Clarity Act Berpeluang Lolos 90 Persen, Harga Bitcoin Diprediksi Meledak
Ilustrasi bitcoin. (WIKIMEDIA COMMONS/JORGE FRANGANILLO)
16:44
22 Februari 2026

Clarity Act Berpeluang Lolos 90 Persen, Harga Bitcoin Diprediksi Meledak

- Harga bitcoin (BTC) dan kripto berfluktuasi tajam dalam beberapa pekan terakhir. Perubahan sikap Goldman Sachs belum mampu mengangkat harga bitcoin dari koreksi 50 persen.

Memasuki 2026, harga bitcoin masih tertatih setelah melewati tahun yang berat. Kondisi ini terjadi di tengah dollar AS yang disebut berada di ambang pelemahan besar.

Kini, pasar kripto bersiap menghadapi potensi kejutan dari Elon Musk yang disebut sebagai “game-changer”. Selain itu, perubahan besar di Washington DC dinilai bisa memicu guncangan harga bitcoin yang “masif”.

Baca juga: Bitcoin Turun ke 66.450 dollar AS, Jadi Sinyal Fase Konsolidasi?

Peluang Clarity Act Tembus 90 Persen

Dilansir dari Forbes, Minggu (22/2/2026), peluang lolosnya RUU struktur pasar kripto atau yang dikenal sebagai Digital Asset Market Clarity Act (Clarity Act) melonjak ke 90 persen di platform prediksi Polymarket pada pekan ini.

Angka itu naik dari posisi terendah 40 persen pada Januari, sebelum kembali turun ke kisaran 70 persen.

Presiden AS Donald Trump mendorong Clarity Act yang dinilai berpotensi membuka “pintu air” harga kripto.

Kapitalis ventura Michaël van de Poppe menilai Clarity Act bisa menjadi pemicu besar bagi pasar.

“Clarity Act akan menjadi pemicu besar bagi pasar,” tulisnya di X, sembari menyoroti pertumbuhan stablecoin setelah pengesahan Genius Act tahun lalu.

Baca juga: Bitcoin (BTC) Tertekan Ketidakpastian Suku Bunga The Fed

Tahun lalu, antusiasme terhadap RUU stablecoin Genius Act ikut mendorong harga bitcoin. Gelombang prediksi bullish pun bermunculan.

Salah satu pendiri Satoshi Action Fund, Dennis Porter, mengatakan begitu RUU struktur pasar kripto itu diteken menjadi undang-undang, pintu air akan terbuka lebar.

“Begitu disahkan menjadi undang-undang, pintu air akan terbuka lebar dan arus modal akan seperti yang belum pernah Anda lihat sebelumnya,” tulis Porter di X.

Bintang Shark Tank Kevin O’Leary mengatakan ada triliunan dollar AS yang menunggu di pinggir lapangan.

“Ada triliunan dollar AS yang menunggu. Namun dana itu tidak bisa bergerak sampai ada regulasi dan infrastruktur kepatuhan yang jelas,” ujar O’Leary kepada Coindesk.

Baca juga: Bitcoin Turun ke 67.172 Dollar AS, Investor Pantau Support 66.200

Pembahasan di Gedung Putih Dinilai Konstruktif

Pekan ini, pertemuan terbaru antara Gedung Putih dengan kelompok kripto dan perbankan disebut berlangsung konstruktif. Pertemuan itu membahas solusi terkait pembayaran bunga stablecoin dalam Clarity Act yang sempat mandek.

Sejumlah laporan menyebut Gedung Putih mendukung perusahaan kripto agar sebagian imbal hasil stablecoin dapat dibayarkan kepada pemegangnya.

CEO Ripple sekaligus pengembang XRP, Brad Garlinghouse, mengatakan kepada Fox Business bahwa ia melihat peluang 90 persen Clarity Act akan lolos sebelum akhir April.

Ia menilai ada momentum baru di Washington setelah pembicaraan yang didukung Gedung Putih.

Dikutip dari CNBC, CEO bursa kripto Coinbase, Brian Armstrong, juga menilai hasil yang saling menguntungkan bisa tercapai. Ia mengatakan bahwa RUU tersebut berpotensi menjadi undang-undang pada April.

“Struktur pasar mengalami kemajuan besar,” tulis Armstrong di X.

Ia menyebut regulasi itu sebagai kemenangan bagi industri kripto, perbankan, dan terutama konsumen Amerika.

Baca juga: Ancaman Crypto Winter, Harga Bitcoin Diprediksi Turun ke 40.000 Dollar AS

Namun bulan lalu, Armstrong sempat menggagalkan proses ketika Coinbase menarik dukungannya secara mendadak. Langkah itu membatalkan pemungutan suara penting yang hingga kini belum dijadwalkan ulang.

Saat itu, Armstrong menyatakan Coinbase “lebih memilih tidak ada RUU dibandingkan RUU yang buruk”.

Goldman Sachs dan Sikap Terhadap Regulasi

Berbicara bersama Armstrong dalam World Liberty Forum di resor Mar-a-Lago, Florida, milik Presiden AS Donald Trump, CEO Goldman Sachs David Solomon menyatakan berada di kubu yang sama dengan Menteri Keuangan Scott Bessent terkait RUU kripto di Senat.

“Penting sekali untuk mengodifikasi sistem berbasis aturan. Itu tidak akan sempurna,” kata Solomon.

Ia menggemakan pernyataan Bessent yang menyarankan perusahaan yang ingin beroperasi tanpa aturan untuk pindah ke El Salvador.

Baca juga: Menkeu AS Prediksi Regulasi Kripto Segera Terbit, Pengaruh ke Harga Bitcoin?

Tidak Semua Yakin Harga Bitcoin Akan Melejit

Meski demikian, tidak semua pihak yakin pengesahan Clarity Act atau pemangkasan suku bunga Federal Reserve akan memicu lonjakan harga bitcoin.

CEO Koinly Robin Singh mengatakan banyak pihak mencoba menebak katalis besar berikutnya bagi bitcoin.

Namun ia mengingatkan agar tidak berharap katalis tersebut otomatis mendorong bitcoin ke rekor tertinggi baru atau kembali ke 100.000 dollar AS dalam waktu dekat.

Ia memperkirakan harga bitcoin bisa bertahan di kisaran 70.000 dollar AS dalam beberapa bulan ke depan, bahkan berpotensi turun menuju 50.000 dollar AS.

“Reli terbesar jarang mengikuti skenario yang jelas dan sudah diperkirakan semua orang. Pada akhirnya tetap dibutuhkan peningkatan permintaan yang nyata. Menjelang akhir 2025, banyak katalis bullish sudah dipenuhi optimisme dan kemungkinan telah tercermin pada puncak harga Oktober,” ujarnya.

Sebagai informasi, harga bitcoin sempat mencapai puncak 126.000 dollar AS pada Oktober sebelum kemudian terkoreksi. Adapun pada Sabtu (22/2/2026) pukul 09.24 UTC, harga bitcoin tercatat di level 68.042 dollar AS. 

Tag:  #clarity #berpeluang #lolos #persen #harga #bitcoin #diprediksi #meledak

KOMENTAR