Dibanjiri Impor China, UMKM Lokal Sulit Berkembang 
Menteri Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) Maman Abdurrahman, dalam diskusi di kantornya, Jakarta, Jumat (27/2/2026).(KOMPAS.com/Syakirun Ni'am)
06:44
28 Februari 2026

Dibanjiri Impor China, UMKM Lokal Sulit Berkembang 

Menteri Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) Maman Abdurrahman menyebut, kualitas UMKM belum bisa maksimal karena pasar dibanjiri produk impor dari China.

Maman mengatakan, persoalan pengembangan UMKM bukan disebabkan akses pada pembiayaan, melainkan kondisi pasar yang tidak adil sehingga produk mereka sulit terjual.

Informasi itu Maman ungkapkan dalam diskusi Mengawal Momentum UMKM Naik Kelas di Tengah Rekor Penyaluran KUR yang digelar Forum Wartawan UMKM.

“Pasar Indonesia ini becek, kotor, dan jorok. Sebagus apapun mereka dibantu hari ini sehingga mereka bisa produksi tapi mereka enggak bisa jual barang. Pasar kita dipenuhi barang impor,” kata Maman dalam diskusi di kantornya, Jakarta, Jumat (27/2/2026).

Baca juga: Menteri UMKM Ungkap Selisih Data Impor Tekstil China, Indikasi Under-Invoicing

Berdasarkan data Kementerian UMKM, realisasi penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) 2025 mencapai Rp 270 triliun.

Sebanyak Rp 163,0 triliun atau lebih dari setengahnya tersalurkan ke sektor produktif.

Sementara, pada 2026 Kementerian UMKM menargetkan penyaluran KUR sebanyak Rp 295 triliun dengan 1,37 juta debitur baru.

Maman memastikan, pemerintah telah menyalurkan KUR kepada pelaku UMKM. Mereka juga mendapatkan pendampingan. Namun, pada kenyataannya UMKM lokal tidak kunjung bisa naik kelas.

Setelah dievauasi, ternyata kondisi pasar Indonesia dibanjiri produk ilegal dari China.

“Yang jadi masalah ini adalah barang-barang ilegal impor yang masuk yang tidak terdata itu,” ungkap Maman.

Maman lalu memaparkan data United Nations Trade and Development yang mencatat data ekspor dari China ke Indonesia dan impor Indonesia dari China sejak 2013 sampai 2024 atau 12 tahun terakhir.

Hasilnya, terdapat kesenjangan data yang kentara antara data ekspor tekstil China ke Indonesia dan data barang impor di Indonesia dari China.

Baca juga: China hingga Vietnam, Ini Sumber Defisit Perdagangan AS

Pada 2019 misalnnya, China tercatat mengekspor 118 juta dollar Amerika Serikat (AS) ke Indonesia. Namun, data impor produk itu di Indonesia dari China yang tercatat hanya 28,7 juta dollar AS.

Kemudian, ekspor pakaian bayi dari China mencapai 9,4 juta dollar AS, di Indonesia tercatat hanya 3,1 juta dollar AS.

"Itu yang disebut oleh Pak Presiden under-invoicing. Data impor di tempat kita masuk barang-barang impor ini itu 100, tapi dari China yang tercatat barang ekspornya itu 900. Berarti ada 800 Pak yang enggak tercatat,” tutur Maman.

Akibat praktek tersebut, negara tidak cuma kehilangan pendapatan dari bea masuk barang impor, UMKM lokal juga dibuat kocar kacir.

Perilaku konsumsi masyarakat akhirnya lebih memilih produk impor yang berharga miring alih-alih barang produksi pabrik atau UMKM lokal.

“Jadi intinya apa kalau misal nanya ke saya, apa problem utama kita dari sektor UMKM adalah Kementerian UMKM harus mampu mengamankan pasar domestik,” tutur Maman.

Tag:  #dibanjiri #impor #china #umkm #lokal #sulit #berkembang

KOMENTAR