Menengok Hangatnya Buka Puasa di Tengah Dinginnya Swiss...
Suasana buka puasa bersama warga negara Indonesia di Perutusan Tetap Republik Indonesia di Jenewa, Swiss, Sabtu (21/2/2026)(KOMPAS.com/SINGGIH WIRYONO)
17:14
22 Februari 2026

Menengok Hangatnya Buka Puasa di Tengah Dinginnya Swiss...

Di tengah dinginnya udara Swiss, waktu berbuka puasa agaknya menjadi momen hangat bagi warga negara Indonesia yang tinggal di negara tersebut.

Kompas.com berkesempatan mengikuti secara langsung acara buka puasa bersama para warga negara Indonesia (WNI) berbuka puasa bersama di Perutusan Tetap Republik Indonesia (PTRI) Jenewa, Sabtu (21/2/2026).

Ratusan WNI di Swiss berkumpul merayakan berbuka puasa, bercengkrama dan saling bertegur sapa dalam acara yang diselenggarakan oleh PTRI, di Rue de Saint-Jean 16, Jenewa.

Pemandangan memukau Sungai Rhone menambah kenikmatan berbuka saat di PTRI, membawa udara dingin dari gletser Pegunungan Alpen.

Baca juga: Manfaat Jalan Kaki Setelah Sahur dan Buka Puasa bagi Kesehatan

Menu-menu berbuka puasa khas Indonesia seperti kolak, es buah, dan jajanan tradisional membuat suasana berbuka puasa di PTRI tak ubahnya seperti di tanah air sendiri, meski terentang jarak belasan ribu kilometer.

Suasana dingin 6 derajat Celcius tak membuat kehangatan dan keramah tamahan sesama WNI menjadi anyep.

Saat azan maghrib tiba, para WNI pun segera berbaris rapi dan membentuk saf untuk mendirikan shalat maghrib.

Setelah shalat maghrib, para WNI melanjutkan berbuka puasa dengan hidangan utama, yakni nasi, sate ayam, dan sate daging sapi.

Baca juga: Jangan Sembarangan Berhenti Saat Buka Puasa di Jalan

PTRI tak ubahnya menjadi sepotong mozaik Indonesia yang bisa mereka nikmati di Swiss.

Ini yang dirasakan Indrajid Nurmukti selama tiga tahun berkarier di Swiss.

Indrajid mengatakan, PTRI menjadi rumah keduanya di Jenewa, sekaligus menjadi tempat mengobati rasa rindu akan tanah air.

"Karena PTRI Jenewa ini betul-betul merupakan rumah kedua kami di Jenewa, tanah air kami di Jenewa, di Swiss, dan sangat-sangat hangat, terbuka, dan sering sekali mengadakan kegiatan (berkumpul berbuka puasa) seperti ini," ucapnya kepada Kompas.com.

Baca juga: Ekspor RI Ke Swiss Naik 225 Persen, Dipicu Harga Emas Melejit

Kehidupan muslim di Jenewa

Ketua Kelompok Pengajian Nurul Iman Jenewa, Pragusdiniyanto Soemantri mengatakan, acara buka puasa bersama ini sebagai bentuk keguyuban WNI di Jenewa.

Dari 300 WNI yang terdaftar di Jenewa, hampir setengahnya mengikuti acara tersebut.

Ia menyebutkan, para WNI berperan aktif menghidupkan tradisi Ramadhan di Indonesia ke Swiss.

"Misalnya seperti pengajian, kita selenggarakan, terus ada pengajian anak-anak (WNI). Ada juga khataman Quran," kata pria yang akrab disapa Agus ini.

Baca juga: Dari Jakarta ke Jenewa, Tantangan Indonesia Pimpin Dewan HAM PBB

Materi yang diberikan dalam pengajian banyak yang berkaitan dengan kehidupan muslim di negara-negara Eropa.

Misalnya terkait dengan tantangan mencari makanan halal di Swiss yang tak semudah kota-kota besar Eropa lainnya seperti di Perancis dan Belanda.

"Tapi bukan berarti tidak ada (ketersediaan makanan halal)," ujar Agus..

Dia menjelaskan, saat ini mulai banyak tempat makan seperti restoran yang memasang logo halal karena kesadaran komunitas muslim yang semakin berkembang di kota tersebut.

Baca juga: Di ILC Ke-113 Jenewa, Kemenaker Dukung Penguatan Kerja Layak di Sektor Digital dan Perlindungan Pelaut

Tantangan lainnya adalah fasilitas ibadah yang minim karena hanya ada dua masjid besar di Jenewa.

Kondisi ini tentu berbeda dengan di Indonesia di mana masjid dan mushala amat mudah ditemui, bahkan hanya dalam jarak beberapa kilometer saja.

Tak heran, setiap Jumat tiba, aula PTRI dibuka untuk menggelar shalat Jumat demi agar umat Islam di Jenewa tak sulit melaksanakan kewajibannya itu.

"Dari kalangan WNA juga cukup banyak, cukup sering, misalnya dari Mission (perutusan) Brunei, Malaysia, hadir juga shalat Jumat," ujar Agus.

Baca juga: China Balas Tuduhan Trump soal Pelanggaran Kesepakatan Dagang di Jenewa

Penerimaan Jenewa untuk komunitas muslim

Jenewa, yang dikenal sebagai markas hak asasi manusia (HAM) Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) memberikan keleluasaan ibadah untuk umat Islam setempat.

Agus mengatakan, hampir tidak pernah ada tekanan dalam bentuk SARA (Suku, Agama, Ras, dan Antargolongan) di Jenewa.

"Secara umum sih tidak ada perlakuan yang rasisme hampir tidak ada," kata Agus.

Meski terlihat tenang dan sepi, aksi demonstrasi juga sering dilakukan di Jenewa, tepatnya di depan Gedung Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

Namun Agus mengatakan, belum pernah terdengar aksi yang berkaitan dengan hak pemeluk agama Islam atau yang berbau kritik terhadap komunitas muslim.

Namun pandangan demonstrasi lebih kepada konflik hak asasi manusia dan proses politik yang terjadi di Gaza.

"Jadi penerimaannya sangat baik, sangat baik," ucap dia.

Tag:  #menengok #hangatnya #buka #puasa #tengah #dinginnya #swiss

KOMENTAR