Dian Siswarini, Dirut Perempuan Pertama Telkom: Bukan Sekadar Memimpin, tapi Mentransformasi
Direktur Utama PT. Telkom Indonesia Dian Siswarini berpose setelah diwawancara Kompas.com di The Telkom Hub Building, Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Rabu (11/2/2026).(KOMPAS.com/ANTONIUS ADITYA MAHENDRA)
18:16
21 Februari 2026

Dian Siswarini, Dirut Perempuan Pertama Telkom: Bukan Sekadar Memimpin, tapi Mentransformasi

- Sebagai seorang pemimpin perempuan di PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk, Dian Siswarini memiliki tanggung jawab besar untuk membawa perusahaan menuju transformasi.

Menurut dia, kepercayaan untuk memimpin perusahaan telekomunikasi pelat merah ini merupakan mandat yang besar.

Sebelumnya, Dian memang telah malang melintang dan menjadi nakhoda di tempat lain, tetapi ia banyak berkarya di sektor telekomunikasi swasta.

Hal tersebut disampaikan dalam program Naratama dengan host Pemimpin Redaksi Kompas.com, Amir Sodikin.

Baca juga: Mau Jadi Diplomat, Retno Marsudi Sempat Diragukan Karena Perempuan

"Waktu mendapatkan mandat ini, saya sudah lihat pasti ekosistemnya berbeda, kemudian perusahaannya punya kebudayaan yang berbeda," ucap dia.

Sebagai catatan, Dian Siswarini adalah direktur utama perempuan pertama di Telkom Group Indonesia.

Waktu menerima mandat ini, Dian telah mendapatkan misi khusus untuk melakukan transformasi perusahaan.

"Jadi bukan hanya diminta memimpin, tetapi juga mentransformasi," imbuh dia.

Kehadiran Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara membuat perusahaan BUMN harus menjadi sebuah entitas yang lebih progresif, agile, dan beroperasi seperti sektor swasta.

Pengalaman Dian Siswarini dinilai sesuai dengan transformasi yang diinginkan pemerintah.

Dian sendiri mengawali karier di industri satelit dan lama berkecimpung di industri seluler.

Belajar dari industri telekomunikasi Malaysia

Waktu berkarier di Malaysia sebagai Group Chief Marketing and Operation Officer pada suatu perusahaan seluler, ia menyadari bahwa tahapan perkembangan evolusi telekomunikasi di banyak negara itu serupa.

Waktu itu, ia menangani anak perusahaan yang memiliki bisnis seluler hingga tower seluler di sembilan negara termasuk Malaysia, Singapura, Sri Lanka, Bangladesh, Nepal, hingga India.

Dari pengalaman itu, ia lantas membandingkan apa yang membedakan evolusi telekomunikasi di negara yang lebih maju hingga yang berada di belakang Indonesia.

"Kalau dilihat dari pergerakan atau evolusi itu, _step_-nya sama, yang membedakan hanya waktu," terang dia.

Dian memberi contoh, Singapura mungkin tampak lebih maju dengan adopsi teknologi telekomunikasi.

Namun tahapan yang dilalui tak jauh berbeda dengan yang terjadi di negara lain.

Ia memberikan gambaran, fenomena yang terjadi di Malaysia dua tahun lalu, saat ini baru terjadi di Indonesia.

Sebaliknya, apa yang terjadi di Indonesia saat ini, kemungkinan akan terjadi di Bangladesh dua tahun lagi.

"Menurut saya, itu insight yang paling berguna buat saya, bahwa memang pergerakan pasar, demand dari pelanggan, itu kira-kira mirip ah ya, hanya waktu yang berbeda," urai dia.

Pengalaman tersebut lantas menjadi modal berharga untuk Dian membaca pasar di Indonesia.

Direktur Utama PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk Dian Siswarini dalam program Naratama dengan host Pemimpin Redaksi Kompas.com, Amir Sodikin.Tangkapan layar akun Youtube Kompas.com Direktur Utama PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk Dian Siswarini dalam program Naratama dengan host Pemimpin Redaksi Kompas.com, Amir Sodikin.

Membaca perkembangan teknologi dan kemampuan perusahaan

Sebagai seorang pemimpin, Dian membagikan strategi yang digunakan untuk membawa perusahaan telekomunikasi memiliki kinerja gemilang.

Dian menceritakan, perusahaan telekomunikasi perlu menyelaraskan kebutuhan pelanggan, kemampuan perusahaan, dinamika kompetitor, hingga perubahan teknologi.

"(Menyelaraskan) kemampuan perusahaan dari sisi investasi, dari sisi capability dengan perubahan teknologi yang ada," ungkap dia.

Ia menceritakan, ketika perusahaan terlalu cepat mengadopsi teknologi, investasi dapat menjadi sia-sia karena tidak teradopsi dengan optimal.

Sebaliknya, perusahaan juga tidak dapat berjalan dengan optimal ketika terlambat mengadopsi teknologi.

"_Timing_-nya harus pas, maka tadi dengan saya pernah bekerja di sekian banyak market itu yang memberikan insight. Bagaimana agar tidak terlalu cepat, tidak juga telat," kata Dian.

Selain itu, investasi yang dilakukan perusahaan juga harus dipastikan sesuai dengan kebutuhannya.

Empat pilar utama pengambilan keputusan

Dian mengungkapkan, dalam mengambil keputusan bisnis di perusahaan telekomunikasi, diperlukan beberapa pilar utama.

Pertama, pengambilan keputusan harus didasarkan pada data (fact-based) dengan kemampuan analitis yang baik.

Hal itu juga perlu didukung dengan sistem yang mumpuni dari perusahaan.

"Kemudian yang paling penting, orang, talent. Menurut saya _make it or brake it_-nya itu di talent," tutur Dian.

Ia yakin, aset terbesar di dalam suatu perusahaan adalah talent.

"Bukan teknologinya, _talent_-nya. Kan teknologi berganti terus, kan yang bisa membawa kita kepada keputusan yang benar dan eksekusi itu ya talent," ungkap dia.

Direktur Utama PT. Telkom Indonesia Dian Siswarini berpose setelah diwawancara Kompas.com di The Telkom Hub Building, Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Rabu (11/2/2026).KOMPAS.com/ANTONIUS ADITYA MAHENDRA Direktur Utama PT. Telkom Indonesia Dian Siswarini berpose setelah diwawancara Kompas.com di The Telkom Hub Building, Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Rabu (11/2/2026).

Pengalaman studi di Harvard University

Dian menceritakan, pengalaman menempuh studi di Harvard University, Amerika Serikat (AS) membuat dia terbuka untuk menjadi seorang pemimpin yang memiliki visi dan arah tujuan perusahaan.

Di Harvard Business School, Dian meraih S-2 Executive Advance Management pada 2013.

"Bagaimana kita menentukan strategi yang betul, dan bagaimana strategi itu bisa di-cascade di organisasi, diartikan dengan mudah di organisasi supaya pelaksanaannya efektif," ucap dia.

Dian sendiri menyandang gelar S-1 Teknik Elektro dari Institut Teknologi Bandung pada 1991.

Dian juga telah mencicipi berbagai posisi penting di industri telekomunikasi.

Ia sempat menjabat sebagai Wakil Presiden Direktur PT XL Axiata pada 2014 hingga 2015.

Di perusahaan yang sama ia kemudian menjadi Presiden Direktur dan CEO pada 2015 hingga 2024.

Percaya sektor telekomunikasi sejak SMA

Dian muda sudah memiliki cita-cita ingin bekerja di industri telekomunikasi sejak SMA.

Waktu itu, ia punya gambaran, teknik telekomunikasi akan menjadi sesuatu yang penting di masa mendatang.

"Saya baca-baca, saya lihat telekomunikasi ini akan mengubah dunia," ujar dia.

Dian percaya, teknologi komunikasi akan mengubah dunia hingga cara manusia hidup.

Keyakinan tersebut semakin didorong dengan pengaruh dari guru-gurunya saat itu di SMA 3 Bandung, Jawa Barat.

"Dunia engineering itu akan menarik, bisa mengubah dunia, bisa membuat kita itu memberikan perubahan," ungkap dia.

Tak heran, Dian memang lahir di tengah-tengah keluarga yang kental dengan dunia teknik.

Tanpa disadari, lingkungan keluarga menjadi awal mula munculkan ketertarikan di dunia teknik.

Ayah Dian adalah seorang profesional yang berkutat pada kegiatan yang berhubungan dengan teknik lingkungan.

Ia menceritakan, pada waktu itu liburan keluarganya lebih sering diisi dengan kunjungan ke bendungan hingga tempat pengolahan air.

"Waktu kecil saya tidak terasa, tapi setelah saya ingat-ingat lagi sekarang kayanya diarahkan secara sistematis," tutup dia.

Baca juga: Profil Marina Budiman, Pendiri DCII yang Jadi Perempuan Terkaya Indonesia

Tag:  #dian #siswarini #dirut #perempuan #pertama #telkom #bukan #sekadar #memimpin #tapi #mentransformasi

KOMENTAR