Maduro Tumbang, Perusahaan Minyak AS Belum Tentu Kembali ke Venezuela
Ilustrasi produksi minyak, harga minyak mentah. (SHUTTERSTOCK/GOLDEN DAYZ)
13:52
6 Januari 2026

Maduro Tumbang, Perusahaan Minyak AS Belum Tentu Kembali ke Venezuela

- Penangkapan Presiden Venezuela Nicolas Maduro dan istrinya pada akhir pekan lalu membuka kembali perbincangan tentang masa depan industri minyak negara Amerika Latin tersebut.

Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menyatakan, perusahaan minyak AS akan memainkan peran kunci dalam menghidupkan kembali sektor minyak Venezuela yang selama bertahun-tahun terpuruk.

Namun, para analis menilai rencana tersebut tidak mudah direalisasikan.

Sketsa sidang Maduro. Presiden Venezuela Nicolas Maduro (kedua dari kiri) hadir bersama istrinya, Cilia Flores, di Pengadilan Daniel Patrick Moynihan, New York, Amerika Serikat, 5 Januari 2026.AFP/JANE ROSENBERG Sketsa sidang Maduro. Presiden Venezuela Nicolas Maduro (kedua dari kiri) hadir bersama istrinya, Cilia Flores, di Pengadilan Daniel Patrick Moynihan, New York, Amerika Serikat, 5 Januari 2026.

Mengembalikan minat perusahaan energi AS untuk berinvestasi di Venezuela memerlukan lebih dari sekadar perubahan kepemimpinan politik.

Stabilitas politik, kepastian hukum, dan kejelasan fiskal menjadi faktor krusial yang hingga kini masih dipenuhi ketidakpastian.

Stabilitas politik jadi prasyarat utama

Para pelaku industri energi AS dinilai akan bersikap sangat berhati-hati dalam merespons perubahan politik di Caracas.

Menurut mereka, pemerintah Venezuela perlu terlebih dahulu menunjukkan stabilitas politik yang nyata setelah bertahun-tahun dilanda kekacauan.

“Perusahaan akan membutuhkan lingkungan fisik yang stabil, yang sangat tidak pasti saat ini,” kata David Goldwyn, presiden Goldwyn Global Strategies dan ketua kelompok penasihat energi di Atlantic Council, dikutip dari CBS News, Selasa (6/1/2026).

Goldwyn menambahkan, perusahaan energi AS akan menunggu kepastian mengenai persyaratan keuangan dan kontrak yang ditawarkan pemerintah Venezuela sebelum kembali masuk ke negara tersebut.

Ilustrasi kilang minyakAP PHOTO / GERALD HERBERT Ilustrasi kilang minyak

Selain itu, mereka juga akan membandingkan peluang komersial di Venezuela dengan opsi investasi lain di berbagai belahan dunia.

Jejak nasionalisasi dan trauma investor

Keraguan investor AS juga tidak lepas dari pengalaman masa lalu. Perusahaan minyak besar AS seperti Exxon Mobil dan ConocoPhillips tidak lagi beroperasi di Venezuela sejak mantan Presiden Hugo Chavez menasionalisasi aset mereka pada 2007.

Saat ini, hanya Chevron yang masih memiliki operasi terbatas di Venezuela, itu pun di bawah lisensi khusus dari pemerintah AS.

Bagi perusahaan yang ingin kembali masuk ke Venezuela, Goldwyn memperkirakan dibutuhkan waktu bertahun-tahun untuk membangun operasi dari awal.

Pendatang baru harus membuat perhitungan jangka panjang terkait biaya produksi dan proyeksi harga minyak global, yang pada akhirnya meningkatkan risiko investasi.

“Itu adalah komitmen jangka panjang, dan karenanya jauh lebih berisiko,” ujar Goldwyn.

Kontrak baru dan persoalan hukum

Investasi dari perusahaan AS juga mensyaratkan pembentukan perjanjian kontrak baru dengan BUMN minyak Venezuela, Petroleos de Venezuela SA (PDVSA).

Dalam analisis JP Morgan Markets, disebutkan perusahaan AS umumnya bersedia bekerja sama dengan perusahaan minyak nasional, tetapi lebih memilih memiliki kendali operasional.

“Mereka lebih memilih untuk mengendalikan operasi mereka sendiri, jadi kepemilikan saham mayoritas akan lebih disukai,” tutur Goldwyn.

Sebuah monumen di depan kantor pusat perusahaan minyak negara Venezuela, PDVSA, yang menggambarkan peranan tambang minyak bagi negara itu.AFP / LUIS ROBAYO Sebuah monumen di depan kantor pusat perusahaan minyak negara Venezuela, PDVSA, yang menggambarkan peranan tambang minyak bagi negara itu.

Di sisi lain, persoalan hukum lama juga belum sepenuhnya tuntas. Analis JP Morgan, Natasha Kaneva dan Lyuba Savinova, mencatat adanya klaim kompensasi yang belum diselesaikan oleh Exxon dan ConocoPhillips terkait nasionalisasi aset pada era Chavez.

Sengketa tersebut berpotensi menjadi hambatan tambahan bagi masuknya kembali investasi AS.

Tantangan investasi hingga 100 miliar dollar AS

Skala investasi yang dibutuhkan untuk memulihkan industri minyak Venezuela menjadi tantangan tersendiri.

Francisco J Monaldi, direktur program energi Amerika Latin di Rice University, memperkirakan modernisasi infrastruktur minyak Venezuela dapat memakan waktu hingga satu dekade dengan kebutuhan dana mencapai 100 miliar dollar AS atau setara sekitar Rp 1.675 triliun (asumsi kurs Rp 16.756 per dollar AS).

Menurut Energy Information Administration (EIA), jaringan pipa minyak Venezuela sebagian besar belum dimodernisasi selama sekitar 50 tahun.

Pada 2023 silam, sistem tersebut terdiri dari 25 jalur pipa operasional yang rentan mengalami kebocoran dan tumpahan minyak setiap hari.

“Syarat investasi, termasuk keyakinan bahwa investasi tersebut akan bertahan, dan lingkungan harga minyak harus kondusif untuk investasi tersebut,” tulis analis energi dari S&P Global dalam sebuah laporan.

Posisi Venezuela di pasar minyak global

Secara global, Venezuela saat ini hanya menyumbang sekitar 0,8 persen dari produksi minyak dunia dan berada di peringkat ke-18 produsen minyak global, menurut Capital Economics. Meski demikian, negara ini memiliki peran penting di pasar minyak mentah berat.

Sekitar 9 persen pasokan minyak mentah berat dunia berasal dari Venezuela. Jenis minyak ini digunakan untuk memproduksi diesel, bahan bakar jet, minyak pemanas, dan berbagai produk energi lainnya, sehingga memiliki nilai strategis bagi kilang-kilang tertentu.

Ilustrasi minyak mentah. Harga minyak berpotensi naik menyusul kekhawatiran gangguan pasokan setelah Amerika Serikat (AS) menangkap Presiden Venezuela Nicolas Maduro dari Caracas pada akhir pekan laluFreepik Ilustrasi minyak mentah. Harga minyak berpotensi naik menyusul kekhawatiran gangguan pasokan setelah Amerika Serikat (AS) menangkap Presiden Venezuela Nicolas Maduro dari Caracas pada akhir pekan lalu

Sikap perusahaan minyak AS

Chevron, yang masih beroperasi di Venezuela, menolak berkomentar soal rencana peningkatan produksi pasca-penggulingan Maduro.

“Chevron tetap fokus pada keselamatan dan kesejahteraan karyawan kami, serta integritas aset kami,” kata juru bicara perusahaan tersebut kepada CBS News.

“Kami terus beroperasi sepenuhnya sesuai dengan semua hukum dan peraturan yang relevan," imbuhnya.

Sementara itu, juru bicara ConocoPhillips menyatakan perusahaan terus memantau perkembangan di Venezuela, tetapi menilai masih “terlalu dini untuk berspekulasi tentang aktivitas bisnis atau investasi di masa depan.”

Exxon Mobil tidak memberikan tanggapan atas permintaan komentar.

Respons pasar dan peluang tidak langsung

Di pasar modal, saham ketiga perusahaan minyak besar tersebut tercatat menguat di Wall Street pada Senin, mencerminkan optimisme investor terhadap potensi peluang baru setelah perubahan politik di Venezuela.

Menurut Monaldi, perusahaan energi AS tetap bisa memperoleh keuntungan dari perubahan situasi di Venezuela meskipun tanpa menanamkan modal langsung.

Kilang minyak AS, seperti Valero yang berbasis di Texas, berpotensi mendapatkan akses ke pasokan minyak mentah Venezuela yang dekat secara geografis dan sesuai dengan kebutuhan kilang mereka untuk memproduksi berbagai jenis bahan bakar.

Tag:  #maduro #tumbang #perusahaan #minyak #belum #tentu #kembali #venezuela

KOMENTAR