Mengapa Selat Hormuz di Lepas Pantai Iran Sangat Krusial?
Peta Selat Hormuz. PT Pertamina (Persero) mengalihkan jalur pelayaran pengiriman minyak mentah dari Timur Tengah ke Indonesia menyusul meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan, khususnya rencana penutupan Selat Hormuz oleh Iran.(Wikimedia Commons)
19:12
19 Februari 2026

Mengapa Selat Hormuz di Lepas Pantai Iran Sangat Krusial?

Penulis: Srinivas Mazumdaru dan Nik Martin/DW Indonesia

- Iran pada Selasa (17/2/2026) mengumumkan akan menutup sebagian Selat Hormuz di mulut Teluk Persia, jalur pelayaran vital bagi perdagangan minyak dunia.

Televisi pemerintah Iran menyebut penutupan itu sebagai langkah keamanan terkait latihan militer Garda Revolusi yang dimulai sehari sebelumnya.

Belum jelas berapa lama penutupan parsial tersebut akan berlangsung. Associated Press melaporkan pembatasan itu diperkirakan hanya berlangsung beberapa jam.

Iran berulang kali mengancam akan menutup selat tersebut sebagai sinyal bahwa mereka mampu mengganggu jalur maritim strategis yang mengalirkan sekitar seperlima pasokan minyak dunia.

Langkah ini terjadi saat perunding Iran dan Amerika Serikat (AS) pada Selasa menggelar putaran kedua pembicaraan mengenai program nuklir Teheran di Jenewa.

Dalam beberapa pekan terakhir, AS meningkatkan kehadiran militernya di Timur Tengah untuk menekan Iran terkait ambisi nuklirnya serta penindasan berdarah terhadap protes antipemerintah.

Baca juga: Ditutup Iran untuk Latihan Militer, Selat Hormuz Milik Siapa?

Bagaimana situasi terkini di Selat Hormuz?

Selat Hormuz merupakan jalur air penting yang berada di antara Oman dan Iran, menghubungkan Teluk Persia dengan Teluk Oman dan Laut Arab.

Badan Informasi Energi AS (EIA) menyebutnya sebagai titik penyempitan transit minyak terpenting di dunia.

Pada titik tersempitnya, lebar selat hanya sekitar 33 kilometer, dengan jalur pelayaran masing-masing sekitar 3 kilometer ke dua arah, sehingga lalu lintasnya padat dan berisiko.

Volume besar minyak mentah yang diproduksi negara-negara OPEC seperti Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Kuwait, dan Irak dari ladang minyak di kawasan Teluk Persia, dan dikonsumsi secara global, mengalir melalui selat ini.

Sekitar 20 juta barel minyak mentah, kondensat, dan bahan bakar diperkirakan melintasi jalur tersebut setiap hari, menurut data Vortexa, konsultan pasar energi dan pengapalan.

Qatar, salah satu produsen gas alam cair atau LNG terbesar di dunia, juga sangat bergantung pada selat itu untuk mengekspor LNG-nya.

Baca juga: Iran Tutup Sebagian Selat Hormuz, Rusia dan China Kirim Kapal Perang

Pemilik kapal makin waspada

Konflik Israel–Iran tahun lalu kembali menyoroti isu keamanan di perairan tersebut.

Di masa lalu, Iran pernah mengancam akan menutup Selat Hormuz sebagai balasan atas tekanan Barat.

Namun, selama perang 12 hari pada Juni 2025, tidak terjadi serangan besar terhadap pelayaran komersial di kawasan tersebut.

Meski demikian, para pemilik kapal tetap waspada. Sejumlah kapal meningkatkan pengamanan, sementara sebagian lainnya membatalkan rute ke wilayah itu selama konflik, lapor Associated Press.

Gangguan elektronik terhadap sistem navigasi kapal komersial juga melonjak di sekitar selat dan kawasan Teluk yang lebih luas selama konfrontasi tahun lalu, menurut sumber angkatan laut kepada Reuters.

Blokade berkepanjangan atau gangguan terhadap arus minyak berpotensi memicu lonjakan tajam harga minyak mentah dan memukul negara-negara pengimpor energi, terutama di Asia.

Baca juga: Iran Bakal Tutup Sebagian Selat Hormuz, Ada Apa?

Siapa yang paling terdampak jika pasokan terganggu?

EIA memperkirakan sekitar 82 persen pengiriman minyak mentah dan bahan bakar lain yang melintasi selat ditujukan ke konsumen di Asia.

Cina, India, Jepang, dan Korea Selatan menjadi tujuan utama. Keempat negara tersebut secara bersama-sama menyumbang hampir 70 persen dari total arus minyak mentah dan kondensat yang melewati Selat Hormuz.

Pasar-pasar inilah yang kemungkinan paling terdampak jika terjadi gangguan pasokan.

Jika Iran benar-benar menutup selat secara penuh, langkah itu berpotensi memicu intervensi militer AS.

Penutupan jangka panjang juga dapat mengganggu hubungan Teheran dengan negara-negara Arab Teluk seperti Arab Saudi dan Uni Emirat Arab, yang dalam beberapa tahun terakhir berupaya memperbaiki hubungan dengan Iran.

Selain itu, Iran sendiri bergantung pada Selat Hormuz untuk mengekspor minyak ke mitra dagangnya, sehingga penutupan selat dinilai kontraproduktif.

"Ekonomi Iran sangat bergantung pada kelancaran arus barang dan kapal melalui jalur laut ini, karena seluruh ekspor minyaknya berbasis laut," tulis analis JP Morgan Natasha Kaneva, Prateek Kedia, dan Lyuba Savinova, seperti dikutip Reuters saat konflik berlangsung.

"Menutup Selat Hormuz akan menjadi langkah yang merugikan hubungan Iran dengan satu-satunya pembeli minyaknya, China," lanjutnya.

Baca juga: Bersiap Perang, Garda Revolusi Iran Mulai Latihan di Selat Hormuz

Adakah jalur alternatif?

Negara-negara Arab Teluk seperti Arab Saudi dan Uni Emirat Arab dalam beberapa tahun terakhir mengembangkan jalur alternatif untuk menghindari Selat Hormuz.

Kedua negara membangun infrastruktur untuk menyalurkan sebagian minyak mentah melalui rute lain.

Arab Saudi mengoperasikan Pipa Minyak Mentah Timur–Barat dengan kapasitas 5 juta barel per hari. Sementara Uni Emirat Arab memiliki pipa yang menghubungkan ladang minyak daratnya ke terminal ekspor Fujairah di Teluk Oman.

EIA memperkirakan sekitar 2,6 juta barel minyak mentah per hari dapat dialihkan untuk menghindari Selat Hormuz jika terjadi gangguan di jalur tersebut.

Artikel ini pernah tayang di DW Indonesia dengan judul: Mengapa Selat Hormuz di Lepas Pantai Iran Sangat Krusial?

Baca juga: Ketegangan di Selat Hormuz, Kapal Tanker AS Diadang Kapal Bersenjata Iran

Tag:  #mengapa #selat #hormuz #lepas #pantai #iran #sangat #krusial

KOMENTAR