IHSG Rungkad, Saham Apa yang Masih Layak Dibidik?
- Penundaan penilaian MSCI mengakibatkan pasar modal Indonesia tertekan, menyebabkan investor asing menarik dana dan IHSG anjlok.
- Investor disarankan memilih saham fundamental kuat yang ditandai pertumbuhan laba serta arus kas sehat untuk investasi jangka panjang.
- Kondisi pasar yang koreksi ini diperkirakan sementara, dengan potensi *rebound* saham setelah ada klarifikasi regulator, mirip India.
Pasar modal Indonesia tengah rungkad dihantam penundaan penilaian MSCI.Inc. Kabar tersebut membuat investor asing menjadi waswas dan membawa kabur dananya dari pasar saham Indonesia.
Kondisi ini membuat kinerja Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) jeblok. Alhasil, saham-saham emiten ikut menukik tajam. Situasi tersebut juga membuat investor domestik merana akibat turunnya nilai saham-saham unggulan. Terutama saham-saham emiten milik konglomerat, seperti Prajogo Pangestu, Grup Bakrie, dan Grup Salim, yang kompak merah massal.
Atas kondisi ini, investor perlu lebih berhati-hati dalam membidik saham untuk investasi. Jangan sampai salah strategi, yang harapannya cuan justru berujung zonk dan membuat kantong menipis.
Head of Retail Research BNI Sekuritas, Fanny Suherman, dalam risetnya mengemukakan bahwa dalam kondisi seperti ini, saham-saham dengan fundamental kinerja yang kuat menjadi pilihan utama.
"Based on fundamental, lebih ke arah long term," ujar Fanny seperti dikutip dalam Morning Investview, Kamis (5/2/2026).
Apa Itu Saham dengan Fundamental Kuat?
Saham dengan fundamental kuat dapat dilihat dari kinerja keuangan emiten itu sendiri, mulai dari pendapatan hingga laba bersih yang terus meningkat.
Dalam kondisi pasar yang gonjang-ganjing seperti saat ini, jika kinerja keuangan tetap tumbuh, maka dapat dikatakan fundamental emiten tersebut sangat kuat.
Selain itu, fundamental yang solid juga tercermin dari arus kas. Jika emiten mampu membiayai kegiatan operasionalnya sendiri tanpa harus menerbitkan obligasi atau menambah utang bank, hal ini menandakan fondasi keuangan yang sehat.
Kesehatan keuangan juga dapat dilihat dari rasio utang yang terkendali, di mana emiten tetap mampu membayar bunga dan pokok utang meski pasar saham bergejolak.
Yang tak kalah penting, investor perlu memperhatikan valuasi atau kewajaran harga saham. Valuasi wajar dapat dihitung melalui rasio keuangan, seperti Price to Earnings Ratio (PER), yang membandingkan harga saham per lembar dengan laba bersih per saham.
Melalui PER, investor dapat menilai apakah suatu saham tergolong murah atau mahal, sekaligus memperkirakan ekspektasi pertumbuhan laba di masa depan.
PerbesarRekomendasi saham yang layak dilirik di tengah kondisi IHSG yang ambruk. [Suara.com/Rohmat]Saham-saham Potensial
Fanny mengungkapkan kondisi IHSG saat ini mirip dengan indeks saham sejumlah negara lain yang sempat anjlok setelah kabar MSCI, seperti Yordania, Maroko, Argentina, Pakistan, dan India.
Namun demikian, ia menilai kondisi ini bersifat sementara dan berpotensi berbalik menguat setelah ada perbaikan dari sisi operator maupun regulator.
"Situasi Indonesia agak mirip dengan India, di mana saat MSCI memberikan penilaian, sahamnya sempat turun karena ada delay. Tapi penurunannya hanya beberapa bulan, kemudian naik lagi dan sudah recovery setelah adanya klarifikasi," ucapnya.
"Jadi mudah-mudahan dengan klarifikasi yang dilakukan regulator kemarin, tidak membutuhkan waktu panjang untuk kembali rebound. Seperti di Argentina, Maroko, dan Pakistan yang sebelumnya terkoreksi, dalam beberapa bulan bisa rebound lagi. Mungkin menjelang Lebaran mulai akan membaik," sambung Fanny.
Hal senada juga disampaikan Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Muhammad Nafan Aji. Ia menilai secara historis IHSG berpeluang bergerak positif pada periode Februari hingga Juli 2026.
"Bila mengacu pada optimisme, performa positif IHSG diperkirakan terjadi mulai Februari hingga Juli 2026 berdasarkan rata-rata 25 tahun terakhir, dengan memanfaatkan momentum Imlek, Ramadan, maupun Lebaran," katanya.
Adapun berikut daftar saham potensial yang dapat menjadi top picks di tengah kondisi pasar yang masih galau:
BBCA, TLKM, ASII, HMSP, SILO, UNVR, JPFA, INTP, AADI, UNTR, ANTM, BBNI, BBRI, BBTN, BMRI, BRMS, EMAS, INCO, INDF, MDKA, SILO, TLKM, dan ULTJ.
Disclaimer: Perlu diingat, artikel ini dibuat semata-mata sebagai bahan edukasi dan bukan merupakan ajakan untuk berinvestasi. Keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing investor.