Inflasi 2026 Diproyeksi di Bawah 3 Persen, BI Soroti Dampak Diskon Listrik dan Ramadan
Ilustrasi Bank Indonesia (BI). Jadwal operasional BI Nataru 2025/2026. Jadwal operasional BI saat libur Nataru 2025/2026. Jadwal operasional BI Desember 2025.(SHUTTERSTOCK/FRRN)
16:36
22 Februari 2026

Inflasi 2026 Diproyeksi di Bawah 3 Persen, BI Soroti Dampak Diskon Listrik dan Ramadan

– Bank Indonesia (BI) memproyeksikan inflasi pada 2026 tetap terjaga, bahkan berada di bawah 3 persen.

Proyeksi tersebut disampaikan Deputi Gubernur BI Aida S Budiman dengan menekankan adanya faktor teknis yang memengaruhi pergerakan inflasi pada awal tahun.

“Yang pertama adalah perkiraan kami untuk inflasi di tahun 2026 ini semuanya akan terjaga, bahkan forecast-nya itu masih di bawah 3 persen,” ujar Aida dalam konferensi pers Rapat Dewan Gubernur BI Februari 2026.

Baca juga: Masih Terdampak Diskon Listrik, BI Perkirakan Inflasi Saat Ramadhan dan Lebaran di Atas 3 Persen

ilustrasi inflasiKOMPAS.com/ RUBY RACHMADINA ilustrasi inflasi

Meski demikian, ia menggarisbawahi adanya dampak lanjutan dari kebijakan diskon tarif listrik pada 2025 yang masih memengaruhi inflasi pada awal 2026.

Diskon tarif listrik yang berlaku pada Januari dan Februari 2025 menciptakan efek basis (base effect) terhadap inflasi tahunan di periode yang sama tahun berikutnya.

“Yang kedua untuk yang perlu digarisbawahi untuk inflasi di 2026 ini adanya dampak dari diskon listrik di tahun 2025 yaitu pada bulan Januari dan Februari dan nanti masih terasa dampaknya sampai Januari, Februari, Maret 2026,” kata Aida.

Ia mencontohkan, pada Januari 2026, Indeks Harga Konsumen (IHK) tercatat sebesar 3,55 persen secara tahunan. Angka ini sedikit berada di atas rentang target inflasi BI yang ditetapkan sebesar 2,5 persen plus minus 1 persen.

Baca juga: Inflasi Denpasar Melebihi Nasional, Pedagang Diberi Subsidi Rp 3.000

“Sehingga seperti diketahui di bulan Januari ini saja IHK kita adalah 3,55 persen. Jadi sedikit di atas target inflasi kita 2 3,5 persen. Tapi ini sifatnya sementara,” ujarnya.

Target inflasi

Ilustrasi Bank IndonesiaSHUTTERSTOCK/HARISMOYO Ilustrasi Bank Indonesia

Sasaran inflasi nasional yang ditetapkan pemerintah bersama BI untuk 2025 dan 2026 berada pada kisaran 2,5 persen plus minus 1 persen.

Artinya, inflasi diharapkan bergerak dalam rentang 1,5 persen hingga 3,5 persen.

Dalam berbagai publikasi resminya, BI menyatakan komitmen untuk menjaga stabilitas harga melalui bauran kebijakan moneter, makroprudensial, dan sistem pembayaran, serta penguatan koordinasi dengan pemerintah pusat dan daerah melalui Tim Pengendalian Inflasi Pusat (TPIP) dan Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID).

Baca juga: Inflasi 3,55 Persen: Alarm Awal Tahun

BI juga menekankan bahwa pengendalian inflasi dilakukan dengan memperhatikan faktor inflasi inti (core inflation), inflasi komponen bergejolak (volatile food), serta harga yang diatur pemerintah (administered prices).

Dalam konteks awal 2026, Aida menjelaskan bahwa kenaikan inflasi di Januari dan Februari lebih banyak dipengaruhi komponen administered prices akibat efek diskon listrik pada tahun sebelumnya.

Kenaikan harga jelang Ramadan dan Lebaran diperkirakan terkendali

Selain faktor teknis tersebut, BI juga memantau potensi kenaikan harga menjelang Ramadan dan Idul Fitri 2026. Secara historis, periode ini kerap diikuti peningkatan permintaan masyarakat, terutama untuk bahan pangan.

Aida menyampaikan, secara umum kondisi inflasi pada periode Ramadan dan Lebaran tahun ini diperkirakan tetap terjaga.

Baca juga: Inflasi Tahunan Januari 2026 Tembus 3,55 Persen, Ini Sebabnya Kata BI

“Bagaimana kondisi untuk di bulan Ramadan dan Lebaran ini semuanya masih terjaga. Tetapi tadi masih ada dampak daripada administered prices akibat diskon listrik yang terjadi di tahun lalu. Sehingga kami perkirakan angkanya sedikit di atas 3 persen,” ujarnya.

Ilustrasi inflasi. SHUTTERSTOCK/LIGHTSPRING Ilustrasi inflasi.

Ia menegaskan, tekanan tersebut tidak berasal dari sisi pasokan pangan. Menurutnya, kondisi produksi hortikultura saat ini dalam fase panen, sehingga suplai relatif mencukupi.

“Tetapi kalau ditanya bagaimana kondisi pangannya, sejauh ini juga kita melihat kondisinya pasokannya terjaga. Sekarang sedang lagi ada musim panen untuk hortikultura seperti bawang merah, cabai merah, cabai rawit,” kata Aida.

Komoditas-komoditas tersebut termasuk dalam kelompok volatile food yang kerap berkontribusi besar terhadap inflasi bulanan, terutama menjelang hari besar keagamaan.

Baca juga: ODOL dan Inflasi Jadi Sorotan, Jalur Logistik Khusus Diusulkan

BI, lanjut Aida, melakukan pemantauan harga secara rutin untuk memastikan pergerakan harga tetap dalam kisaran yang telah diproyeksikan.

“Kami melakukan monitoring mingguan untuk harga-harga semuanya masih dalam kisaran proyeksi dari Bank Indonesia. Jadi mudah-mudahan ini akan terus terjaga sampai dengan bulan Maret,” ujarnya.

Ia kembali menekankan, lonjakan inflasi pada Januari dan Februari lebih dipengaruhi faktor teknis akibat kebijakan diskon listrik sebelumnya.

“Tetapi tadi ya bahwa Januari, Februari ini agak sedikit tinggi tapi karena dampak daripada diskon listrik yang terjadi di tahun lalu,” kata dia.

Baca juga: Inflasi Januari 2026 3,55 Persen, Dipicu Tarif Listrik hingga Beras

Koordinasi TPIP dan TPID

Dalam upaya menjaga stabilitas harga, BI memperkuat koordinasi melalui TPIP dan TPID yang melibatkan kementerian dan pemerintah daerah.

Aida menyebutkan, koordinasi dilakukan secara berkelanjutan bersama kementerian di bawah koordinasi Kementerian Koordinator.

“Kemudian bagaimana kita akan terus menjaganya ke depan tentunya koordinasi yang selalu dilakukan di TPIP dan di TPID di seluruh kantor-kantor perwakilan Bank Indonesia dan juga dengan Kemen di bawah Kemenko,” ujarnya.

Ilustrasi inflasi. Inflasi adalah. Penyebab inflasi. Inflasi menyebabkan apa.SHUTTERSTOCK/YELLOW_MAN Ilustrasi inflasi. Inflasi adalah. Penyebab inflasi. Inflasi menyebabkan apa.

TPIP dan TPID menjalankan strategi pengendalian inflasi yang dikenal dengan kerangka 4K, yakni keterjangkauan harga, ketersediaan pasokan, kelancaran distribusi, dan komunikasi efektif.

Baca juga: BI Optimistis Inflasi Turun Meski Awal 2026 Sentuh 3,55 Persen

Kerangka ini diarahkan untuk menjaga stabilitas harga pangan, memperkuat sinergi kebijakan pusat dan daerah, serta meminimalkan gejolak harga akibat gangguan pasokan atau distribusi.

Peluncuran GPIPS

Dalam kesempatan tersebut, Aida juga mengungkapkan peluncuran Gerakan Pengendalian Inflasi dan Pangan Sejahtera (GPIPS). Program ini merupakan penguatan dari gerakan sebelumnya dengan penekanan lebih besar pada ketahanan pangan.

“Sekarang ini kami sudah juga melakukan launching gerakan pengendalian inflasi dan pangan sejahtera atau disingkat GPIPS,” ujarnya.

Ia menjelaskan, perbedaan utama GPIPS dibandingkan Gerakan Nasional Pengendalian Inflasi Pangan (GNPIP) adalah penekanan yang lebih kuat pada aspek pasokan dan distribusi.

Baca juga: Airlangga Ungkap Penyebab Inflasi Tahunan Januari 2026

“Jadi perbedaannya dengan GNPIP di sini kita lebih kuat lagi bagaimana untuk menjaga ketahanan pangannya melalui pasokan dan juga kelancaran distribusi,” kata Aida.

Peluncuran GPIPS telah dilakukan di Sumatera Selatan dan akan berlanjut di berbagai daerah lainnya.

“Kemarin baru di launching oleh Pak Ricky (Deputi Gubernur BI Ricky Perdana Gozali) di Sumatera Selatan dan akan berlanjut ada launching-launching lagi bersama-sama dengan pemerintah pusat dan daerah untuk memastikan inflasi yang terjaga termasuk pada saat Ramadan dan Idul Fitri,” ujarnya.

BI menyatakan akan terus memperkuat respons kebijakan untuk memastikan inflasi inti terkendali, menjaga ekspektasi inflasi, serta mengantisipasi risiko global dan domestik, termasuk dinamika harga energi dan pangan.

Baca juga: Inflasi Januari Naik ke 3,55 Persen, Pemerintah Nilai Bersifat Sementara

Untuk inflasi 2026, proyeksi BI yang disampaikan Aida menunjukkan keyakinan tekanan harga tetap dapat dikelola meskipun terdapat efek lanjutan dari kebijakan tarif listrik tahun sebelumnya.

Dengan inflasi Januari 2026 yang tercatat 3,55 persen secara tahunan, pergerakan harga pada awal tahun masih berada dalam rentang sasaran meskipun mendekati batas atas. BI memandang kondisi tersebut bersifat sementara dan dipengaruhi faktor basis.

Sementara itu, pemantauan terhadap komponen volatile food dan administered prices tetap menjadi perhatian utama, terutama menjelang periode musiman seperti Ramadan dan Idul Fitri.

BI menegaskan akan terus memperkuat koordinasi kebijakan serta implementasi program pengendalian inflasi di tingkat pusat dan daerah guna menjaga stabilitas harga sepanjang 2026.

Tag:  #inflasi #2026 #diproyeksi #bawah #persen #soroti #dampak #diskon #listrik #ramadan

KOMENTAR