Mengenal Soft Spoken: Arti, Karakter, dan Keunggulannya
Belakangan, istilah soft spoken semakin populer di media sosial untuk menggambarkan seseorang yang berbicara dengan nada lembut dan menenangkan.
Namun, apa sebenarnya makna soft spoken? Apakah sama dengan pendiam atau pemalu?
Dalam psikologi komunikasi, gaya berbicara yang tenang dan terukur sering dikaitkan dengan kecerdasan emosional serta kemampuan regulasi diri.
Dikutip dari Psychology Today, nada suara dan pilihan kata dapat memengaruhi persepsi orang lain terhadap kepribadian seseorang.
Nada lembut, misalnya, sering diasosiasikan dengan empati dan kestabilan emosi. Berikut penjelasan lengkapnya.
Baca juga: Mengenal Hopeless Romantic: Arti, Ciri-Ciri, dan Dampaknya dalam Hubungan
Apa Itu Soft Spoken?
Secara umum, soft spoken merujuk pada seseorang yang berbicara dengan suara lembut, tidak meledak-ledak, dan cenderung tenang dalam menyampaikan pendapat.
Gaya komunikasi ini bukan berarti lemah atau tidak tegas. Sebaliknya, banyak penelitian komunikasi menunjukkan bahwa penyampaian pesan yang tenang justru dapat meningkatkan efektivitas dialog, terutama dalam situasi penuh tekanan.
Soft Spoken Artinya Apa?
Pengertian Soft Spoken
Secara harfiah, soft spoken berarti “berbicara dengan lembut.” Dalam konteks kepribadian, istilah ini menggambarkan individu yang:
- Memiliki intonasi rendah dan stabil
- Tidak suka meninggikan suara
- Cenderung berhati-hati dalam memilih kata
- Mengedepankan empati saat berbicara
Dalam teori komunikasi interpersonal yang dikutip dari Harvard Business Review, gaya komunikasi yang tenang dinilai mampu membangun kepercayaan karena dianggap tidak mengintimidasi lawan bicara.
Baca juga: Ciri-ciri Keluarga Toxic yang Bisa Memengaruhi Kesehatan Mental
Asal Istilah Soft Spoken
Istilah ini berasal dari bahasa Inggris, terdiri dari kata soft (lembut) dan spoken (diucapkan).
Dalam kamus bahasa Inggris modern, istilah ini digunakan untuk menggambarkan orang yang berbicara dengan suara pelan dan tidak agresif.
Popularitasnya meningkat seiring berkembangnya diskusi seputar communication style dan emotional intelligence di media sosial dan platform pengembangan diri.
Ciri-Ciri Orang Soft Spoken
Memiliki Nada Bicara Lembut
Ciri paling mudah dikenali adalah nada suara yang tidak keras atau tajam. Mereka jarang berbicara dengan intonasi tinggi, bahkan saat menghadapi situasi sulit.
Berkomunikasi dengan Tenang dan Terukur
Orang soft spoken cenderung berpikir sebelum berbicara. Mereka memilih kata secara hati-hati agar tidak melukai perasaan orang lain.
Tidak Mudah Emosional
Kemampuan mengendalikan emosi menjadi salah satu karakter kuat. Menurut berbagai kajian psikologi populer, regulasi emosi yang baik membuat seseorang lebih mampu menjaga kestabilan hubungan sosial.
Menghindari Konflik Berlebihan
Bukan berarti menghindari masalah, tetapi mereka cenderung menyelesaikan konflik dengan dialog yang tenang, bukan konfrontasi.
Baca juga: Ciri-ciri Keluarga Toxic yang Bisa Memengaruhi Kesehatan Mental
Beberapa zodiak dikenal punya memori tajam, mampu mengingat detail kecil dan momen emosional yang sering terlewat orang lain. Siapa saja?
Keunggulan Orang Soft Spoken
Disukai dalam Lingkungan Sosial
Nada lembut dan sikap tenang membuat mereka terasa aman untuk diajak berbicara. Banyak orang merasa lebih nyaman membuka diri pada pribadi yang tidak menghakimi.
Mudah Menciptakan Suasana Nyaman
Dalam dinamika kelompok, individu dengan gaya komunikasi lembut sering menjadi penyeimbang ketika suasana memanas.
Dianggap Dewasa dan Bijak
Karena tidak reaktif, orang soft spoken kerap dipersepsikan lebih matang secara emosional. Persepsi ini penting, terutama dalam hubungan jangka panjang dan dunia profesional.
Baca juga: Ketahui 3 Ciri-ciri Gejala Depresi Menurut Psikiater, Termasuk Selalu Sedih
Perbedaan Soft Spoken dan Pendiam
Soft Spoken Aktif Berbicara dengan Lembut
Seseorang yang soft spoken tetap aktif berkomunikasi. Ia menyampaikan ide, opini, bahkan kritik—hanya saja dengan cara yang lebih tenang.
Pendiam Cenderung Minim Interaksi
Sementara itu, orang pendiam mungkin berbicara sangat sedikit dan cenderung menghindari interaksi sosial. Jadi, soft spoken bukan berarti jarang berbicara, melainkan cara berbicaranya yang lembut.
Soft Spoken dalam Hubungan dan Dunia Kerja
Dampaknya dalam Hubungan Asmara
Dalam hubungan romantis, komunikasi yang lembut dapat memperkuat kedekatan emosional. Nada yang tenang membantu pasangan merasa dihargai dan didengar. Konflik pun cenderung lebih mudah diselesaikan tanpa eskalasi emosi.
Perannya dalam Lingkungan Profesional
Di dunia kerja, gaya komunikasi ini sering diasosiasikan dengan kepemimpinan yang empatik. Dilansir dari Forbes, pemimpin yang mampu berbicara tenang dalam situasi krisis sering kali dianggap lebih kredibel dan dapat dipercaya.
Namun demikian, penting bagi individu soft spoken untuk tetap belajar bersikap asertif agar suara dan idenya tidak terabaikan.
Baca juga: Ciri-ciri Orang Kesepian Menurut Psikolog, Tak Cuma Merasa Sedih
FAQ Seputar Soft Spoken
Apakah soft spoken itu sifat bawaan?
Sebagian orang memang secara alami memiliki nada suara lembut. Namun, gaya komunikasi juga dipengaruhi oleh lingkungan, pengalaman, dan pembelajaran sosial.
Apakah soft spoken sama dengan pemalu?
Tidak. Pemalu berkaitan dengan rasa canggung atau takut dinilai, sedangkan soft spoken lebih merujuk pada gaya berbicara yang tenang. Seseorang bisa percaya diri tetapi tetap berbicara dengan lembut.
Bisakah seseorang belajar menjadi soft spoken?
Bisa. Melatih kontrol emosi, memperlambat tempo bicara, serta meningkatkan empati adalah beberapa langkah yang dapat membantu seseorang mengembangkan gaya komunikasi yang lebih lembut.
Jadi, soft spoken bukan tentang keras atau pelannya suara, melainkan bagaimana seseorang menyampaikan pesan dengan empati dan ketenangan.
Dalam dunia yang serba cepat dan penuh opini keras, kemampuan berbicara dengan lembut justru bisa menjadi kekuatan tersendiri.