Ramadhan 2026, Pasar Kurma Melambat karena Faktor Ekonomi
Memasuki awal bulan Ramadhan, gudang-gudang kurma biasanya sudah mulai bersantai dengan kesibukan yang padat.
Sebab agen besar sudah memesan lebih awal satu bulan sebelum bulan puasa, toko ritel menyiapkan stok, dan distribusi bergerak dari pelabuhan hingga ke daerah. Namun tahun ini, geliat itu terasa melambat.
CEO PT Usaha Utama Bersaudara, Yasir Salim, menyebut kondisi penjualan kurma tahun 2026 ini lebih berat dibandingkan sebelumnya.
Menurutnya, keluhan tidak hanya datang dari perusahaannya, tetapi sesama pedagang kurma di dalam negeri bahkan di luar negeri mengalami situasi serupa.
“Ya memang tahun ini agak susah beberapa teman sama-sama mengeluh padahal kalau sudah masuk bulan Ramadhan sudah tinggal sedikit. Kan biasanya orang-orang beli kurma untuk dijual lagi sebelum Ramadhan," ujar pengusaha yang biasa disapa Yasir itu kepada Kompas.com, Rabu (19/2/2026) siang.
"Untuk ritel seminggu sebelum puasa sudah beli tapi kalau grosir satu bulan sebelumnya. Kan pengiriman ada yang seminggu atau dua minggu lamanya. Kita kan biasa ngirim ke agen besar Mereka pasti packing juga,” imbuhnya.
Baca juga: Aturan Buka Puasa di MRT Jakarta, Boleh Makan Kurma dan Minum Air
Faktor Ekonomi Jadi Tekanan Utama
Ia menilai pelemahan daya beli menjadi faktor dominan. Diperkirakan mencapai 15 persen penurunan penjualan dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
“Sepertinya karena faktor ekonomi karena yang ngeluh bukan saya sendiri. Sesama penjual kurma saya tanya begitu, teman saya di Malaysia juga gitu mengeluh jadi global sepertinya,” kata Yasir Salim.
Meski begitu, ada sedikit penopang di tengah tekanan pasar. Dimana permintaan dari instansi dan kebutuhan MBG ikut membantu menjaga pergerakan stok.
Beberapa pekerja perusahaan penjualan kurma, PT Usaha Utama Bersaudara sedang bersantai di jam istirahat di gudang yang terletak di kawasan Ampel Surabaya, Jawa Timur.
“Banyak SSPG yang cari kurma. Jadi tahun ini kita kirim juga untuk instansi termasuk beberapa daerah banyak yang cari. Lumayan lah untuk mengobati dan membantu biar tidak terlalu sakit dengan penurunan dan penjualan tahun ini,” sambungnya.
Tren Sehat Belum Mampu Angkat Daya Beli
Selain itu di tengah kampanye hidup sehat, kurma sebenarnya mendapat perhatian lebih sebagai sumber energi alami. Namun ia melihat dampaknya belum cukup kuat untuk menahan tekanan ekonomi.
“Sebetulnya iya tapi dibandingkan dengan keadaan ekonomi ini ya cukup besar. Ada peningkatan tapi kan masih belum signifikan. Sebenarnya ini hal positif tapi tekanan ekonomi, jumlah orang beli itu berkurang dan merata customer-customer kita di seluruh daerah,” tutur pengusaha asli Surabaya itu.
Artinya, kesadaran konsumsi sehat meningkat, tetapi kemampuan belanja masyarakat masih tertahan.
Baca juga: 18 Macam Kurma di Dunia, Termasuk Siwa Oasis dan Ajwa
Distribusi dari Aceh hingga Papua
Sebagai perusahaan yang berdiri sejak 1957 dan berpusat di Surabaya, Jawa Timur, PT Usaha Utama Bersaudara memiliki dua divisi utama yaitu grosir dan ritel. Perusahaan ini memasok toko kelas menengah hingga kecil yang belum mampu mengimpor kurma secara langsung.
“Awalnya kita mulai Indonesia Timur, untuk dua tahun terakhir kita masuk ke Jakarta dan Sumatera. Jadi setelah kita impor sendiri ini pengiriman dari Aceh sampai Papua,” kata Yasir Salim.
Sedangkan strategi stok juga disesuaikan dengan kebutuhan pasar kurma apa saja yang diminati di setiap daerah.
“Ya kita kan sudah membaca ya pasarnya seperti apa kebutuhannya berapa persen untuk jenis A berapa persen jenis B yang kita siapin,” sambungnya.
Sementara itu Nadia pemilik toko kurma di Sidoarjo mengatakan pada tahun ini membeli sesuai pesanan dari pelanggannya yang sudah order awal bulan Februari 2025 lalu. Kebanyakan dari pesanan tersebut ia mengambil kurma dengan harga yang cukup relatif murah.
"Tahun ini pembelian lumayan banyak dari sebelumnya, tapi kebanyakan pesan yang harganya paling murah, kebanyakan mereka untuk kebutuhan keluarga saja," pungkasnya.
Tag: #ramadhan #2026 #pasar #kurma #melambat #karena #faktor #ekonomi