Tidak Sekadar Datang, Mahasiswa Rela Berkotor-Kotor Bantu Petani Pulih Setelah Bencana Banjir Bandang
Kondisi alur sungai usai diterjang banjir bandang di Batu Busuk, Padang, Sumatera Barat, Jumat (19/12/2025). (Kurniawan Mas'ud/ PFI Tangerang)
14:16
19 Februari 2026

Tidak Sekadar Datang, Mahasiswa Rela Berkotor-Kotor Bantu Petani Pulih Setelah Bencana Banjir Bandang

- Dampak dari bencana banjir bandang (galodo) pada akhir November 2025 lalu masih dialami masyarakat Sumatera Barat (Sumbar), khususnya di Kecamatan Koto Tangah, Kota Padang. Di sana, para petani dan peternak selain mengalami kerusakan rumah terkendala berat untuk bangkit dalam usaha mereka.

Para petani dan peternak di dua kelurahan, Lubuk Minturun dan Sungai Lareh, mengalami lahan pertanian mereka ketika itu tertimbun lumpur banjir bandang dan akses irigasi terganggu. Begitu dengan peternak sapi dan kambing mengalami penurunan produktivitas.

Atas kendala itu, Universitas Andalas (Unand) Kota Padang menurunkan tim pemulihan dari Program Mahasiswa Berdampak Fakultas Peternakan. Tim itu diketuai Fitrimawati. Dia melibatkan dua dosen dari Fakultas Peternakan dan 50 mahasiswa lintas departemen di Fakultas Peternakan sebagai pelaksana lapangan.

Fitrimawati mengatakan, timnya melibatkan dua kelompok mitra utama dalam Program Mahasiswa Berdampak. Yaitu, Kelompok Tani Harapan Nan Duo Puluah dan Kelompok Wanita Tani Lubuk Ramang. Masing-masing kelompok tani beranggotakan sekitar 20 orang. Sebagian anggota memelihara sapi potong dan sebagian lainnya mengembangkan usaha ternak kambing skala kecil.

"Pascabencana, mereka menghadapi berbagai persoalan, mulai dari keterbatasan pakan, manajemen usaha yang masih tradisional, hingga belum optimalnya pengelolaan limbah ternak," ungkap Fitrimawati kepada JawaPos.com pada Kamis (19/2).

Adapun kehadiran tim Program Mahasiswa Berdampak melakukan pendekatan pemberdayaan berbasis sistem usaha tani terpadu. Pendekatan itu terintegrasi antara peternakan, pertanian dan pengelolaan limbah ternak.

Fitrimawati menjelaskan, mahasiswa bersama tim dosen memperkenalkan sistem agrosilvopastural, yaitu integrasi tanaman pangan, tanaman kehutanan, dan peternakan dalam satu kawasan lahan. Berbagai hijauan pakan seperti rumput gajah, odot, lamtoro, dan indigofera ditanam secara terpadu. Pakan itu ditanam dengan tanaman pangan seperti jagung, kacang panjang, dan singkong.

Sistem itu bertujuan menjamin ketersediaan pakan sepanjang tahun serta memperbaiki kesuburan tanah pascabanjir. Selain itu, diterapkan teknologi pakan fermentasi (silase) untuk mengatasi fluktuasi ketersediaan hijauan.

Upaya pemulihan tidak berhenti pada penyediaan pangan, pakan dan perbaikan lahan. Tim mahasiswa melihat, tumpukan limbah ternak yang sebelumnya dianggap persoalan justru dapat menjadi sumber pendapatan baru bagi kelompok. "Mahasiswa memperkenalkan sistem produksi pupuk organik terstandar menggunakan mesin penggiling pupuk organik," terangnya.

Sementara itu, mahasiswa membantu mendesain merek dan kemasan agar memiliki daya tarik pasar. Produk pupuk kini memiliki identitas dan nilai jual yang lebih tinggi dibandingkan sebelumnya.

Media sosial mulai digunakan untuk promosi produk pupuk organik dan ternak. Konten dibuat secara kreatif oleh mahasiswa sehingga dapat memperluas jangkauan pasar hingga luar wilayah Lubuk Minturun.

Imana Martaguri, dosen dari tim Program Mahasiswa Berdampak, menambahkan bahwa dalam kurun waktu satu bulan, timnya sudah mampu memberikan hasil yang terukur. Yakni, demplot agrosilvopastura mulai dimanfaatkan sebagai sumber ekonomi anggota, dan sumber hijauan pakan ternak. Pakan fermentasi tersedia secara rutin setiap dua minggu. Produk pupuk organik telah dikemas dan mulai dipasarkan ke toko pertanian serta pelaku usaha tanaman hias di wilayah Lubuk Minturun.

"Kami tidak hanya berorientasi pada kegiatan jangka pendek, tetapi juga pada keberlanjutan usaha masyarakat. Tim pelaksana Universitas Andalas berkomitmen untuk terus melakukan pendampingan dan evaluasi agar model pemberdayaan ini dapat berkembang menjadi usaha kelompok yang mandiri dan berdaya saing," beber Imana Martaguri.

Imana menyebut, mahasiswa tidak datang sebentar lalu pergi tanpa jejak. Mereka bekerja, berkotor-kotor, dan memastikan kelompok tani mampu menjalankan semua proses secara mandiri sebelum program berakhir.

Program Mahasiswa Berdampak ini tidak hanya dirancang sebagai upaya pemberdayaan masyarakat saja, tetapi juga menjadi ruang belajar nyata bagi mahasiswa sebagai bentuk penerapan metode Project Based Learning (PjBL). Program yang diikuti puluhan mahasiswa ini selesai akhir Februari 2026.

ini menjadi bukti bahwa perguruan tinggi memiliki peran strategis dalam pemulihan bencana dan pembangunan masyarakat. Melalui integrasi ilmu pengetahuan, teknologi tepat guna dan semangat pengabdian, mahasiswa tidak hanya belajar, tetapi juga memberi dampak nyata bagi masyarakat. (*)

Editor: Ilham Safutra

Tag:  #tidak #sekadar #datangmahasiswa #rela #berkotor #kotor #bantu #petani #pulih #setelah #bencana #banjir #bandang

KOMENTAR