IHSG Anjlok 4,35 Persen, Asing Jual Masif Saham Big Caps
Pengunjung melintas di depan layar yang menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Jumat (24/4/2026).(ANTARA FOTO/Putra M. Akbar)
12:00
18 Mei 2026

IHSG Anjlok 4,35 Persen, Asing Jual Masif Saham Big Caps

- Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masih tertekan pada sesi satu perdagangan, Senin (18/5/2026). Per pukul 11.22 WIB, indeks anjlok 292,363 poin atau 4,35 persen ke level 6.430,956

Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), IHSG dibuka di posisi 6.628,976 dan sempat menyentuh area tertinggi harian di 6.631,282.

Namun setelah pembukaan, tekanan jual terus mendominasi hingga indeks menyentuh angka terendah di 6.398,786.

Baca juga: IHSG Anjlok 4,64 Persen Jelang Penutupan Sesi 1, Ini Penyebabnya

Ilustrasi IHSGANTARA FOTO/GALIH PRADIPTA Ilustrasi IHSG

Pelemahan indeks terjadi di tengah dominasi saham yang bergerak di zona merah.

Sebanyak 705 saham melemah, 64 saham menguat dan 48 saham bergerak stagnan.

Aktivitas perdagangan berlangsung ramai dengan volume transaksi mencapai 19,616 miliar saham.

Nilai transaksi atau turnover sebesar Rp 10,778 triliun, dengan frekuensi perdagangan 1.579.698 kali transaksi.

Baca juga: IHSG Anjlok 4,30 Persen dalam 1,5 Jam, Pasar Waspadai Trading Halt

Investment Specialist PT Korea Investment and Sekuritas Indonesia (KISI), Azharys Hardian, menilai tekanan berat yang melanda pasar saham domestik pada sesi satu perdagangan Senin ini, terutama dipicu aksi jual masif investor asing pada saham-saham berkapitalisasi besar atau big caps.

Tekanan jual paling besar terjadi pada saham-saham seperti PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA), PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA), dan PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) yang kini menyentuh batas auto rejection bawah (ARB).

Kondisi tersebut dipicu sentimen negatif setelah saham-saham big caps itu didepak dari indeks Morgan Stanley Capital International (MSCI).

Ilustrasi IHSG. KOMPAS.com/GARRY LOTULUNG Ilustrasi IHSG.

“Tekanan berat yang melanda pasar saham saat ini utamanya dipicu oleh aksi jual masif investor asing pada saham-saham big caps seperti DSSA, TPIA, dan AMMN hingga menyentuh batas ARB, seiring sentimen negatif akibat dikeluarkannya saham-saham tersebut dari indeks MSCI,” ujar Azharys saat dihubungi Kompas.com, Senin.

Baca juga: IHSG Anjlok dan Rupiah Terjun: Ini Penyebab Tekanan Pasar Keuangan RI

Untuk diketahui, saham AMMN anjlok 14,86 persen atau turun 550 poin ke posisi Rp 3.150.

Saham AMMN langsung menyentuh batas ARB setelah dibuka di level Rp 3.580 dan sempat bergerak di area tertinggi Rp 3.590.

Tekanan jual juga terlihat dari nilai transaksi yang mencapai Rp 293,73 miliar dengan volume perdagangan sebanyak 912.490 lot. Posisi ARB saham AMMN berada di angka Rp 3.150.

Sementara itu, saham DSSA juga tak luput dari aksi jual.

Baca juga: IHSG Anjlok 3,8 Persen, Efek MSCI dan FTSE Russell Tekan Pasar

Saham DSSA merosot 14,98 persen atau turun 155 poin ke level Rp 880 dan langsung terkunci di batas ARB.

Saham DSSA dibuka di Rp 945 dan tidak mampu keluar dari tekanan jual hingga menyentuh level terendah sekaligus ARB di Rp 880.

Nilai transaksi saham DSSA tercatat sebesar Rp 102,38 miliar dengan volume perdagangan mencapai 1,16 juta lot.

Nasib serupa dialami saham TPIA.

Baca juga: IHSG Awal Sesi Turun 3,34 Persen, Investor Bisa Cermati Saham BUMI hingga MINA

Saham emiten petrokimia ini ambruk 14,88 persen atau turun 640 poin ke area Rp 3.660.

Saham TPIA dibuka di angka Rp 3.700 dan sempat menyentuh level tertinggi Rp 3.790, sebelum akhirnya jatuh ke batas ARB di Rp 3.660.

Nilai transaksi saham TPIA mencapai Rp 175,19 miliar dengan volume perdagangan sebanyak 474.870 lot.

Ilustrasi: Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Senin (1/7/2018). KOMPAS.com/GARRY LOTULUNG Ilustrasi: Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Senin (1/7/2018).

Azharys mencatat koreksi IHSG semakin dalam setelah saham-saham komoditas utama turut mengalami penurunan tajam.

Baca juga: IHSG Dibuka Anjlok 2,80 Persen, Tekanan Asing dan MSCI Bayangi Pasar

Saham PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) merosot 11 persen, sementara saham PT Vale Indonesia Tbk (INCO) anjlok 12,76 persen.

Selain itu, pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dollar AS juga menjadi faktor utama yang mendorong investor asing melakukan aksi outflow dari pasar domestik.

“Sentimen makro atas melemahnya nilai tukar rupiah ke level Rp17.655 yang menjadi alasan kuat bagi asing untuk melakukan outflow,” paparnya.

Meski pasar tengah dilanda kepanikan, Azharys menilai potensi terjadinya trading halt di Bursa Efek Indonesia (BEI) masih relatif kecil.

Baca juga: IHSG Dibuka Anjlok 2,80 Persen, Tekanan Asing dan MSCI Bayangi Pasar

Batas pemicu penghentian sementara perdagangan masih cukup jauh karena mekanisme trading halt baru akan diaktifkan apabila IHSG terkoreksi hingga 8 persen atau berada di level sekitar 6.185.

“Terkait kepanikan pasar, potensi terjadinya trading halt cukup kecil, mekanisme trading halt terbilang masih cukup jauh karena baru akan diaktifkan jika indeks terkoreksi sedalam minus 8 persen di level 6.185,” tukas dia.

 

Disclaimer: Artikel ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi menjadi tanggung jawab investor. Pastikan melakukan riset mandiri sebelum menentukan pilihan.

Tag:  #ihsg #anjlok #persen #asing #jual #masif #saham #caps

KOMENTAR