Skenario ''Bullish'' IHSG: Berpeluang Naik ke Level 10.000 pada 2026?
- Target Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menembus level psikologis 10.000 dalam satu tahun ke depan dinilai realistis selama ditopang stimulus kebijakan, perbaikan likuiditas, serta pergerakan sektor-sektor kunci yang mampu menjaga momentum pasar.
Investment Specialist PT Korea Investment And Sekuritas Indonesia, Ahmad Faris Mu’tashim, mengatakan jika dilihat dari sisi valuasi pasar, IHSG saat ini diperdagangkan pada kisaran price to earnings (PE) ratio sekitar 22 kali, yang berarti berada sedikit di atas rata-rata historisnya di level 20,5 kali.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa pasar saham Indonesia tidak lagi berada pada fase valuasi murah, namun juga belum dapat dikategorikan mahal secara ekstrem. Valuasi itu mencerminkan ekspektasi investor terhadap pertumbuhan laba emiten ke depan, seiring dengan prospek ekonomi domestik yang dinilai masih solid.
IHSG berpeluang ke level 10.000?
Berdasarkan kajian tim riset Korea Investment And Sekuritas Indonesia, level valuasi tersebut masih memberikan ruang bagi penguatan IHSG dalam jangka menengah. Tim riset memproyeksikan IHSG berpeluang mencapai level 10.000 dalam 12 bulan ke depan, dengan asumsi skenario bullish yang realistis.
Skenario ini ditopang oleh efek multiplier dari kebijakan fiskal yang lebih longgar, yang diharapkan mampu mendorong daya beli masyarakat dan aktivitas ekonomi secara luas. Ketika konsumsi dan belanja pemerintah meningkat, kinerja korporasi berpotensi membaik, sehingga mendukung pertumbuhan laba emiten.
“Bicara valuasi pasar, IHSG saat ini diperdagangkan di kisaran PE rasio 22x sedang berada sedikit di atas area rata-rata historisnya yaitu 20,5x. Tim riset kami menjabarkan bahwa 10.000 merupakan target IHSG selama 12 bulan kedepan dengan potensi bullish skenario didukung oleh efek multiplier dari fiskal yang lebih longgar guna menggenjot daya beli, setara PE 23,5x,” ujar Ahmad Faris kepada Kompas.com.
Dari sisi teknikal, ia menilai perjalanan IHSG menuju level tersebut tidak akan berlangsung tanpa tantangan. Pasar masih berpotensi bergerak volatil dengan fase konsolidasi di jangka pendek.
Menurutnya, untuk melanjutkan tren penguatan menuju 10.000, IHSG perlu menembus area resistensi penting di 9.530 dan 9.700. Sementara dalam jangka pendek, pergerakan indeks diperkirakan berada di rentang 8.850-9.060.
“Secara analisa teknikal untuk menuju level 10.000 IHSG harus melewati resisten di level 9530 dan 9700 dengan proyeksi pergerakan jangka pendek berada di range 8850-9060,” paparnya.
Cermati EXCL
Memasuki 2026, perhatian investor dinilai akan semakin selektif dan terfokus pada sektor-sektor yang memiliki katalis struktural. Salah satu sektor yang dipandang memiliki peluang besar adalah telekomunikasi. Setelah bertahun-tahun tertekan akibat perang harga antar operator, tekanan tersebut mulai mereda seiring maraknya konsolidasi industri.
Dalam konteks tersebut, saham PT XL Axiata Tbk (EXCL) dinilai layak dicermati. Faris menyebut EXCL memiliki momentum teknikal yang cenderung uptrend, didukung sentimen positif dari rencana merger dan akuisisi dengan PT Smartfren Telecom Tbk (FREN). Target harga saham EXCL dipatok di 4.460.
“Salah satu saham andalan yang bisa investor cermati adalah EXCL dengan target 4460 didukung momentum harga yang cenderung uptrend dari sisi teknikal dan sentimen dari positif dari aksi merger dan akuisisi dengan Smartfren,” bebernya.
Prospek sektor perbankan 2026
Selain telekomunikasi, sektor perbankan juga diperkirakan kembali menjadi penopang utama IHSG seiring mulai pulihnya likuiditas perekonomian. Faris menyoroti data pertumbuhan uang beredar dalam arti luas (M2) yang tumbuh 8,3 persen secara tahunan (year on year/Yoy) pada November 2025 sebagai sinyal awal pemulihan ekonomi domestik.
Tumbuhnya likuiditas akan mendorong ekspansi kredit dan kinerja perbankan. Meski harga saham perbankan besar belum banyak terapresiasi dalam jangka pendek, saat ini emiten-emiten seperti PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI), PT Bank Mandiri Tbk (BMRI), dan PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) menawarkan dividend yield sekitar 8-9 persen.
Lebih jauh, tingkat imbal hasil dividen tersebut berpotensi mendorong pergeseran dana investor institusi dari obligasi ke pasar saham. Dengan valuasi yang relatif atraktif dan arus kas yang stabil, sektor perbankan dinilai cocok bagi investor dengan strategi yielding.
“Sektor tersebut diperdagangkan dalam valuasi yang cukup atraktif, dan cocok untuk tipe investor yang menggunakan strategi yielding, karena dividend yield yang ditawarkan cukup besar,” lanjut Ahmad Faris.
Sementara itu, Senior Investment Information Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, menilai pencapaian IHSG di level 10.000 sangat bergantung pada kekuatan saham-saham berkapitalisasi besar, baik dari kelompok blue chip maupun emiten konglomerasi.
“Untuk mendorong IHSG ke 10.000 pada 2026, peran saham-saham blue chip dan konglomerasi sangat krusial. Bahkan, dalam proyeksi internal kami, IHSG berpotensi mencapai 10.500 jika seluruh katalis berjalan optimal,” ungkap Nafan.
Dari sisi fundamental, Nafan menegaskan kondisi makroekonomi Indonesia masih berada dalam jalur yang solid. Konsumsi domestik tetap menjadi tulang punggung pertumbuhan, diperkuat oleh kebijakan pemerintah yang pro-stimulus.
“Fundamental makro kita masih kuat. Konsumsi terjaga, kebijakan pemerintah mendukung stimulus ekonomi, dan Bank Indonesia juga konsisten menjaga stabilitas moneter sekaligus memperkuat resiliensi ekonomi,” jelasnya.
Kebijakan suku bunga acuan yang lebih akomodatif juga dinilai menjadi elemen penting untuk meningkatkan likuiditas di pasar modal. Di sisi lain, kehadiran Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) berpotensi memberikan tambahan dukungan likuiditas bagi pasar saham Tanah Air.
Dari perspektif global, tren penurunan suku bunga acuan di sejumlah negara maju juga diperkirakan masih berlanjut, sehingga dapat meningkatkan global liquidity dan mendorong arus dana ke pasar negara berkembang, termasuk Indonesia.
Meski demikian, Nafan mengingatkan risiko eksternal tetap tidak bisa diabaikan. Ketegangan geopolitik global dan potensi eskalasi konflik dapat menjadi sumber volatilitas pasar. Selain itu, penerapan kebijakan tarif residual di beberapa negara berpotensi menekan ekspor dan memperlambat pertumbuhan ekonomi global.
“Headwind pasti ada, baik dari geopolitik maupun perlambatan ekonomi global. Jika eskalasi terjadi dan tarif diberlakukan, dampaknya bisa menekan kinerja ekspor. Namun kuncinya adalah ketahanan ekonomi domestik kita tetap harus terjaga,” kata Nafan.
Disclaimer: Artikel ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Seluruh rekomendasi berasal dari analis sekuritas. Keputusan investasi menjadi tanggung jawab investor. Pastikan melakukan riset mandiri sebelum menentukan pilihan.
Tag: #skenario #bullish #ihsg #berpeluang #naik #level #10000 #pada #2026