Bukan Hanya untuk Ibadah, Puasa Bantu Kurangi Stres dan Mengelola Emosi Menurut Psikolog
Ilustrasi puasa. Puasa bukan hanya menahan lapar, tetapi juga membantu menata ulang emosi, stres, dan pola pikir menurut penjelasan psikiater.(Freepik)
03:35
24 Februari 2026

Bukan Hanya untuk Ibadah, Puasa Bantu Kurangi Stres dan Mengelola Emosi Menurut Psikolog

- Ibadah puasa di bulan Ramadhan umumnya dianggap sebagai kewajiban spiritual saja.

Namun sebenarnya, di balik itu, terdapat dimensi psikologis yang berhubungan erat dengan kesehatan mental dan stabilitas emosi.

Di tengah padatnya kesibukan serta tekanan media sosial, momen Ramadhan menjadi waktu yang tepat untuk mengatur diri melalui mekanisme puasa.

Baca juga: Puasa Melatih Kesabaran, Psikiater Jelaskan Cara Otak Mengendalikan Emosi

Puasa Meningkatkan Hormon Endorphin

Psikolog Klinis, Universitas Airlangga (unair) Dian Kartika Amelia Arbi, mengatakan, secara ilmiah, puasa berhubungan dengan perubahan hormon dalam tubuh yang berdampak langsung pada kondisi psikis seseorang.

Ia menuturkan, bahwa beberapa penelitian menunjukkan ibadah puasa berpengaruh pada peningkatan hormon endorphin.

Hormon ini berperan penting dalam memberikan rasa tenang serta membantu menurunkan tingkat stres secara alami.

Meski beberapa studi menunjukkan hasil yang berbeda-beda, secara umum proses menahan diri saat berpuasa memicu tubuh untuk memproduksi hormon positif yang mendukung suasana hati yang baik.

“Inti utama dari ibadah puasa pada dasarnya terletak pada latihan kontrol diri (self-control),” kata Dian, Senin (23/2/2026).

Kemampuan ini menjadi dasar bagi kesehatan mental, karena individu diajak untuk mengenali dan mengelola dorongan emosinya.

Melatih Menahan Diri

Hal ini selanjutnya akan menjaga stabilitas emosi di tengah tekanan pekerjaan maupun tugas akademik yang sering memicu kecemasan.

“Puasa melatih individu untuk menahan diri dalam melakukan sesuatu secara berlebih. Jika rutin dilakukan, hal ini akan berdampak signifikan pada penguatan kontrol diri seseorang," ungkapnya.

Menurutnya, sampai saat ini belum ada penelitian kuat yang menempatkan puasa sebagai metode utama untuk mengatasi gangguan psikologis.

Baca juga: Puasa Bisa Bantu Detoks Jiwa, Psikiater Ungkap Dampaknya bagi Mental

Namun, puasa seringkali menjadi kegiatan pendukung dalam mendampingi pengobatan atau intervensi psikologi lainnya, karena sifatnya yang menyeluruh.

Karakteristik puasa yang dijalankan dengan benar terbukti mampu membuat tubuh menjadi lebih sehat melalui stimulasi hormon positif.

Jika berbarengan dengan penguatan kontrol diri yang terbentuk selama sebulan penuh, puasa dapat menjadi pendukung yang efektif dalam menjaga stabilitas mental.

“Melalui kontrol diri yang terasah, harapannya dapat memiliki ketahanan mental yang lebih baik dalam menghadapi berbagai tantangan kehidupan di masa depan,” pungkasnya.

Baca juga: 40 Ucapan Selamat Buka Puasa untuk Pasangan, Romantis dan Penuh Doa

Tag:  #bukan #hanya #untuk #ibadah #puasa #bantu #kurangi #stres #mengelola #emosi #menurut #psikolog

KOMENTAR