
Secara teori ekonomi, ketika kapasitas terikat kontrak jangka panjang dan permintaan terus naik, harga media penyimpanan berbasis piringan magnetik yang berputar ini cenderung terdorong naik alias makin mahal.
Pembeli yang tidak memiliki kontrak jangka panjang kemungkinan harus membeli dengan harga pasar atau spot price yang lebih tinggi, sebagaimana dihimpun KompasTekno dari WCCF Tech.
Situasi ini bisa berdampak tidak langsung ke pasar konsumen. Jika kapasitas lebih banyak diserap enterprise, ketersediaan HDD untuk PC, server kecil, hingga kebutuhan pengguna rumahan bisa menyusut dan harganya ikut terkerek.
Baca juga: Toko Elektronik Akibahara “Ngemis” PC Bekas ke Pelanggan
Skenario dampaknya, konsumen yang membeli produk jadi seperti PC prebuilt, laptop gaming, atau perangkat penyimpanan jaringan, bisa merasakan harga yang lebih mahal atau kapasitas storage yang dipangkas agar harga tetap kompetitif.
Sementara bagi penggemar "rakit PC" dan kreator konten yang membutuhkan kapasitas besar, kenaikan harga HDD akan langsung memengaruhi total biaya pembuatan.
Dapatkan update berita teknologi dan gadget pilihan setiap hari. Mari bergabung di Kanal WhatsApp KompasTekno. Caranya klik link https://whatsapp.com/channel/0029VaCVYKk89ine5YSjZh1a. Anda harus install aplikasi WhatsApp terlebih dulu di ponsel.
Tag: #siap #siap #harga #hard #disk #router #naik #imbas #krisis #memori #global