Kedekatan Emosional dengan Orangtua Jadi Fondasi Ketahanan Mental Anak
– Dalam melihat kasus tekanan psikologis pada anak-anak, relasi dengan figur pengasuh utama menjadi salah satu aspek yang tidak bisa diabaikan.
Hubungan emosional di dalam keluarga kerap menjadi fondasi utama bagi anak dalam memahami diri dan dunia di sekitarnya.
Psikolog klinis RS Kemenkes Surabaya, Mellyana Setyowati, M.Psi menekankan pentingnya melihat persoalan anak dari sudut pandang keterikatan emosional dalam keluarga.
Baca juga: Teknik Parenting Pangeran William, Dengarkan Anak Sebelum Beri Solusi
Menurutnya, relasi yang terbangun sejak dini sangat memengaruhi cara anak mengelola tekanan dan rasa tidak nyaman.
Dalam teori keterikatan yang dikembangkan oleh John Bowlby, hubungan awal antara anak dan ibu membentuk “peta emosional” terhadap dunia.
Anak yang merasa aman, didengar, dan diterima memiliki fondasi regulasi emosi yang lebih kuat dibandingkan anak yang tumbuh tanpa rasa aman tersebut.
Namun, ia menegaskan bahwa tragedi yang menimpa seorang anak berusia 10 tahun, YBR, siswa kelas IV Sekolah Dasar (SD) asal Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT), yang diduga bunuh diri, tidak pernah sesederhana menyalahkan orangtua.
“Sebab dalam banyak kasus, ada multifaktor, tekanan akademik, perundungan, rasa malu, konflik keluarga, trauma, hingga keterbatasan kemampuan anak dalam mengelola emosi yang intens,” ujarnya kepada Kompas.com.
Orangtua sebagai Cermin Emosi Anak
Ia menjelaskan, anak belajar memahami dan memberi makna pada emosinya melalui respons orangtua. Termasuk interaksi sederhana sehari-hari sesungguhnya membentuk cara anak memandang perasaannya sendiri.
Ketika anak merasa sedih lalu ditenangkan, ia belajar bahwa kesedihan adalah emosi yang wajar dan dapat dihadapi. Sebaliknya, jika anak dimarahi saat menunjukkan kemarahan, ia bisa belajar bahwa emosinya berbahaya atau harus ditekan.
Karena itu, ia menyoroti pentingnya rasa diterima tanpa syarat dan ruang dialog yang terbuka di dalam keluarga. Anak perlu merasa aman untuk mengungkapkan apa yang ia rasakan, tanpa takut disalahkan atau diabaikan.
Baca juga: Parenting Menurut Nikita Willy, Setiap Ibu Punya Cara Berbeda
“Dalam praktik klinis, saya sering menemukan bahwa anak yang berada dalam tekanan berat sebenarnya sedang ‘berteriak minta didengar’, tetapi tidak memiliki ruang aman untuk mengungkapkan perasaannya,” kata psikolog yang biasa disapa Melly itu.
Ilustrasi ibu dan anak
Mengenali Sinyal yang Sering Terlewat
Sebab tekanan psikologis pada anak tidak selalu muncul dalam bentuk yang jelas. Karena itu, orangtua perlu lebih peka terhadap perubahan perilaku sekecil apa pun.
Beberapa sinyal yang perlu diwaspadai antara lain anak menjadi sangat menarik diri, perubahan pola tidur dan makan, sering merasa tidak berharga, munculnya ledakan emosi yang tidak biasa, hingga kehilangan minat pada hal-hal yang sebelumnya disukai.
Untuk itu pencegahan tidak dimulai dari nasihat panjang atau ceramah moral. Justru yang paling bermakna adalah kualitas hubungan sehari-hari.
"Beri 10–15 menit waktu khusus tanpa distraksi, mendengar tanpa langsung menghakimi, mengurangi kalimat membandingkan, memvalidasi emosi sebelum memberi solusi,” tutur Melly.
Baca juga: Peran Ganda Ibu Bekerja, Psikolog Tekankan Pentingnya Dukungan Keluarga
Ia juga menekankan bahwa orangtua tidak harus menjadi sosok yang sempurna. Karena anak tidak membutuhkan orangtua tanpa cela, melainkan orangtua yang cukup hadir dan cukup peduli.
Kini tragedi yang terjadi di NTT menjadi refleksi bersama, bahwa kesehatan mental anak untuk menjadi tanggung jawab kolektif, bukan hanya keluarga, tetapi juga sekolah dan masyarakat.
“Mari kita lebih peka. Karena seringkali, yang dibutuhkan anak bukan solusi besar, melainkan satu orang dewasa yang benar-benar mau mendengar,” pungkasnya.
Tag: #kedekatan #emosional #dengan #orangtua #jadi #fondasi #ketahanan #mental #anak