IPA: Migas Masih Strategis di Tengah Transisi Energi, 1 Juta Barrel Bisa Dikejar
Ilustrasi industri minyak dan gas (migas).(DOK. Shutterstock)
09:12
7 Januari 2026

IPA: Migas Masih Strategis di Tengah Transisi Energi, 1 Juta Barrel Bisa Dikejar

- Industri minyak dan gas (migas) dinilai masih strategis, meski saat ini Indonesia memasuki era transisi dari energi fosil ke energi baru terbarukan (EBT).

Direktur Eksekutif Indonesian Petroleum Association (IPA) Marjolijn Wajong mengatakan, minyak dan gas tetap dibutuhkan untuk industri nasiona, seperti feed industri petrokimia hingga pupuk.

Energi fosil juga masih dibutuhkan untuk memastikan ketersediaan energi yang stabil sambil secara bertahap meningkatkan kontribusi energi bersih.

"Energi fosil tidak cuma mau eksis, tapi punya tugas menjaga agar sebelum renewable cukup, kebutuhan energi Indonesia yang naik bisa dipenuhi. Kita menjaga jangan sampai peralihan itu tiba-tiba, kita belum siap, minyak-gas sudah tidak ada," ucapnya dalam acara Naratama by Amir Sodikin (AMR): Masihkah Migas Dibutuhkan di Era Renewable Energy?, dikutip Rabu (7/1/2025).

Menurut Marjolijn, Indonesia memiliki potensi migas yang besar.

Ia bahkan meyakini, cita-cita produksi 1 juta barrel minyak per hari (bph) dan 12 miliar kaki kubik gas per hari (BSCFD) bisa tercapai.

Hanya saja diperlukan upaya yang optimal untuk bisa menaikkan produksi migas RI saat ini yang masih berkisar 600.000 barrel minyak per hari dan 5,8 miliar kaki kubik gas.

"Menurut saya (target) itu bisa dicapai kalau eksplorasi kita cukup naik, kegiatan eksplorasi yang mudah-mudahan discovery-nya juga besar. Apakah persis 2030 atau tidak (tercapainya), saya tidak tahu," kata dia.

"Tapi kita harus percaya bahwa usaha untuk menaikkan produksi melalui eksplorasi harus kita lakukan dengan segiat-giatnya," imbuh Marjolijn.

Tantangan Industri Hulu Migas

Ia menuturkan, tantangan yang dihadapi industri hulu migas saat ini adalah pasokan yang menurun seiring dengan menuanya sumur-sumur.

Maka dari itu, teknologi menjadi kunci untuk meningkatkan produksi pada lapangan tua.

Tentunya, dalam hal ini dibutuhkan investor untuk mendukung pendanaan teknologi yang lebih modern.

Namun pemerintah harus memiliki kebijakan yang mampu membuat investor tertarik untuk berinvestasi di industri hulu migas RI.

"Teknik yang baru membutuhkan keekonomian yang lebih kuat. Pertanyaannya, bagaimana Indonesia bisa mengatasi tantangan yang harus dihadapi oleh lapangan-lapangan sulit di mana membutuhkan teknologi dan membutuhkan keekonomian yang cukup menarik untuk para investor? Itu masalahnya," kata dia.

Lebih lanjut, Marjolijn menambahkan, koordinasi dengan pemerintah menjadi hal penting agar kebijakan migas lebih menarik bagi investor.

IPA pun aktif berdiskusi dengan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), SKK Migas, hingga DPR untuk membahas regulasi, perizinan, dan insentif fiskal.

Menurutnya, ada beberapa prasyarat yang membuat investor tertarik melakukan eksplorasi migas di Indonesia.

Pertama, industri harus berjalan berdasarkan kontrak jangka panjang dengan pemerintah yang ditaati kedua belah pihak, baik secara teknis maupun keekonomian, sehingga menimbulkan kepercayaan.

Kedua, keekonomian yang ditawarkan harus kompetitif dibanding negara lain, mencakup aspek fiskal dan fleksibilitas kontrak.

Selain itu, kemudahan berusaha atau perizinan juga menjadi faktor penting, agar investor bisa lebih fokus pada pencarian dan produksi migas tanpa terbebani prosedur administrasi yang rumit

"IPA akan melakukan benchmarking (perbandingan) dengan negara-negara yang berhasil menaikkan produksinya. Kami menggandeng mitra kerja untuk memperlihatkan cara-cara yang dipakai di dunia lain yang mudah-mudahan bisa membantu pemikiran kita di Indonesia," kata dia.

Tag:  #migas #masih #strategis #tengah #transisi #energi #juta #barrel #bisa #dikejar

KOMENTAR