BSI Bukukan Laba Bersih Rp 7,57 Triliun di 2025, Ditopang Pertumbuhan Fee Based Income
PT Bank Syariah Indonesia (Persero) Tbk atau BSI membukukan laba bersih sebesar Rp 7,57 triliun sepanjang tahun 2025.
Direktur Utama BSI Anggoro Eko Cahyo mengatakan, perolehan laba bersih tersebut mengalami penngkatan sekitar 8,02 persen secara tahunan (year on year/yoy) dibandingkan laba bersih 2024 sebesar Rp 7 triliun.
Capaian positif ini diikuti dengan pertumbuhan aset 11,64 persen (yoy) menjadi Rp 457 triliun, dana pihak ketiga (DPK) tumbuh 16,20 persen (yoy), pembiayaan tumbuh 14,49 persen (yoy), dan layanan emas tumbuh 78,60 persen (yoy) menjadi Rp 22,9 triliun.
Baca juga: Usai BSI Resmi Jadi BUMN, Pembagian Dividen Tunggu Arahan Danantara
Kemudian, rasio pembiayaan bermasalah (non-performing financing/NPF) juga berhasil ditekan turun 0,09 persen (yoy) menjadi 1,81 persen.
"Jadi Alhamdulillah indikator aset, DPK termasuk tabungan, pembiayaan, termasuk produk baru kami gold, serta NPF bisa terjaga sehingga laba mampu tumbuh 8 persen secara year-on-year," ujarnya saat konferensi pers virtual, Jumat (6/2/2026).
Direktur Finance and Strategy BSI Ade Cahyo Nugroho menambahkan, pertumbuhan laba bersih tersebut utamanya dikontrubusikan dari pendapatan bank (fee based income) yang meningkat 25,06 persen (yoy) menjadi Rp 6,89 triliun.
Peningkatan fee based income itu ditopang oleh pertumbuhan layanan emas, BSI mulai Februari 2025 resmi memegang lisensi bullion bank.
"Peningkatan fee based income ini memang secara lebih detail dikontribusi oleh produk-produk baru kita terutama yang berkaitan dengan emas. Ini berdampak positif terhadap peningkatan nasabah BSI yang menggunakan tabungan emas dan jumlah transaksinya," jelasnya.
Di sisi lain, peningkatan profitabilitas perseroan juga didorong oleh penurunan biaya dana (cost of fund) yang pertumbuhannya berhasil ditekan ke 0,10 persen menjadi 2,58 persen dari pertumbuhan cost of fund tahun lalu yang mencapai 0,38 persen.
Baca juga: Harga Emas Naik, BSI Lihat Peluang Ekspansi Bisnis Bullion Bank
Penurunan pertumbuhan cost of fund, kata Ade, disebabkan oleh likuiditas perbankan dan pertumbuhan tabungan haji yang semakn baik.
"Di sisi lain produk-produk high yield seperti cicil emas, pembiayaan untuk payroll, ASN juga memberikan dampak yang positif karena memiliki yield dan kualitas yang sangat baik," imbuhnya.
Tag: #bukukan #laba #bersih #triliun #2025 #ditopang #pertumbuhan #based #income