Inilah Skenario Krisis 2028 saat AI Gantikan Manusia Terlalu Cepat
Firma riset investasi Citrini Research, bersama analis Alap Shah merilis laporan The 2028 Global Intelligence Crisisberisi memo makro ekonomi fiktif yang seolah-olah ditulis pada 30 Juni 2028. Prediksinya mengerikan, ekonomi dunia bakal terdampak kehadiran AI.(Ilustrasi dibuat AI)
10:03
25 Februari 2026

Inilah Skenario Krisis 2028 saat AI Gantikan Manusia Terlalu Cepat

- Mari bayangkan kita berada di masa depan yang tak terlalu jauh, sebut saja di bulan Juni 2028.

Di layar televisi dan monitor bursa saham dunia, sebuah angka suram terpampang nyata. Angka itu tak lain adalah tingkat pengangguran yang meroket tajam, menyentuh angka 10,2 persen. Semakin tinggi angkanya menunjukkan kondisi ekonomi sedang lesu atau lapangan kerja sulit.

Bursa saham pun merespons dengan kepanikan luar biasa. Indeks S&P 500 anjlok 38 persen dari puncaknya, triliunan dollar menguap begitu saja, dan para pialang saham hanya bisa terdiam mati rasa melihat layar merah yang terus menyala.

Ini bukanlah cuplikan dari naskah film distopia Hollywood terbaru. Ini adalah sebuah "eksperimen pemikiran" yang sangat rasional dan rinci, yang disusun oleh firma riset investasi Citrini Research bersama analis Alap Shah.

Dalam laporan mereka yang bertajuk "The 2028 Global Intelligence Crisis", Citrini Research menyajikan sebuah memo makro ekonomi fiktif yang seolah-olah ditulis pada 30 Juni 2028.

Isinya menggambarkan situasi di mana AI benar-benar menjadi sangat pintar, bikin produktivitas melonjak, perusahaan makin efisien, tapi justru ekonomi manusia runtuh pada 2028.

Sejak awal, Citrini Research mengaskan bahwa laporannya bukan prediksi pasti, apalagi narasi kiamat ala AI-doomer.

Ini adalah eksperimen pemikiran, sebuah simulasi risiko ekstrem jika AI benar-benar melampaui ekspektasi dan menggantikan manusia terlalu cepat sebelum sistem ekonomi sempat beradaptasi.

Lalu, bagaimana bisa kesuksesan AI justru menjadi bumerang yang menghancurkan ekonomi dunia? Berikut anatomi krisisnya, seperti dirangkum KompasTekno dari laman Citrini Research.

Pesta pora Wall Street dan munculnya "PDB Hantu"

Semuanya bermula dari sebuah masa keemasan yang penuh dengan euforia buta. Pada 2026, ekonomi dunia tampak berada di puncak kejayaannya berkat AI yang makin canggih dan efisien.

Sentimen positif terhadap AI membuat saham terus naik dalam jangka waktu lama, dan sektor teknologi menjadi pendorong utamanya. Suasana optimistisnya sangat terasa sekali. Investor sangat antusias, pasar penuh kepercayaan diri.

Per Oktober 2026, pasar saham Amerika Serikat berpesta pora. Indeks saham Amerika Serikat melesat ke level yang sebelumnya sulit dibayangkan.

Indeks 500 perusahaan besar di AS, S&P 500 mendekati 8.000. Sementara indeks Nasdaq melenggang santai menembus angka psikologis 30.000.

Di saat yang sama, gelombang pertama pemutusan hubungan kerja (PHK) mulai terjadi pada awal 2026.

Banyak perusahaan mengurangi tenaga kerja karena sebagian fungsi dinilai bisa digantikan sistem AI dan otomatisasi. Istilah yang beredar waktu itu terdengar dingin, yakni human obsolescence di mana manusia dianggap makin usang dalam beberapa lini pekerjaan.

Peran para pekerja kantoran mulai digantikan secara masif oleh agen AI yang kelewat efisien.

Bagi para pemegang saham, fenomena ini adalah sebuah anugerah tak ternilai. Logika bisnis berjalan sempurna di atas kertas. PHK massal berarti pemangkasan biaya operasional secara radikal.

Hasilnya? Margin keuntungan perusahaan melebar sangat pesat, laporan pendapatan terus melampaui ekspektasi, dan harga saham terbang ke langit.

Namun, triliunan dollar keuntungan cetak rekor ini tidak digunakan untuk membuka lapangan kerja baru bagi manusia.

Dana raksasa tersebut justru diputar kembali dan disuntikkan habis-habisan untuk membeli lebih banyak komputasi AI, lebih banyak GPU, lebih banyak infrastruktur pusat data (data center).

Siklus ini menciptakan ilusi bahwa ekonomi sedang berlari lebih kencang, padahal fondasi dasarnya (konsumsi manusia secara riil) mulai keropos.

Di atas kertas, angka Produk Domestik Bruto (PDB) nominal memang tumbuh pesat.

Perusahaan berbasis AI melihat kekayaan mereka meledak ketika biaya tenaga kerja menghilang. Di sisi lain produktivitas melonjak. Output riil per jam naik pada tingkat yang belum terlihat sejak 1950-an.

Ini semua ditopang oleh agen AI tidak pernah tidur, tidak butuh cuti, tidak sakit, dan tidak menuntut asuransi kesehatan.

Namun, di balik situasi yang "too good to be true" ini, ada satu celah fundamental yang terabaikan. Mesin tidak belanja. AI tidak akan belanja untuk kebutuhan esensial apalagi konsumsi diskresioner.

Kebutuhan esensial atau pokok sendiri mencakup seperti beras, listrik, air, biaya sekolah. 

Sementara konsumsi diskresioner adalah adalah pengeluaran untuk kebutuhan yang tidak wajib atau tidak mendesak, berbeda dengan kebutuhan pokok. Contohnya liburan, nonton konser, beli smartphone padahal yang lama masih berfungsi, makan di restoran mahal, hingga beli barang (tas, baju, jam tangan) mewah.

Fakta pahit sebenarnya 70 persen penyokong ekonomi adalah konsumsi manusia. Ketika sebuah kluster GPU di pusat data mampu menghasilkan output setara 10.000 pekerja kantoran, itu bukanlah obat mujarab bagi ekonomi, melainkan sebuah pandemi.

Pada momen ini, pengamat ekonomi mulai mempopulerkan istilah "Ghost GDP" atau PDB Hantu. Ini adalah fenomena di mana output produksi tercatat tinggi dalam neraca nasional, tetapi uangnya tidak pernah berputar di ekonomi riil.

Dalam kondisi ini, kelompok kelas menengah dan pekerja kerah putih kehilangan pekerjaan karena digantikan AI.

Mereka akhirnya tak punya gaji, sehingga menahan atau bahkan "puasa" beli barang-barang sekunder apalagi tersier. Kecepatan perputaran uang di pasar global mendadak mati suri.

Baca juga: Eks Google: Dokter dan Pengacara Muda Wajib Waspada, Kerjaan Rentan Diganti AI

Lingkaran setan efisiensi perusahaan

Krisis ini digerakkan oleh sebuah lingkaran setan yang tidak memiliki rem alami. Mekanismenya berjalan seperti ini:

  • Kemampuan AI meningkat, sehingga perusahaan butuh lebih sedikit pekerja.
  • Pekerja kerah putih terkena PHK dan pendapatan mereka pun menguap.
  • Para pengangguran baru ini memangkas pengeluaran dan konsumsi mereka secara drastis.
  • Perusahaan ritel dan barang konsumsi mengalami tekanan margin akibat sepinya pembeli.
  • Untuk mempertahankan margin, perusahaan tersebut memangkas lebih banyak pekerja dan berinvestasi lebih besar pada AI.
  • AI menjadi semakin canggih dan murah, dan siklus berulang ke PHK massal.

Berbeda dengan resesi biasa yang bersifat siklikal, di mana ekonomi bisa pulih lewat penyesuaian suku bunga atau permintaan baru, krisis ini bersifat struktural. Penyebabnya bukan suku bunga tinggi atau gelembung properti, melainkan berkurangnya nilai ekonomi kecerdasan manusia.

Selama dua abad terakhir, inovasi teknologi memang menghancurkan pekerjaan, tapi di saat bersamaan juga menciptakan pekerjaan baru dalam jumlah lebih besar.

Misalnya, kehadiran ATM tidak menghapus teller bank, justru memungkinkan pembukaan lebih banyak cabang. Internet menghancurkan agen perjalanan dan Yellow Pages, tetapi menciptakan industri baru, seperti e-commerce sampai influencer.

Masalahnya, setiap pekerjaan baru itu tetap membutuhkan manusia. Namun dengan AI, manusia seperti tak ada harganya. Yang paling terdampak adalah pekerja white collar, seperti programmer, analis, konsultan, manajer produk, dan profesi berbasis pengetahuan lain.

Dalam skenario tersebut, 20 persen kelompok berpenghasilan tertinggi menyumbang sekitar 65 persen belanja konsumsi. Ketika kelompok ini kehilangan pekerjaan atau mengalami pemotongan gaji besar, dampaknya tidak proporsional terhadap ekonomi.

Ekonomi terlihat produktif, tetapi basis konsumennya menyusut. Rumah tidak dibeli. Mobil tidak diganti. Renovasi dibatalkan. Restoran sepi. Rencana liburan sirna.

Baca juga: Bukan Pekerja Kantoran, Ini Profesi yang Paling Dibutuhkan di Era AI Menurut CEO Nvidia

Ilustrasi AI.cyberriskalliance.com Ilustrasi AI.

Ilusi efisiensi dan perang harga yang berdarah

Di sisi operasional teknologi, AI benar-benar mengubah cara perusahaan bekerja. Kehadiran kecerdasan buatan membuat proses pengembangan dan perilisan fitur perangkat lunak baru menjadi luar biasa mudah dan murah.

Sayangnya, kemudahan ini membawa petaka tersendiri di pasar. Ketika semua perusahaan, baik raksasa petahana maupun startup pendatang baru, sama-sama memiliki akses ke AI yang mumpuni, diferensiasi produk menjadi hancur lebur. Tidak ada lagi keunikan.

Akibatnya, persaingan bisnis berubah menjadi "perang harga" yang brutal.

Citrini menggambarkan situasi ini layaknya pertarungan pisau di ruang tertutup. Perusahaan saling banting harga demi mempertahankan pangsa pasar, yang perlahan-lahan mulai menekan margin keuntungan yang tadinya dipuja-puja oleh Wall Street.

Baca juga: Bos Nvidia Minta Programer Berhenti Coding

Puncak krisis

Tiba di tahun 2028, bom waktu itu akhirnya meledak. Mesin ekonomi kapitalis yang sangat bergantung pada roda konsumsi menemui jalan buntu ketika jutaan pekerja kerah putih yang telah digantikan oleh mesin tak lagi memiliki pendapatan untuk dibelanjakan.

Laporan Citrini Research menyoroti sebuah metrik fiktif yang mengerikan, persentase pendapatan tenaga kerja terhadap Produk Domestik Bruto (GDP) terjun bebas dari 56 persen menjadi 46 persen dalam waktu yang sangat singkat. Ini adalah rekor penurunan tercepat dalam sejarah ekonomi.

Pasar yang tadinya berpesat pora di tahun 2026, kini bereaksi dengan kepanikan masif di 2028. Dalam euforia selama dua tahun, tingkat pengangguran tembus ke angka 10,2 persen dan memicu aksi jual besar-besaran.

Dalam skenario terburuk yang dimodelkan Citrini, indeks saham bahkan diprediksi bisa anjlok hingga 57 persen. Ini menyeret valuasi pasar kembali mundur ke titik terendahnya di bulan November 2022 (sekitar level 3.500).

Tanpa adanya gaji bulanan dari kelas menengah, daya beli masyarakat menguap. Sebuah sistem paradoksal tercipta, produksi barang dan jasa menjadi tak terbatas dan super murah, tapi tak ada satu pun manusia yang mampu membelinya.

Ilustrasi AI menggantikan pekerjaan pengacara dan dokter.Ilustrasi dibuat menggunakan AI. KOMPAS.com/Zulfikar Hardiansyah Ilustrasi AI menggantikan pekerjaan pengacara dan dokter.

Baca juga: Peringatan Elon Musk, Tanpa AI dan Robot Amerika Bisa Bangkrut

Kematian industri perantara hingga perbankan

Dampak pengangguran massal akibat digantikan AI ini semula hanya dianggap sebagai masalah sektoral, khususnya di bidang teknologi.

Namun, terus menjalar ke sektor-sektor krusial, termasuk pasar kredit dan perumahan. Cicilan Kredit Pemilikan Rumah (KPR) yang biasanya diisi oleh kalangan menengah kini mulai retak dan berujung pada ancaman gagal bayar massal.

Bisnis perangkat lunak (SaaS) menjadi korban pembuka. Alat coding agen, seperti Claude Code atau Codex memungkinkan sebuah perusahaan mereplikasi sistem SaaS senilai ratusan ribu dollar AS hanya dalam hitungan minggu.

Vendor terpaksa memangkas harga hingga 30 persen agar klien tetap setia dan tidak beralih membangun sistem mereka sendiri.

Efek domino ini meluas hingga ke pasar kredit swasta senilai 2,5 triliun dollar AS yang sebelumnya banyak disuntikkan ke perusahaan software.

Pada April 2027, lembaga pemeringkat Moody's menurunkan peringkat utang perusahaan software senilai miliaran dollar, yang memicu kepanikan massal di pasar.

Tidak hanya di AS, negara yang mengandalkan ekspor jasa TI seperti India pun hancur lebur. Sektor layanan TI India yang bernilai 200 miliar dollar AS kehilangan pesonanya.

Kontrak-kontrak besar dibatalkan karena biaya marginal untuk menjalankan agen coding AI telah menyusut drastis hingga hanya setara dengan biaya listrik.

Mata uang Rupee anjlok 18 persen dalam empat bulan, memaksa pemerintah India meminta bantuan darurat dari IMF.

Di sisi konsumen, memasuki awal 2027, penggunaan agen AI telah menjadi standar baku. Masyarakat menggunakan agen AI yang bekerja di latar belakang secara terus-menerus.

Agen belanja berbasis open-source seperti Qwen disebut menjadi katalis. Agen ini tidak hanya membantu, tetapi mengambil alih proses keputusan.

Mereka membandingkan harga otomatis, membatalkan langganan tidak terpakai, menegosiasikan premi asuransi, dan memilih opsi paling murah setiap saat. Alhasil, model bisnis berbasis friksi dan kelengahan manusia runtuh.

Yang paling menarik dari skenario ini adalah bagaimana kecerdasan agen AI memicu kiamat di sektor perbankan.

Citrini mencontohkan, agen AI yang sangat teliti kelak akan mulai memproses transaksi dengan sengaja menghindari jaringan biaya gesek kartu kredit (interchange fees) yang biasanya memotong porsi 2 hingga 3 persen dari penjual.

Manuver agen AI ini mematikan model bisnis raksasa perbankan dan penerbit kartu kredit. Selama ini, biaya merchant itulah yang menjadi urat nadi perbankan untuk mendanai program poin, cashback, dan rewards nasabah.

Hal serupa menimpa platform pemesanan perjalanan/travel. Agen AI pribadi milik konsumen bisa langsung membandingkan harga dan menyusun rencana perjalanan lengkap (tiket, hotel, transportasi) lebih murah dan lebih cepat dari platform mana pun.

Semua bisa dilakukan tanpa butuh perantara, membuat raksasa aplikasi pemesanan menjadi tak relevan lagi.

Agen AI juga secara otomatis membatalkan layanan langganan pasif dan menegosiasikan ulang premi asuransi setiap tahun, menghancurkan model bisnis yang bergantung pada kelengahan konsumen.

Di sektor properti dan hukum, komisi agen real estate yang selama bertahun-tahun bertengger di angka 2,5 hingga 3 persen hancur menjadi di bawah 1 persen. AI yang dibekali data historis transaksi mampu mengambil alih pekerjaan tersebut seketika.

Apa yang selama ini diagungkan sebagai "hubungan personal antarmanusia" dalam bisnis ternyata tak lebih dari sekadar friksi dengan wajah yang ramah. Mesin tidak peduli pada loyalitas merek, mereka hanya memburu harga termurah.

Baca juga: Di Balik Kecanggihan AI, Ada Peran Penting Produsen Micin dan Dudukan Toilet

Negara defisit dan jaring pengaman yang jebol

Negara pun ikut terseret dalam jurang kebangkrutan. Pasalnya, sebagian besar pendapatan negara berasal dari pajak penghasilan dan payroll manusia.

Ketika porsi pendapatan tenaga kerja terhadap GDP dalam skenario tersebut disebut turun 12 persen, dari 56 persen menjadi 46 persen hanya dalam empat tahun, penerimaan negara ikut tergerus.

Produktivitas naik, tetapi keuntungan mengalir ke pemilik modal dan infrastruktur komputasi, bukan ke rumah tangga. 

Di saat dompet negara menipis, bebannya justru berlipat ganda. Mekanisme jaring pengaman sosial dan subsidi pemerintah mengalami kelebihan beban. Angka defisit meledak tak terkendali demi menanggung jutaan pengangguran.

Pada akhirnya, bakal adanya wacana pajak komputasi AI dan skema pembagian hasil AI sebagai jaring pengaman baru.

Moral of the story...

Melimpahnya kecerdasan mesin tanpa diimbangi oleh kapasitas konsumsi manusia telah menciptakan krisis ekonomi paling aneh dalam sejarah.

Ketika manusia kehilangan nilai ekonomisnya sebagai pekerja, mereka perlahan juga kehilangan fungsinya sebagai konsumen yang memutar roda ekonomi itu sendiri.

Melalui "The 2028 Global Intelligence Crisis", Citrini Research meninggalkan sebuah pesan yang menohok.

Mereka mengajak kita merenungkan sebuah paradoks teknologi, bahwa narasi indah tentang "melakukan lebih banyak hal dengan sumber daya yang lebih sedikit" (doing more with less) pada akhirnya bisa membuat kondisi masyarakat secara keseluruhan menjadi jauh lebih buruk jika tidak diantisipasi.

Krisis di tahun 2028 memang baru sekadar skenario di atas kertas. Namun, ini adalah tamparan peringatan bahwa disrupsi AI tanpa penyesuaian struktur sosial dan ekonomi adalah resep paling sempurna untuk meruntuhkan peradaban finansial modern.

Tag:  #inilah #skenario #krisis #2028 #saat #gantikan #manusia #terlalu #cepat

KOMENTAR