



Sajak: Himne
Himne
Seekor burung menggemakan himne pada pagi. Lalu sebatang ranting mendengarkan dengan saksama. Daun-daun menengadah dan berkata: Amin. Rahmat Tuhan menitik dalam butir embun. Matahari masih bersinar dengan semerbak bunga. Semesta menyaksikan gencatan senjata yang agung. Perang disudahi. Utang-utang dilunasi. Inilah hari terbaik.
anak-anak terbangun
(semalam mimpi indah)
bintang terang
di atas atap rumah
kini baru saja
kokok ayam jago merdu
dalam kemenangan
surat pertama ditulis,
dunia telah jadi surga
2023
---
Senapan
Penaka senapan mengintai ke mana langkah-langkah pergi. Tercium rencana sebuah letupan. Bumi menjadi akuarium. Menyibak semak rerumputan. Kaca-kaca meliput warta. Tanpa gemawan dan pelindung. Sinar menyorot ke ruang-ruang. Mencemaskan pada kepanikan yang ketiga. Tak ada privasi. Apakah dunia sudah tak (ny)aman lagi?
pelatuk-pelatuk
tak perlu ditarik
sebutir bintang kecil
biarkan jatuh
menjadi mainan
anak-anak
yang telah banyak kehilangan
waktu bermain
dan itu lebih melegakan
2023
---
Awan Kecil
Seorang anak perempuan berlari-lari mengejar awan kecil. Jatuh hening dari langit bersih. Seperti diberikan malaikat kepadanya. Ia ingin terus bermain. Tanpa khawatir, tanpa rasa takut. Tapi di depan sana seorang serdadu musuh. Ragu. Sekali lagi ragu. Mundur selangkah-selangkah. ’’Kemari sayang. Jangan takut!’’ Di tangannya tak ada senapan. Di tangannya sekarang ada awan putih. Putih bersih.
sebuah uluran tangan
pemberian yang tulus
senyum
penerimaan yang melegakan
dan hari menjadi (ny)aman
2023
---
FARIS AL FAISAL, Penyair. Ketua Komite Sastra Dewan Kesenian Indramayu dan ketua Lembaga Basa lan Sastra Dermayu.