Survei Global: Gen Z dan Milenial Terjebak Overwork, 4 dari 10 Mengaku Stres
Pekerja di Jakarta(KOMPAS.com/LIDIA PRATAMA FEBRIAN )
17:12
19 Februari 2026

Survei Global: Gen Z dan Milenial Terjebak Overwork, 4 dari 10 Mengaku Stres

- Generasi milenial dan Gen Z diproyeksikan akan mengisi 74 persen tenaga kerja global pada 2030.

Dengan porsi sebesar itu, cara pandang mereka terhadap pekerjaan bukan hanya membentuk dinamika kantor, tetapi juga arah pasar tenaga kerja global.

Deloitte Global dalam survei bertajuk 2025 Gen Z and Millennial Survey yang melibatkan 23.482 responden di 44 negara mencatat, kedua generasi ini tengah mencari keseimbangan antara uang, makna, dan kesejahteraan (well-being) sebagai fondasi kebahagiaan di tempat kerja.

Baca juga: Survei Deloitte: Biaya Hidup Jadi Sumber Stres Finansial Gen Z dan Milenial

Ilustrasi Gen Z di tempat kerjaDok. Freepik/jcomp Ilustrasi Gen Z di tempat kerja

Namun, di balik ambisi untuk berkembang dan mencari makna, tekanan biaya hidup, ketidakpastian finansial, serta ekspektasi tinggi terhadap diri sendiri dan perusahaan memicu fenomena burnout dan overwork yang semakin mengemuka.

Tekanan finansial dan kesehatan mental

Untuk tahun keempat berturut-turut, biaya hidup menjadi kekhawatiran utama Gen Z dan milenial.

Pada 2025, sebanyak 39 persen Gen Z dan 42 persen milenial menempatkan biaya hidup sebagai isu paling mengkhawatirkan.

Hampir setengah Gen Z (48 persen) dan milenial (46 persen) mengaku tidak merasa aman secara finansial. Lebih dari separuh responden dari kedua generasi hidup dari gaji ke gaji (52 persen), dan lebih dari sepertiga kesulitan membayar kebutuhan bulanan.

Baca juga: Job Hopping Jadi Strategi Karier Milenial dan Gen Z, Bukan Sekadar Pindah Kerja

Tekanan ini berkelindan dengan kondisi mental. Empat dari 10 Gen Z (40 persen) dan 34 persen milenial mengaku merasa stres atau cemas sepanjang waktu atau hampir sepanjang waktu.

Faktor penyebab Sunday scaries.Pexels/Energepic Faktor penyebab Sunday scaries.

Sekitar sepertiga responden menyebut pekerjaan sebagai kontributor signifikan terhadap stres mereka (35 persen Gen Z dan 33 persen milenial).

Side hustle: strategi bertahan dan sumber tekanan tambahan

Dalam konteks tekanan finansial, sekitar sepertiga Gen Z dan milenial memiliki pekerjaan sampingan di luar pekerjaan utama mereka.

Alasan utamanya adalah kebutuhan akan sumber pendapatan tambahan. Sebanyak 37 persen Gen Z dan 41 persen milenial menyebut faktor ini sebagai pendorong utama.

Baca juga: Survei Deloitte: Gen Z dan Milenial Ambisius, tapi Tak Lagi Fokus Jadi Bos

Namun, motivasi tidak semata soal uang. Sebanyak 30 persen dari kedua generasi mengatakan side hustle membantu mereka mengembangkan keterampilan dan relasi penting.

Sebagian lainnya menyebutnya sebagai hobi (28 persen Gen Z dan 30 persen milenial) atau sarana memberi dampak positif bagi komunitas (25 persen).

Meski demikian, keberadaan pekerjaan kedua berpotensi memperpanjang jam kerja efektif dan mempersempit waktu istirahat.

Ketika lebih dari separuh responden sudah hidup dari gaji ke gaji dan sebagian merasa kesulitan membayar kebutuhan bulanan, side hustle bisa menjadi solusi jangka pendek, tetapi sekaligus memperbesar risiko overwork.

Baca juga: Survei Deloitte: Sukses Karier bagi Gen Z dan Milenial Bukan Naik Jabatan

Kondisi ini menunjukkan, keputusan mengambil pekerjaan tambahan tidak selalu lahir dari ambisi, tetapi dari kebutuhan.

Ambisi tanpa obsesi jabatan

Menariknya, burnout di kalangan Gen Z dan milenial tidak semata dipicu oleh ambisi mengejar jabatan.

Hanya 6 persen Gen Z yang menyebut mencapai posisi kepemimpinan sebagai tujuan karier utama mereka. Meski demikian, mereka tetap ambisius dalam hal pengembangan diri.

Ilustrasi karier, karier bagi pegawai milenial dan Gen Z. FREEPIK/TIRACHARDZ Ilustrasi karier, karier bagi pegawai milenial dan Gen Z.

Sebanyak 70 persen Gen Z mengaku mengembangkan keterampilan untuk kemajuan karier setidaknya sekali seminggu, dibandingkan 59 persen milenial.

Baca juga: Survei: Milenial dan Gen Z Stres di Tempat Kerja, Tekanan Finansial Pemicunya

Lebih dari dua pertiga Gen Z (67 persen) bahkan meluangkan waktu di luar jam kerja, baik sebelum atau sesudah bekerja maupun di hari libur, untuk meningkatkan keterampilan.

Fokus pada continuous learning ini menjadi pedang bermata dua.

Di satu sisi, hal tersebut mencerminkan komitmen untuk bertumbuh. Di sisi lain, ketika pengembangan diri dilakukan di luar jam kerja reguler, batas antara waktu kerja dan waktu pribadi menjadi semakin kabur.

Kesenjangan ekspektasi terhadap manajer

Survei juga menyoroti adanya kesenjangan antara ekspektasi pekerja muda terhadap manajer dan realitas yang mereka alami.

Baca juga: 57 Persen Gen Z Pilih Side Hustle, Tak Lagi Kejar Jabatan Tinggi

Gen Z dan milenial berharap manajer dapat memberi bimbingan, inspirasi, membantu menetapkan batasan untuk menjaga work-life balance, serta berperan sebagai mentor. Namun, banyak yang merasa manajer lebih fokus pada pengawasan tugas harian.

Kondisi ini berpotensi memperparah burnout. Tanpa dukungan yang memadai dalam menetapkan batasan dan mengelola beban kerja, pekerja muda cenderung memikul tekanan secara individual.

Uang, makna, dan kesejahteraan: fondasi kebahagiaan

Deloitte merangkum temuan survei dalam satu konsep, yakni kebahagiaan di tempat kerja terletak pada irisan antara uang, makna, dan kesejahteraan. Ketiganya saling berkaitan erat.

Sebanyak 60 persen Gen Z dan 68 persen milenial yang merasa aman secara finansial menyatakan bahagia, dibandingkan hanya 28 persen Gen Z dan 31 persen milenial yang merasa tidak aman secara finansial.

Ilustrasi karierhobo_018/ Getty Images/iStockphoto Ilustrasi karier

Baca juga: Conscious unbossing dan Krisis Regenerasi: Saat Gen Z Menolak Jadi Bos

Di sisi lain, 89 persen Gen Z dan 92 persen milenial menilai rasa tujuan (purpose) penting bagi kepuasan kerja dan kesejahteraan mereka.

Namun, ketika makna tidak ditemukan dalam pekerjaan, dampaknya terasa. Sekitar 44 persen Gen Z dan 45 persen milenial pernah meninggalkan pekerjaan karena dianggap kurang bermakna.

Kesulitan mendapatkan “trifecta” ini, yaitu fleksibilitas, gaji, dan ketertarikan pada pekerjaan, menciptakan dilema.

Ketika salah satu tidak terpenuhi, sebagian pekerja memilih menutup celah tersebut melalui side hustle, pengembangan diri ekstra, atau berpindah kerja.

Baca juga: Tren Keuangan Gen Z dan Milenial: Dari Belanja Impulsif hingga Investasi

Strategi ini dapat membantu dalam jangka pendek, tetapi juga memperbesar risiko kelelahan kronis.

Antara pekerjaan dan identitas diri

Bagi lebih dari 40 persen Gen Z dan hampir separuh milenial, pekerjaan utama merupakan bagian penting dari identitas mereka. Dengan posisi sedemikian sentral, tekanan di tempat kerja mudah merembet ke dimensi personal.

Sekitar 40 persen responden menyebut kurangnya makna dalam pekerjaan berkontribusi pada kecemasan dan stres.

Ketika pekerjaan menjadi cerminan identitas, kegagalan menemukan kepuasan atau makna dapat memperdalam rasa lelah secara emosional.

Baca juga: Bukan Soal Gaji Besar: Strategi Kaya ala Robert Kiyosaki untuk Gen Z

Dalam konteks inilah burnout tidak hanya soal jam kerja panjang, tetapi juga soal ketegangan antara ekspektasi pribadi, kebutuhan finansial, dan realitas organisasi.

Dinamika yang terus bergerak

Ilustrasi bekerja di kantor. PEXELS/EDMOND DANTES Ilustrasi bekerja di kantor.

Survei Deloitte menunjukkan Gen Z dan milenial bukan generasi yang kurang ambisi, melainkan generasi yang mendefinisikan ulang ambisi.

Mereka ingin belajar, berkembang, dan bekerja dengan makna. Pada saat yang sama, mereka menghadapi tekanan biaya hidup, ketidakpastian finansial, serta perubahan teknologi yang cepat.

Di tengah tekanan tersebut, side hustle menjadi strategi bertahan sekaligus potensi sumber overwork.

Baca juga: Gen Z dan Milenial Enggan Jadi Bos: Ancaman Krisis Kepemimpinan?

Upaya mengembangkan keterampilan di luar jam kerja memperluas kapasitas, tetapi juga menggerus waktu istirahat. Tanpa dukungan manajerial yang memadai dan sistem kerja yang memberi ruang pemulihan, risiko burnout menjadi nyata.

Tag:  #survei #global #milenial #terjebak #overwork #dari #mengaku #stres

KOMENTAR