Fenomena Baru di Jepang: Catat Laba, Perusahaan Malah Pangkas Karyawan
Ilustrasi pemandangan di Tokyo, Jepang. (PEXELS/EHSAN HAQUE)
16:12
19 Februari 2026

Fenomena Baru di Jepang: Catat Laba, Perusahaan Malah Pangkas Karyawan

- Di Jepang, pemutusan hubungan kerja (PHK) selama puluhan tahun identik dengan perusahaan yang merugi atau tengah menghadapi krisis. Namun, lanskap tersebut kini berubah.

Sejumlah perusahaan besar yang mencatat keuntungan justru memangkas tenaga kerja, termasuk melalui program pensiun dini dan pengunduran diri sukarela.

Fenomena ini mencerminkan pergeseran mendasar dalam strategi bisnis perusahaan Jepang, terutama di tengah percepatan inovasi teknologi dan meningkatnya persaingan global.

Baca juga: IMF Desak Jepang Terus Naikkan Suku Bunga dan Tahan Pemangkasan Pajak

Ilustrasi suasana di kota Tokyo, Jepang.UNSPLASH/JEZAEL MELGOZA Ilustrasi suasana di kota Tokyo, Jepang.

Bukan lagi sekadar langkah darurat untuk menyelamatkan perusahaan dari kerugian, pemangkasan tenaga kerja kini menjadi bagian dari strategi restrukturisasi untuk menopang pertumbuhan jangka panjang.

Perubahan ini juga mengindikasikan pergeseran dalam budaya kerja Jepang, yang selama ini dikenal dengan sistem kerja jangka panjang atau seumur hidup.

Restrukturisasi meski kinerja keuangan kuat

Salah satu contoh terbaru datang dari Mitsubishi Electric Corp. 

Dikutip dari Japan Times, Kamis (19/2/2026), perusahaan tersebut menawarkan program pensiun sukarela kepada karyawan berusia 53 tahun ke atas antara Desember 2025 dan Januari 2026.

Baca juga: Ekonomi Tumbuh 0,1 Persen, Jepang Terhindar dari Resesi Teknikal

Kelompok usia tersebut mencakup sekitar seperempat dari total tenaga kerja perusahaan.

Sebanyak 2.378 karyawan mengajukan diri untuk mengikuti program tersebut. Program serupa juga diterapkan di perusahaan-perusahaan afiliasi Mitsubishi Electric di Jepang, dengan total jumlah pelamar diperkirakan mencapai sekitar 4.700 orang di seluruh grup.

Ilustrasi pemandangan kota Tokyo, Jepang. Ekonomi Jepang turun 1,8 persen secara tahunan (year on year/yoy) pada kuartal III-2025. Penurunan ini lebih kecil dari perkiraan, dengan konsumsi pemerintah dan swasta membantu menahan pelemahan.PIXABAY/SOFIA TERZONI Ilustrasi pemandangan kota Tokyo, Jepang. Ekonomi Jepang turun 1,8 persen secara tahunan (year on year/yoy) pada kuartal III-2025. Penurunan ini lebih kecil dari perkiraan, dengan konsumsi pemerintah dan swasta membantu menahan pelemahan.

Langkah ini dilakukan bukan karena tekanan finansial. Untuk tahun fiskal yang berakhir pada Maret 2026, Mitsubishi Electric justru memperkirakan akan mencatat laba bersih konsolidasi tertinggi dalam sejarah perusahaan.

Presiden Mitsubishi Electric Kei Uruma mengatakan perusahaan perlu mempersiapkan sumber daya manusia yang sesuai dengan tantangan bisnis ke depan, terutama terkait transformasi digital.

Baca juga: Pertumbuhan Ekonomi Jepang Melemah di Akhir 2025, Konsumsi Masih Tertekan

“Kami harus memanfaatkan personel yang mampu menghadapi tantangan ini,” ujar Uruma.

Dalam jangka panjang, Mitsubishi Electric menghadapi tantangan untuk memperluas layanan digital di luar bisnis perangkat keras tradisionalnya.

Hal ini menuntut perubahan komposisi tenaga kerja agar selaras dengan kebutuhan teknologi baru.

Langkah serupa juga dilakukan oleh perusahaan besar Jepang lainnya.

Baca juga: Yen Menguat Usai Kemenangan Takaichi, Pasar Cermati Arah Fiskal Jepang

Panasonic Holdings Corp diperkirakan akan mengurangi sekitar 12.000 pekerja secara grup melalui program pensiun dini. Meski demikian, perusahaan tersebut tetap memperkirakan kinerja keuangan yang positif.

Olympus Corp, produsen peralatan medis dan optik, juga berencana memangkas sekitar 2.000 pegawai. Sama seperti Panasonic dan Mitsubishi Electric, Olympus diperkirakan tetap mencatat laba.

Fenomena ini menunjukkan pemangkasan tenaga kerja kini bukan lagi indikator kesulitan keuangan, melainkan bagian dari strategi restrukturisasi yang dirancang untuk meningkatkan efisiensi dan mendukung pertumbuhan di masa depan.

Mayoritas perusahaan yang pangkas karyawan justru untung

Data dari Tokyo Shoko Research memperkuat gambaran perubahan tersebut. Menurut lembaga riset itu, sebanyak 43 perusahaan tercatat di Jepang menawarkan program pensiun dini atau pengunduran diri sukarela sepanjang tahun lalu.

Ilustrasi pensiun. Banyak pensiunan masih mengandalkan sokongan keluarga untuk kebutuhan sehari-hari.
SHUTTERSTOCK/polymanu Ilustrasi pensiun. Banyak pensiunan masih mengandalkan sokongan keluarga untuk kebutuhan sehari-hari.

Baca juga: Investor Jepang Masih Nilai Indonesia Tujuan Strategis, Meski Investasi Turun

Dari jumlah tersebut, sekitar 70 persen merupakan perusahaan yang mencatatkan keuntungan.

Angka ini menunjukkan pemangkasan tenaga kerja kini menjadi alat strategis bagi perusahaan yang sehat secara finansial, bukan lagi sekadar upaya bertahan di tengah kerugian.

Perusahaan-perusahaan ini memanfaatkan restrukturisasi tenaga kerja untuk memperbaiki komposisi karyawan, meningkatkan efisiensi, dan memastikan keberlanjutan pertumbuhan di tengah perubahan teknologi yang cepat.

Dampak percepatan inovasi teknologi

Percepatan inovasi teknologi, terutama di sektor manufaktur, menjadi salah satu faktor utama di balik tren ini.

Baca juga: Rekor Baru, Jumlah Pekerja Asing di Jepang 2,57 Juta Orang pada 2025

Koji Hayashi, principal di divisi riset dan konsultasi Japan Research Institute, mengatakan perubahan teknologi memaksa perusahaan untuk menyesuaikan struktur tenaga kerja dengan cepat.

“Inovasi teknologi berlangsung cepat di sektor manufaktur,” ujar Hayashi.

“Jika perusahaan tidak mengganti pekerja lama dengan pekerja baru secara cepat, mereka akan menghadapi masalah," imbuhnya.

Perusahaan membutuhkan tenaga kerja dengan keterampilan baru, terutama di bidang digital, otomatisasi, dan teknologi canggih lainnya.

Baca juga: Ekspor Pertanian Jepang 2025 Rp 176,8 Triliun, Rekor 13 Tahun Beruntun

Dalam banyak kasus, hal ini berarti mengganti sebagian tenaga kerja lama dengan tenaga kerja baru yang memiliki keterampilan yang lebih sesuai dengan kebutuhan masa depan.

Hayashi memperkirakan tren pemangkasan tenaga kerja oleh perusahaan yang mencatat laba akan terus berlanjut.

Ilustrasi suasana di kota Tokyo, Jepang.UNSPLASH/JEZAEL MELGOZA Ilustrasi suasana di kota Tokyo, Jepang.

Hal ini mencerminkan perubahan struktural dalam cara perusahaan Jepang mengelola sumber daya manusia.

Pergeseran dari sistem kerja seumur hidup

Selama beberapa dekade, Jepang dikenal dengan sistem kerja seumur hidup, di mana karyawan bekerja untuk satu perusahaan sepanjang karier mereka. Sistem ini menciptakan stabilitas tenaga kerja dan loyalitas yang tinggi.

Baca juga: Jepang Jajaki Peluang Investasi di Indonesia, Nilai Iklim Usaha 2026 Lebih Kondusif

Namun, sistem tersebut kini mulai mengalami perubahan.

Menurut Hayashi, salah satu faktor utama di balik perubahan ini adalah meningkatnya persaingan dengan perusahaan asing.

Perusahaan global cenderung lebih agresif dalam menyesuaikan tenaga kerja untuk menjaga daya saing dan efisiensi. Hal ini memaksa perusahaan Jepang untuk mengadopsi pendekatan yang lebih fleksibel.

Hayashi juga mencatat meningkatnya penerapan sistem berbasis pekerjaan, atau job-based employment system.

Baca juga: Ekspor Tuna Indonesia ke Jepang Bebas Tarif, Ini Syaratnya

Dalam sistem ini, gaji dan posisi karyawan ditentukan berdasarkan peran dan tanggung jawab yang jelas, bukan berdasarkan masa kerja atau senioritas.

Sistem ini berbeda dengan model tradisional Jepang, di mana kenaikan gaji dan promosi sering kali didasarkan pada senioritas dan loyalitas jangka panjang.

Perubahan ini memungkinkan perusahaan untuk menyesuaikan tenaga kerja dengan kebutuhan bisnis secara lebih fleksibel.

Program pensiun sukarela dan tantangannya

Ilustrasi pensiun. Tips menyiapkan dana pensiun. Dana pensiun. Dana hari tua. Cara mengumpulkan dana hari tua.SHUTTERSTOCK/TIMESHOPS Ilustrasi pensiun. Tips menyiapkan dana pensiun. Dana pensiun. Dana hari tua. Cara mengumpulkan dana hari tua.

Program pensiun sukarela menjadi salah satu alat utama yang digunakan perusahaan untuk mengurangi tenaga kerja tanpa melakukan pemutusan hubungan kerja secara paksa.

Baca juga: India Geser Jepang, Kini Jadi Ekonomi Terbesar Keempat di Dunia

Banyak perusahaan menawarkan paket kompensasi yang menarik, termasuk peningkatan tunjangan pensiun, untuk mendorong karyawan mengikuti program tersebut.

Namun, program ini tidak selalu diterima dengan baik oleh semua karyawan.

Meskipun pasar tenaga kerja bagi pekerja yang lebih tua menjadi lebih dinamis, banyak dari mereka menghadapi kesulitan dalam menemukan pekerjaan baru yang sesuai dengan keinginan atau pengalaman mereka.

Perubahan ini menciptakan tantangan baru bagi tenaga kerja Jepang, terutama bagi pekerja senior yang selama ini mengandalkan stabilitas pekerjaan jangka panjang.

Baca juga: Bank Sentral Jepang Siap Naikkan Suku Bunga ke Level Tertinggi dalam 30 Tahun

Pentingnya transparansi dan dukungan bagi karyawan

Di tengah tren restrukturisasi ini, para ahli menekankan pentingnya komunikasi yang jelas antara perusahaan dan karyawan.

Hayashi mengatakan perusahaan perlu memberikan penjelasan yang memadai mengenai alasan di balik program pensiun sukarela, serta memberikan dukungan kepada karyawan yang meninggalkan perusahaan.

“Penting bagi perusahaan untuk menjelaskan secara penuh mengapa mereka menerapkan program pensiun sukarela, sambil menawarkan bantuan yang memadai kepada mereka yang keluar untuk menemukan pekerjaan baru,” tutur Hayashi.

Langkah ini penting untuk menjaga kepercayaan karyawan dan memastikan transisi yang lebih mulus bagi tenaga kerja yang terdampak.

Baca juga: MUFG dan Danantara Dorong Kolaborasi Investasi Jepang–Indonesia

Restrukturisasi sebagai strategi pertumbuhan

Salah satu sudut kota Tokyo JepangAP PHOTO / SHIZUO KAMBAYASHI Salah satu sudut kota Tokyo Jepang

Fenomena perusahaan yang mencatat keuntungan namun tetap memangkas tenaga kerja mencerminkan perubahan mendasar dalam strategi bisnis di Jepang.

Perusahaan tidak lagi menunggu hingga mengalami kerugian untuk melakukan restrukturisasi. Sebaliknya, mereka mengambil langkah proaktif untuk memastikan bahwa tenaga kerja mereka selaras dengan kebutuhan masa depan.

Transformasi digital, otomatisasi, dan perubahan model bisnis memaksa perusahaan untuk terus menyesuaikan diri.

Restrukturisasi tenaga kerja menjadi salah satu cara untuk memastikan bahwa perusahaan memiliki kombinasi keterampilan yang tepat untuk bersaing di era baru.

Baca juga: Wafer dan Biskuit Indonesia Tembus Pasar Jepang

Fenomena ini juga menandai pergeseran dalam budaya kerja Jepang, yang selama ini dikenal dengan stabilitas dan loyalitas jangka panjang.

Perubahan tersebut mencerminkan adaptasi perusahaan Jepang terhadap dinamika ekonomi global dan percepatan inovasi teknologi, yang mengharuskan fleksibilitas yang lebih besar dalam pengelolaan tenaga kerja.

Tag:  #fenomena #baru #jepang #catat #laba #perusahaan #malah #pangkas #karyawan

KOMENTAR