Mengenal Rabu Abu: Alasan di Balik Simbol Salib Abu di Dahi dan Awal Masa Prapaskah
- Gereja Katolik memiliki banyak agenda atau perayaan yang dapat kita lihat di Kalender Liturgi mereka. Masyarakat umum biasanya mengenal salah satu perayaan besar mereka yang sudah sangat dekat, yaitu Paskah.
Masa Prapaskah atau persiapan menyambut Hari Paskah akan diawali dengan Rabu Abu. Pada hari ini, para umat Katolik akan memulai puasa dan pantang mereka. Misa Rabu Abu dilaksanakan pada Rabu (18/2).
Sejarah
Dilansir dari Ensiklopedia Britannica, pada awal sejarah gereja Kristen, periode pantang ini berbeda-beda.
Namun pada akhirnya dicapai kesepakatan dimana pantang akan berlangsung selama 6 minggu (42 hari) sebelum Paskah. Atau 36 hari berpantang, setelah dikurangi setiap hari Minggunya.
Pada abad ke-7, empat hari ditambahkan sebelum hari Minggu Prapaskah Pertama, dengan begitu hari pantang genap 40 hari. Mengikuti jumlah hari Yesus berpuasa di padang gurun.
Praktek ini dimulai dari Roma, dimana para umat memulai masa penitensi mereka pada hari pertama Prapaskah, serta mempersiapkan diri untuk memperbarui sakramen ekaristi mereka.
Mereka akan ditaburi dengan abu, mengenakan baju dari kain karung, dan diwajibkan untuk tinggal berpisah sampai mereka dipersatukan kembali pada Kamis Putih.
Praktek itu ditinggalkan pada sekitar abad ke 8 hingga 10, dan digantikan dengan hanya menaburkan abu di kepala seluruh jemaat.
Dilansir dari Catholic.org, abu juga menjadi lambang duka, lebih tepatnya duka karena mereka telah melakukan dosa dan perpecahan dari Tuhan. Ini ditemukan pada dokumentasi gereja sejak abad kedua.
Abu ini didapatkan dari sisa pembakaran daun palma kering yang digunakan pada hari Minggu Palma tahun sebelumnya.
Semua orang dapat menerima abu ini, bahkan non-Kristen dan mereka yang diekskomunikasi oleh gereja.
Abu dan Pertobatan
Dilansir dari Dynamic Catholic, pada misa Rabu Abu, para umat akan diberkati dengan abu di dahi mereka. Abu ini menjadi simbol bahwa kita harus bertobat.
Dalam Matius 3:2, Yohanes Pembaptis berkata: "Bertobatlah, sebab Kerajaan Sorga sudah dekat!" Yesus Kristus juga mengulangi khotbah tersebut pada bab selanjutnya (Mat 4:17).
Bertobat disini berarti "kembalilah kepada Tuhan." Kita tentunya sering mengalami hal-hal yang membuat kita memalingkan diri dari-Nya.
Ini bukan mengenai rasa bersalah dan bukanlah sesuatu yang unik, justru biasa terjadi. Yang diinginkan dari Tuhan hanyalah diri kita yang baru ketika kembali kepada-Nya.
Penerimaan abu ini bukan bagian dari tujuh sakramen gereja, sehingga tidak mewajibkan para umat Katolik untuk menerimanya. Abu ini hanya menjadi "memento mori", pengingat bahwa "kita berasal dari abu, dan akan kembali menjadi abu."
Bagaimana Para Umat Melaksanakannya
Beberapa umat bahkan mengambil cuti dan diam di rumah pada hari pertama berpuasa ini agar dapat melaksanakan penitensi mereka dengan baik.
Pada umumnya dianggap kurang pantas untuk beraktivitas setelah menerima abu, seperti makan di restoran, berbelanja, bahkan aktivitas di luar ruangan.
Para umat tidak diwajibkan untuk mempertahankan abu tersebut, mereka dapat menghapusnya setelah misa. Tapi banyak pula umat yang tetap menjaga abu tersebut hingga malam hari.
Pada beberapa kasus, pastor dapat mengirimkan abu ke rumah untuk mereka yang sakit atau tidak dapat meninggalkan rumah mereka.
Tag: #mengenal #rabu #alasan #balik #simbol #salib #dahi #awal #masa #prapaskah