Pertamina Bakal Tambah Impor LPG dari AS Jadi 70 Persen
– PT Pertamina berencana meningkatkan porsi impor Liquefied Petroleum Gas (LPG) dari Amerika Serikat hingga mencapai 70 persen.
Langkah ini sejalan dengan kesepakatan dagang terbaru antara pemerintah Indonesia dan AS yang belum lama ini diteken oleh Presiden Prabowo Subianto dan Presiden AS Donald Trump.
Direktur Utama Pertamina Simon Aloysius Mantiri mengungkapkan bahwa selama ini porsi impor LPG dari AS sudah tergolong besar, yakni sekitar 57 persen dari total impor LPG perseroan.
“Dengan adanya kesepakatan dagang ini tentunya kita akan bisa meningkatkan, bisa sampai ke 70 persen,” kata Simon dalam konferensi pers secara daring, dikutip Minggu (22/2).
Menurut dia, peningkatan impor tersebut merupakan bagian dari optimalisasi sumber pasokan yang kompetitif sekaligus memperkuat hubungan dagang kedua negara.
Selain LPG, Pertamina juga akan mendorong peningkatan impor minyak mentah (crude oil) dari AS.
“Begitu juga untuk crude yang berasal dari Amerika Serikat, kita juga akan dorong untuk peningkatan. Sementara untuk produk, kita akan terus melakukan penjajakan dengan mitra-mitra yang ada di Amerika Serikat," ujar Simon.
"Dan sekali lagi semua proses kita lakukan secara terbuka untuk menjamin semua aturan dengan baik,” tambahnya.
Simon memastikan, setiap langkah yang ditempuh tetap mengedepankan prinsip tata kelola perusahaan yang baik atau good corporate governance dan mematuhi regulasi yang berlaku, baik di Indonesia maupun di AS.
Ia menambahkan, kerja sama energi ini merupakan bagian dari semangat kemitraan strategis yang saling menguntungkan bagi kedua negara.
Bahkan, diharapkan kedua negara masih tetap saling menghormati regulasi dan aturan yang berlaku di masing-masing negaranya.
“Kami juga tentunya kemarin kedua pimpinan menyampaikan bahwa perjanjian kerja sama ini adalah untuk win-win. Jadi untuk kebaikan dan kemajuan kedua negara. Dengan demikian kedua negara sangat menghormati regulasi dan aturan yang berlaku di masing-masing negara,” tandasnya.
Sebelumnya, Pemerintah Indonesia memastikan akan mengimpor minyak mentah atau Crude Oil dan gas alias Migas dari Amerika Serikat senilai USD 15 miliar per tahun.
Jumlah impor migas itu terdiri dari pembelian gas senilai USD 3,5 miliar, minyak mentah USD 4,5 miliar, dan fasilitas pembelian bensin olahan senilai USD 7 miliar.