Kian Diburu, JP Morgan Prediksi Harga Emas Dunia Sentuh 6.300 Dollar AS
- Bank investasi global JP Morgan memproyeksikan harga emas dunia akan mencapai 6.300 dollar AS per troy ounce (ons) pada akhir 2026.
Ini menggambarkan optimisme kuat di kalangan lembaga keuangan besar terhadap pasar logam mulia yang selama ini dipandang sebagai aset safe haven.
Proyeksi itu muncul di tengah kondisi pasar yang sangat bergejolak dan permintaan yang dinilai tetap kuat di tengah pergeseran strategi alokasi aset global.
Baca juga: Update Harga Emas Antam Hari Ini 3 Februari 2026: Turun Jadi Rp 2,844 Juta per Gram
Pemerintah resmi mengenakan bea keluar untuk ekspor emas. Kebijakan ini dinilai bisa menekan margin emiten tambang, meski harga sahamnya masih bergerak positif.
Proyeksi harga emas 2026 versi JP Morgan
Dalam laporan riset yang dirilis awal Februari 2026, JP Morgan menyatakan bahwa permintaan dari bank sentral dan investor institusional akan menjadi pendorong utama harga emas.
Dikutip dari Mining.com, lembaga ini memperkirakan pembelian emas oleh bank sentral global mencapai 800 ton di 2026, yang dianggap sebagai tren yang bersih, struktural, dan diversifikasi yang berkelanjutan.
“Kami tetap memiliki keyakinan bullish dalam emas dalam jangka menengah, ditopang oleh diversifikasi struktur cadangan yang berlanjut dan rezim di mana aset nyata (real assets) mengungguli aset kertas (paper assets),” tulis analis JP Morgan dalam catatannya.
Prediksi tersebut menempatkan harga emas hampir 30 persen lebih tinggi dari level yang tercatat pada awal 2026, ketika harga sempat diperdagangkan di kisaran sekitar 4.600 sampai 4.700 dollar AS per ounce.
Baca juga: Harga Emas Pegadaian Hari Ini 3 Februari 2026: UBS Rp 2,963 Juta, Galeri24 Rp 2,948 Juta
Ilustrasi emas. Apa prediksi harga emas untuk tahun 2030?
Laju kenaikan tahun ini menambah momentum setelah logam mulia ini mencatat all-time highs alias rekor tertinggi di kisaran 5.594,82 dollar AS per ounce hanya beberapa hari sebelumnya.
Volatilitas harga dalam jangka pendek
Meski proyeksi jangka menengah dan panjang menunjukkan tren positif, pasar emas tetap menunjukkan volatilitas tajam.
Dalam satu sesi perdagangan akhir Januari 2026, misalnya, harga emas dunia anjlok hampir 10 persen dalam satu hari. Ini adalah penurunan terbesar sejak 1983, yang dipicu oleh perubahan margin perdagangan dan sentimen pasar yang sensitif terhadap kebijakan moneter.
Selain itu, peningkatan persyaratan margin oleh CME Group untuk kontrak berjangka emas dan perak memperdalam tekanan jual dalam jangka pendek, memaksa pelaku pasar menambah dana jaminan yang lebih tinggi.
Baca juga: Harga Emas Hari Ini 3 Februari 2026: Rp 3,027 Juta Per Gram, Cek Daftarnya
Dengan perubahan margin, trader harus memobilisasi lebih banyak modal untuk mempertahankan posisi mereka, yang kepada sebagian kalangan analis berpotensi mengurangi partisipasi dari pelaku kecil dan mempercepat realisasi keuntungan.
“Pertumbuhan margin ini merupakan respons terhadap volatilitas yang ekstrem, dan dapat berdampak pada arus masuk dan keluar jangka pendek di pasar kontrak berjangka emas,” kata laporan pasar dari CME.
Peran strategis bank sentral dan alokasi portofolio
JP Morgan menempatkan bank sentral sebagai pembeli strategis yang memberikan fundamental demand untuk emas.
Pembelian oleh bank sentral selama beberapa tahun terakhir telah meningkat, dengan banyak negara yang terus mendiversifikasi cadangan valuta asing mereka dari aset berbasis dollar AS menuju kepemilikan emas fisik.
Baca juga: Harga Emas dan Perak Hari Ini Anjlok, Aksi Jual Guncang Pasar Global
Permintaan ini bukan hanya bersifat spekulatif, tetapi bagian dari strategi kebijakan untuk mengurangi risiko geopolitik dan volatilitas mata uang asing.
Ilustrasi emas batangan
Berdasarkan data World Gold Council, pembelian emas bersih bank sentral pada kuartal IV 2025 mencapai 230 ton, naik sekitar 6 persen dibandingkan kuartal sebelumnya.
Sementara itu, total pembelian emas bank sentral sepanjang tahun 2025 mencapai 863,3 ton, lebih rendah dari bulan-bulan sebelumnya di periode 2022–2024 tetapi masih jauh di atas rerata dekade sebelumnya, yakni sekitar 473 ton.
Data survei dari World Gold Council juga mencatat, sekitar 95 persen responden bank sentral memperkirakan cadangan emas mereka akan meningkat dalam 12 bulan mendatang, menunjukkan kepercayaan institusional pada logam mulia sebagai bagian dari cadangan devisa.
Baca juga: Harga Emas Dunia Anjlok Tajam, Apa Faktor Utamanya?
Tren diversifikasi juga tercermin dalam data World Gold Council yang menunjukkan permintaan global emas pada 2025 mencapai rekor tertinggi.
Tercatat, total permintaan emas dunia pada tahun 2025 mencapai 5.002 metrik ton, level tertinggi dalam sejarah, terpicu oleh lonjakan permintaan investasi investor global.
Permintaan naik sekitar 1 persen secara tahunan, didorong oleh aliran masuk ke produk exchange-traded funds (ETF) dan meningkatnya pembelian emas fisik seperti batangan dan koin.
Lonjakan tersebut dipicu oleh ketidakpastian ekonomi dan geopolitik global, serta kekhawatiran terhadap pelemahan cadangan berbasis mata uang tradisional.
Baca juga: Saat Harga Emas Guncang, Investor Ritel Memilih Tetap Tenang
Perak dan perbandingannya dengan emas
Sementara permintaan emas diproyeksikan kuat, JP Morgan mengadopsi pandangan yang lebih hati-hati terhadap perak. Menurut riset mereka, pemicu rally perak menjadi lebih sulit diidentifikasi dan tidak didukung oleh pembelian struktural dari bank sentral seperti emas.
“Tanpa bank sentral sebagai pembeli struktural seperti di pasar emas, perak berisiko menghadapi fluktuasi harga yang lebih tajam,” tulis analis JP Morgan.
Ilustrasi perak, harga perak, investasi perak. Harga perak dunia anjlok tajam pada perdagangan Jumat (30/1/2026), setelah Presiden Donald Trump mencalonkan Kevin Warsh sebagai Ketua Federal Reserve (The Fed).
Harga perak secara singkat mencapai rekor tetapi kemudian terkoreksi tajam menyusul gejolak di pasar logam mulia.
Perbandingan dengan proyeksi lembaga keuangan lain
Optimisme JP Morgan mengenai emas dibarengi oleh proyeksi lembaga lain yang juga melihat tren harga naik, meskipun dengan target yang berbeda.
Baca juga: Harga Emas Turun, Imbas Sentimen The Fed dan Aksi Ambil Untung
Misalnya, Deutsche Bank memperkirakan harga emas akan mencapai 6.000 dollar AS per ounce pada akhir 2026, dengan asumsi permintaan investor tetap kuat di tengah penyesuaian harga pasar.
Adapun Goldman Sachs merevisi target harga emas hingga 10 persen, seiring menguatnya tren diversifikasi aset ke logam mulia di tengah ketidakpastian kebijakan global.
Dalam catatan terbarunya, dikutip dari Business Insider, analis Goldman Sachs memperkirakan harga emas akan mencapai 5.400 dollar AS per troy ounce pada akhir tahun ini.
Pengaruh kebijakan moneter dan geopolitik
Pergerakan harga emas juga dipengaruhi oleh ekspektasi terhadap kebijakan moneter global.
Baca juga: 3 Pemicu Harga Emas Melonjak dan Penyebabnya Turun
Sentimen pasar terhadap penunjukan pejabat bank sentral, ekspektasi suku bunga, dan arah kebijakan fiskal negara-negara maju tetap menjadi faktor utama yang memicu volatilitas harga emas.
Spekulasi tentang potensi penurunan suku bunga oleh beberapa bank sentral telah mendorong investor untuk mencari aset non-bunga seperti emas, yang dilihat sebagai pelindung nilai di tengah ketidakpastian pasar.
World Gold Council dalam outlook terbarunya menyatakan bahwa ketegangan geopolitik dan ketidakpastian ekonomi global diperkirakan akan terus menjadi pendorong permintaan emas.
Faktor-faktor seperti kebijakan moneter bank sentral yang tidak seragam, volatilitas nilai tukar, dan kekhawatiran terhadap aset berbasis mata uang tradisional tetap menopang permintaan logam mulia.
Baca juga: Harga Emas Turun Setelah Reli Panjang, Analis Ungkap Penyebabnya
Survei terpisah yang dilakukan lembaga itu juga menunjukkan bahwa banyak bank sentral mengelola cadangan emas mereka lebih aktif dengan alasan pengelolaan risiko, di mana risiko merupakan motivasi utama kedua setelah tujuan peningkatan imbal hasil portofolio.
Tag: #kian #diburu #morgan #prediksi #harga #emas #dunia #sentuh #6300 #dollar