Jalajah Alas Purwo: Hutan Tertua, Cerita Kawasan Ghaib, dan Pura Kawitan
Pengalaman saya pertama kali menjejakkan kaki di Taman Nasional Alas Purwo terasa seperti membuka pintu ke dunia lain.
Udara yang lembap, cahaya yang temaram di sela pepohonan, dan sunyi yang terasa hidup membuat langkah saya otomatis melambat.
Hutan ini bukan sekadar kawasan wisata. Ia seperti ruang tua yang menyimpan ingatan, doa, dan strategi panjang manusia dalam menjaga alam.
Baca juga: Sensasi Hiking di Hutan Baturraden, Diakhiri Berenang di Curug Tirtasela
Berbagai Penunjuk Arah di Area Taman Nasional Alas Purwo (Sumber: Andi Setyo Pambudi)
Alas Purwo berada di ujung timur Pulau Jawa, tepatnya di Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur. Kawasan ini berbatasan langsung dengan Samudra Hindia di sisi selatan.
Dari pusat kota Banyuwangi, perjalanan dilanjutkan menuju Kecamatan Tegaldlimo hingga mencapai kawasan Pancur sebagai pintu masuk taman nasional.
Begitu kendaraan ditinggalkan dan langkah kaki mulai menyusuri hutan, dunia seperti berganti suasana. Hiruk pikuk kota tertutup oleh suara dedaunan, serangga, dan angin laut yang datang dari selatan.
- Pulang ke Indonesia dari Thailand, Kini Kamu Mesti Bayar Rp 608.000
- Ada Festival Cap Go Meh 1-3 Maret 2026 di Bogor, Jalan Suryakencana Ditutup
Banyak orang menyebut Alas Purwo sebagai hutan tertua di Pulau Jawa. Sebagian bahkan meyakininya sebagai tempat awal mula peradaban. Terlepas dari benar atau tidaknya, satu hal yang pasti, hutan ini memiliki wibawa yang berbeda.
Sejak awal, pemandu lokal mengingatkan agar kami menjaga sikap. Tidak berkata sembarangan, tidak bertindak semaunya, dan tidak menyepelekan apa pun yang ada di dalam hutan.
Suasana Malam di Taman Nasional Alas Purwo (Sumber: Andi Setyo Pambudi)
Di tengah perjalanan, saya mendengar kisah tentang kawasan gaib bernama Nusa Kambangan di dalam Alas Purwo. Ini bukan pulau penjara di Jawa Tengah, melainkan wilayah tak kasatmata yang dipercaya sebagai tempat berdiam para leluhur dan penjaga alam. Tidak semua orang dipercaya bisa masuk ke wilayah itu.
Ada yang konon tersesat meski berjalan di jalur yang sudah sering dilewati. Ada pula yang mendengar suara memanggil dari balik pepohonan, padahal hutan sedang sunyi.
Baca juga: 5 Jalur Kereta Api Terindah di Indonesia: Panorama Alam dari Balik Jendela
Jika dipikir hari ini, saya melihat kisah ini sebagai sebuah cara halus orang zaman dulu untuk membatasi pergerakan manusia agar tidak sembarangan menjelajah kawasan terdalam hutan. Dengan cara itu, inti ekosistem tetap terjaga, tidak terjamah, dan tidak rusak.
Menembus Alas Purwo dengan Mobil Lapangan Milik Kementerian Kehutanan (Sumber: Andi Setyo Pambudi)
Larangan paling keras yang terus diulang adalah pantangan mengambil apa pun dari dalam hutan. Tidak boleh mengambil daun, biji-bijian, batu, apalagi kayu atau buah.
Masyarakat percaya bahwa pelanggaran terhadap larangan ini bisa membawa sakit, kesialan, atau gangguan yang tidak bisa dijelaskan secara logika. Ada kisah tentang orang yang mengambil buah lalu merasakan pahit luar biasa.
Ada pula yang membawa pulang batu kecil lalu jatuh sakit tanpa sebab medis yang pasti.
Baca juga: 4 Tol Fungsional Jasa Marga Dibuka Gratis untuk Mudik Lebaran 2026
Di balik cerita itu, saya melihat pesan yang sangat masuk akal. Ini adalah strategi konservasi paling sederhana dan paling efektif yang pernah dirancang manusia.
Dengan membungkus larangan ekologis dalam cerita mistis, orang-orang zaman dulu berhasil menjaga hutan tanpa perlu pagar, kamera, atau aparat. Rasa takut yang melahirkan hormat jauh lebih kuat daripada larangan tertulis.
Suasana Pagi di Taman Nasional Alas Purwo (Sumber: Andi Setyo Pambudi)
Titik spiritual yang sangat kuat di Alas Purwo adalah Situs Kawitan yang berada di dekat Pura Luhur Giri Salaka. Situs ini kini menjadi salah satu pusat peribadatan umat Hindu.
Menurut cerita warga, Situs Kawitan awalnya ditemukan secara tidak sengaja pada tahun 1965 saat masyarakat membuka lahan.
Baca juga: Menikmati Kuah Bening Gurih yang Melegenda di Soto Basket Malang Sejak 1950
Mereka menemukan tumpukan batu bata kuno yang tertimbun tanah. Sebagian batu itu sempat dibawa pulang, sampai kemudian muncul rangkaian kejadian yang dianggap sebagai musibah.
Ada yang sakit berkepanjangan, ada yang mengalami kecelakaan kecil berulang, dan ada pula yang merasa hidupnya tidak tenang.
Situs Pura Kawitan di Area Taman Nasional Alas Purwo (Sumber: Andi Setyo Pambudi)
Setelah batu-batu itu dikembalikan dan dilakukan upacara, gangguan dipercaya berhenti. Sejak saat itu, Situs Kawitan dihormati sebagai tempat sakral yang diyakini sebagai lokasi semedi tokoh spiritual masa lalu seperti Mpu Barada.
Kini, tempat itu dijaga sebagai ruang suci, bukan hanya untuk ibadah, tetapi juga sebagai pengingat bahwa ada nilai yang harus dihormati di dalam hutan ini.
Baca juga: Alasan Pemerintah Impor Minuman Alkohol dari AS: Untuk Pariwisata
Pura Kawitan sendiri memiliki keunikan yang langsung terasa. Berbeda dengan pura-pura Hindu di Bali yang dominan berwarna merah bata, Pura Kawitan di Alas Purwo justru didominasi warna hitam.
Warna hitam ini melambangkan keheningan, kedalaman, dan asal mula kehidupan. Ia menandakan bahwa Alas Purwo dipercaya sebagai rahim awal semesta. Dalam simbol itu, manusia diingatkan untuk datang dengan kerendahan hati, bukan dengan keserakahan.
Situs Pura Kawitan di Area Taman Nasional Alas Purwo (Sumber: Andi Setyo Pambudi)
Keberadaan situs dan pura ini menunjukkan bahwa spiritualitas juga digunakan sebagai strategi ekologis. Ketika suatu tempat disakralkan, manusia akan berpikir berkali-kali untuk merusaknya.
Ketika hutan dianggap suci, maka menebang sembarangan menjadi perbuatan yang bukan hanya melanggar hukum, tetapi juga melanggar nilai batin.
Selain Situs Kawitan, masyarakat juga mempercayai adanya penjaga-penjaga gaib di Alas Purwo. Ada Ratu Pantai Selatan yang dipercaya mengawasi pesisir selatan. Ada Ki Semar yang diyakini menjaga keseimbangan hutan.
- Resep Banana Choco Bomb, Ide Camilan Manis untuk Takjil Buka Puasa
- Cukup 3 Bahan Saja! 9 Ide Menu Praktis Untuk Sahur yang Lezat dan Bergizi
Ada pula cerita tentang orang hutan liar yang digambarkan seperti manusia berbulu yang memberi peringatan bagi manusia. Cerita tentang ular naga besar yang menghuni sungai atau gua menjadi simbol kekuatan dan keabadian.
Semua kisah ini, jika ditarik lebih dalam, sesungguhnya adalah bahasa simbolik untuk mengajarkan satu hal yang sama, yaitu manusia tidak boleh semena-mena terhadap alam.
Mereka semua adalah sistem nilai yang diwariskan agar hutan tetap berdiri, air tetap mengalir, satwa tetap hidup, dan manusia tetap tahu batas.
Kantor Balai Taman Nasional Alas Purwo di bawah Koordinasi Kementerian Kehutanan (Sumber: Andi Setyo Pambudi)
Larangan masuk hutan pada malam hari, terutama saat bulan gelap, juga memiliki makna yang sama. Secara spiritual dianggap waktu aktif makhluk gaib, tetapi secara ekologis juga melindungi manusia dari bahaya satwa liar, tersesat, dan kecelakaan. Sekali lagi, mitos bekerja sebagai pagar tidak terlihat.
Resort Kucur, Balai Taman Nasional Alas Purwo (Sumber: Andi Setyo Pambudi)
Saat meninggalkan Alas Purwo, yang tertinggal dalam diri saya bukan rasa takut, tetapi rasa hormat. Saya merasa baru saja belajar tentang cara orang-orang zaman dulu menjaga alam dengan cara yang mungkin tidak tercantum dalam buku akademik, tetapi terbukti sangat efektif. Mereka menjaga ekologi dengan cerita. Mereka melindungi hutan dengan keyakinan. Mereka merawat alam dengan rasa takut yang melahirkan tanggung jawab.
Monyet Liar di Kawasan Taman Nasional Alas Purwo (Sumber: Andi Setyo Pambudi)
Pengalaman menjelajahi Alas Purwo mengajarkan saya bahwa pelestarian tidak selalu harus dibangun dengan teknologi tinggi. Kadang, ia bertahan karena mitos yang dijaga, larangan yang dihormati, dan spiritualitas yang hidup di tengah masyarakat. Alam dan budaya berpadu, saling menjaga, dan saling menguatkan.
Dan mungkin, justru karena strategi inilah Alas Purwo masih berdiri kokoh hingga hari ini. Sunyi, anggun, dan setia mengajarkan manusia tentang arti menjaga (*ASP).
Konten ini merupakan opini/laporan buatan blogger dan telah tayang di Kompasiana.com dengan judul "Jalajah Alas Purwo: Hutan Tertua, Cerita Kawasan Ghaib, dan Pura Kawitan"
Tag: #jalajah #alas #purwo #hutan #tertua #cerita #kawasan #ghaib #pura #kawitan