Strategi Menabung Realistis di Tengah Tekanan Biaya Hidup
Kebiasaan menabung sering dimulai dari niat yang sederhana, misalnya "tahun ini harus lebih hemat”.
Namun, kebiasaan menabung tak jarang berakhir di minggu ketiga karena biaya hidup datang bertubi-tubi, misalnya kebutuhan dapur, tagihan sekolah, cicilan, sampai pengeluaran tak terduga.
Perlu diingat, menabung bukan soal sempurna atau tidak sama sekali.
Ilustrasi menabung, menabung harian.
Banyak perencana keuangan menekankan target yang kecil tapi konsisten, karena target yang terlalu besar justru membuat rumah tangga kalah sebelum mulai.
Reuters mewartakan, perencana keuangan Cynthia Luna mengingatkan pentingnya target menabung yang tidak mengundang rasa gagal sejak awal.
Cara yang tepat adalah dengan menggunakan langkah-langkah kecil dan membuatnya mudah dicapai serta memotivasi, karena Anda tidak ingin gagal dalam resolusi keuangan Anda," ujarnya.
Berangkat dari pendekatan langkah kecil itu, berikut kerangka praktis menetapkan target menabung yang realistis, yang bisa dicapai tanpa membuat arus kas rumah tangga megap-megap.
1. Mulai dari angka yang benar-benar ada di kas: audit arus kas 30 hari
Target menabung yang realistis selalu dimulai dari baseline, berapa uang yang benar-benar “tersisa” setelah kebutuhan pokok dan kewajiban dibayar.
Banyak rumah tangga merasa tak bisa menabung karena semua pengeluaran tampak sama pentingnya. Karena itu, tahap pertama bukan menentukan nominal tabungan, melainkan memetakan pola uang keluar.
Ilustrasi tabungan. Kehilangan pekerjaan bisa datang tiba-tiba. Agar keuangan tetap aman, dana darurat jadi penyelamat utama. Simak lima cara sederhana membangunnya sejak sekarang.
Cara yang lazim direkomendasikan perencana keuangan adalah mencatat seluruh pengeluaran 30 hari, bukan untuk “menghakimi” belanja, melainkan untuk membedakan tiga kelompok, yakni sebagai berikut.
- Kebutuhan wajib: makan, transport kerja, listrik, air, komunikasi, sewa atau cicilan rumah, pendidikan dasar.
- Kewajiban finansial: cicilan, premi asuransi, iuran, pembayaran utang.
- Belanja fleksibel: hiburan, langganan, makan di luar, belanja impulsif, biaya kecil harian.
Setelah peta ini terbentuk, barulah rumah tangga bisa menilai ruang menabung yang realistis, sering kali bukan dari memotong kebutuhan wajib, tetapi dari “kebocoran kecil” yang tidak terasa.
2. Ubah target besar menjadi target bertahap: dari “3 sampai 6 bulan biaya hidup” ke “Rp 500.000 dulu”
Banyak perencana keuangan menyebut dana darurat ideal 3 sampai 6 bulan pengeluaran. Masalahnya, target itu terasa jauh bagi rumah tangga yang masih bertarung dengan biaya harian.
Karena itu, banyak praktisi menyarankan milestone kecil lebih dulu.
Associated Press (AP) menulis bahwa gagasan menabung setara 3 sampai 6 bulan pengeluaran bisa terasa menakutkan, sehingga lebih baik memulai dari tonggak yang lebih kecil.
Sebaiknya, tetapkan target awal yang terasa ringan tapi nyata, misalnya sebagai berikut.
- Target 1 (2 sampai 8 minggu): Rp 250.000 sampai Rp 1 juta pertama.
- Target 2 (3 sampai 6 bulan): 1 bulan biaya hidup.
- Target 3 (6 sampai 18 bulan): 3 bulan biaya hidup.
- Target 4 (lebih dari 18 bulan): 6 bulan biaya hidup, khususnya bila pendapatan tidak stabil.
Langkah kecil membantu dua hal. Pertama, memberi rasa progres, dan kedua, mengurangi risiko target menabung “mengganggu” kebutuhan pokok.
3. Pakai rumus aman agar tidak memberatkan: mulai dari persentase kecil, lalu naikkan otomatis
Ilustrasi menabung.
Menabung sering gagal bukan karena orang tidak tahu harus menabung, tetapi karena targetnya tidak selaras dengan kemampuan arus kas.
Salah satu pendekatan yang banyak dianjurkan adalah memulai dari persentase kecil pendapatan dan menaikkannya bertahap, bukan langsung melompat.
Di rumah tangga, konsepnya bisa diterapkan tanpa produk khusus, yakni mulai dari 2 sampai 5 persen pendapatan untuk tabungan, lalu naikkan 1 persen tiap 2 sampai 3 bulan, atau setiap kali ada kenaikan gaji atau bonus.
Kenaikan bertahap membuat adaptasi gaya hidup lebih halus.
4. Otomasi adalah kunci
Banyak pakar menekankan bahwa menabung tidak boleh bergantung pada niat setiap akhir bulan, karena yang terjadi biasanya justru menabung dari sisa, dan sisanya sering nol.
Otomasi bisa dibuat sederhana:
- Autodebet tabungan tepat setelah gajian (H+0 atau H+1).
- Pisahkan rekening: rekening transaksi harian dan rekening tabungan atau tujuan.
Jika pendapatan tidak tetap, otomatisasi bisa berbentuk aturan, misalnya 10 persen dari setiap pemasukan masuk ke rekening tabungan.
Perencana keuangan Doug Boneparth dalam warta Reuters juga menekankan karakter dana darurat harus aman dan mudah diakses.
"Harus aset rendah risiko, likuid, dan mudah diakses," sarannya.
Artinya, target menabung harus ditempatkan pada instrumen yang tidak mengundang risiko besar dan bisa dicairkan saat dibutuhkan.
Dana darurat adalah dana yang disisihkan atau dialokasikan untuk situasi darurat atau genting seperti kehilangan pekerjaan, masalah kesehatan, kecelakaan, atau kerusakan rumah
5. Susun target berdasarkan tujuan: dana darurat, tujuan pendek, dan tujuan panjang jangan dicampur
Salah satu alasan target menabung terasa berat adalah karena rumah tangga mencoba mengejar semuanya sekaligus, misalnya dana darurat, liburan, uang sekolah, renovasi rumah, dan pensiun semuanya dalam satu rekening.
Ketika ada kebutuhan mendadak, tabungan terpakai, lalu motivasi runtuh karena merasa balik ke nol.
Cara yang lebih realistis adalah membagi tujuan:
- Dana darurat (prioritas awal): fokus likuiditas.
- Tujuan jangka pendek (3 sampai 18 bulan): misalnya biaya sekolah anak semester depan, servis kendaraan, mudik, DP barang penting.
- Tujuan jangka panjang (di atas 3 tahun): misalnya pendidikan anak jangka panjang, pensiun, pembelian rumah.
Dengan pemisahan ini, rumah tangga bisa menilai kontribusi yang masuk akal untuk masing-masing pos, tanpa mengorbankan kebutuhan harian.
6. Sisakan ruang untuk hidup agar target tabungan tidak memicu balas dendam belanja
Target menabung yang terlalu ketat sering memicu rebound: beberapa minggu disiplin, lalu “balas dendam” belanja karena lelah menahan diri.
Karena itu, target yang realistis biasanya menyisakan ruang kecil untuk hiburan atau kebutuhan psikologis.
Ingat, tidak ada satu ukuran yang cocok untuk semua orang.
"Tidak ada solusi yang sama untuk semua. Tiap orang berbeda, khususnya jika Anda memiliki variabel pengeluaran dalam basis bulanan," tutur akuntan public bersertifikat Miklos Ringbauer dalam warta AP.
Prinsip “anggaran bernapas” bisa diterapkan dengan cara, ketika menetapkan target menabung, pastikan masih ada pos fleksibel meski kecil. Tujuannya bukan memanjakan belanja, melainkan menjaga konsistensi.
Ilustrasi menabung. Tips menabung yang efektif untuk Gen Z agar keuangan tetap aman.
7. Andalkan “windfall”
Bagi rumah tangga yang arus kasnya mepet, menabung dari pendapatan rutin kadang terasa mustahil.
Dalam kondisi ini, banyak pakar menyarankan memanfaatkan pemasukan tak terduga (windfall) untuk mempercepat capaian, tanpa mengganggu belanja kebutuhan.
"Uang tambahan yang tak terduga, seperti pengembalian pajak atau gaji ketiga padahal biasanya hanya dua kali sebulan, atau bonus, adalah cara terbaik untuk mengatasi kesulitan keuangan Anda," ucap Rachel Lawrence, head of advice and planning di Monarch Money.
Prinsip yang bisa diadopsi adalah, ketika ada bonus atau pendapatan tak rutin, tentukan porsi tetap untuk tabungan, misalnya 50 sampai 80 persen.
Kemudian, sisakan sebagian kecil untuk “hadiah” agar tetap terasa manusiawi, tanpa membuat target tabungan bergantung pada windfall semata.
8. Ukur progres dengan cara yang terlihat agar motivasi tidak hanya “perasaan”
Menabung sering terasa lambat karena hasilnya tidak kasatmata.
"Anda ingin otak Anda mendapatkan penghargaan sesering mungkin ketika Anda melihat banyak kemajuan," kata Lawrence.
Bentuk visualnya bisa sederhana, misalnya tracker target di catatan ponsel, grafik manual, atau fitur goal di aplikasi bank. Yang penting, target dipecah menjadi milestone kecil sehingga progres lebih sering terlihat.
9. Jadwalkan evaluasi rutin
Ilustrasi mengatur keuangan bersama pasangan.
Target menabung yang realistis bukan angka yang dipahat permanen. Target menabung mengikuti perubahan pendapatan, biaya sekolah, kondisi kesehatan, hingga kenaikan harga.
Jika satu bulan gagal menyetor tabungan sesuai target, itu tidak otomatis berarti kebiasaan menabung gagal total.
Dalam laporan Reuters tentang resolusi finansial, Rita Assaf, vice president di Fidelity menjelaskan pergeseran fokus banyak orang ke tujuan jangka pendek, seiring kekhawatiran biaya hidup harian.
“Tujuan menabung jangka pendek lebih diprioritaskan saat ini. Orang-orang sangat khawatir tentang kebutuhan sehari-hari,” ujar dia.
Evaluasi berkala, misalnya setiap akhir bulan atau tiap 90 hari, membantu rumah tangga menyesuaikan target tanpa rasa bersalah berlebihan.
Prinsipnya, target diubah agar tetap bisa dijalankan, bukan dipaksakan hingga memicu stres finansial.
10. Patokan eksternal sebagai konteks, bukan standar wajib
Ada banyak patokan populer, misalnya anjuran menabung 15 persen pendapatan. Patokan semacam ini berguna sebagai kompas, tetapi berisiko menjadi beban jika dipakai sebagai syarat lulus.
Target menabung yang realistis selalu kembali ke konteks rumah tangga, struktur biaya hidup, stabilitas pendapatan, dan kewajiban yang sedang berjalan.
Merangkai target menabung yang realistis: contoh kerangka 4 langkah
Berbagai saran pakar di atas dapat diringkas menjadi kerangka kerja yang mudah dipakai, yakni sebagai berikut.
- Hitung baseline: pengeluaran wajib + kewajiban finansial, lalu lihat ruang sisa.
- Pilih target kecil dulu: “Rp X pertama” atau persentase kecil (2 sampai 5 persen).
- Otomasi dan pisahkan rekening: agar menabung tidak bergantung pada niat.
- Naikkan bertahap + evaluasi berkala: tambah 1 persen secara periodik atau setiap ada pendapatan tak terduga.
Kerangka ini sejalan dengan penekanan banyak pakar, yaitu kecil, otomatis, dan bertahap, agar target menabung tetap bisa dicapai tanpa memberatkan keuangan rumah tangga.
Tag: #strategi #menabung #realistis #tengah #tekanan #biaya #hidup