Penderita Diabetes Tetap Boleh Makan Takjil, Asal Jangan Bablas
Ilustrasi takjil. Penderita diabetes tidak sepenuhnya dilarang makan takjil, tetapi harus disiplin mengatur porsi dan jenis makanan.(Kompas.com/MOH.ANAS)
16:36
19 Februari 2026

Penderita Diabetes Tetap Boleh Makan Takjil, Asal Jangan Bablas

Penderita diabetes tetap boleh menikmati takjil dan camilan saat berbuka puasa, tetapi porsinya harus diatur agar gula darah tidak melonjak.

Dokter spesialis penyakit dalam RS Raja Ampat, dr. Andi Khomeini Takdir Haruni, Sp.PD(K), menegaskan bahwa momen berbuka sering menjadi titik rawan lonjakan gula darah karena konsumsi makanan manis yang berlebihan.

Dalam wawancara dengan Kompas.com, Selasa (10/2/2026), Andi menjelaskan bahwa penderita diabetes tidak sepenuhnya dilarang mengonsumsi takjil. Namun, pengaturannya harus disesuaikan dengan kondisi masing-masing pasien.

“Apakah boleh mencicipi takjil atau ikut war takjil, itu harus didiskusikan dengan dokter yang merawat supaya tetap aman,” ujar dr. Andi.

Baca juga: Puasa bagi Penderita Diabetes, Ini Syarat Aman Menurut Dokter

Takjil bukan larangan, tapi harus terkontrol

Menurut Andi, berbuka puasa memang menjadi waktu untuk mengganti energi setelah seharian tidak makan dan minum.

Namun, konsumsi makanan manis secara berlebihan dapat memicu hiperglikemia atau kenaikan gula darah yang terlalu tinggi.

Karena itu, pasien perlu mengatur porsi dan jenis makanan yang dikonsumsi saat berbuka. Takjil boleh dikonsumsi dalam jumlah terbatas dan tidak berlebihan.

Penderita diabetes juga perlu memperhatikan komposisi makanan utama setelah takjil. Karbohidrat, sayur, dan buah tetap harus diatur sesuai anjuran dokter.

Baca juga: Puasa Aman bagi Penderita Diabetes, Ini Batas Gula Darah yang Harus Dijaga

Waspadai lonjakan gula darah

Ilustrasi puasa. Penderita diabetes tidak sepenuhnya dilarang makan takjil, tetapi harus disiplin mengatur porsi dan jenis makanan.freepik.com Ilustrasi puasa. Penderita diabetes tidak sepenuhnya dilarang makan takjil, tetapi harus disiplin mengatur porsi dan jenis makanan.

Andi mengingatkan bahwa lonjakan gula darah dapat terjadi jika pasien “bablas” saat berbuka.

Gejala hiperglikemia yang perlu diwaspadai antara lain sering haus, sering buang air kecil, cepat lelah, dan luka yang sulit sembuh.

Pasien yang memulai puasa dengan kondisi gula darah tidak stabil juga lebih berisiko mengalami kenaikan gula darah saat berbuka.

Karena itu, pemantauan gula darah secara rutin selama Ramadhan sangat dianjurkan.

Pengaturan obat dan pola makan harus sejalan

Selain pengaturan makanan, jadwal obat juga harus disesuaikan.

Sebagian pasien mungkin menggunakan insulin, sementara yang lain menggunakan obat oral seperti metformin.

Penyesuaian waktu minum obat biasanya mengikuti waktu sahur dan berbuka. Namun, keputusan ini tetap harus berdasarkan konsultasi dengan dokter.

“Semua harus dikoordinasikan supaya tidak mengganggu kontrol gula darah,” kata dr. Andi.

Baca juga: Minum Obat Diabetes Saat Puasa, Haruskah Dosis Diubah? Ini Penjelasan Dokter

Disiplin jadi kunci

Andi menekankan bahwa kesiapan mental juga berperan dalam mengatur pola makan selama Ramadhan.

Godaan makanan saat berbuka memang besar, tetapi pasien perlu disiplin agar tidak membahayakan kesehatannya sendiri.

Mayoritas penderita diabetes tetap bisa menjalankan puasa selama gula darah terkontrol dan pengaturan makan dilakukan dengan baik. Takjil dan camilan bukan hal yang sepenuhnya dilarang, tetapi harus dikonsumsi secara bijak.

“Yang paling penting adalah kontrol dan komunikasi dengan dokter,” ujar dr. Andi.

Baca juga: Kapan Penderita Diabetes Harus Batal Puasa? Ini Penjelasan Dokter

Tag:  #penderita #diabetes #tetap #boleh #makan #takjil #asal #jangan #bablas

KOMENTAR