Dari Konten Fungsi Helm ke Teror Digital: Mengapa Petugas Damkar Depok Diincar dan Diintimidasi?
- Petugas pemadam kebakaran Khairul Umam menerima teror berisi ancaman yang menyertakan alamat pribadi keluarganya setelah mengunggah konten edukasi helm.
- Peristiwa ini dilihat Amnesty International sebagai bagian pola represi sistematis yang bertujuan membungkam ekspresi kritis publik dan aparat gagal mengungkap pelaku.
- Seorang auditor kepolisian membongkar identitas Wawan Gunawan, seorang buruh harian lepas dari Subang, yang disebut sebagai peneror di media sosial.
Getar notifikasi itu awalnya tak berarti apa-apa bagi Khairul Umam. Seperti ratusan pesan lain yang masuk ke ponselnya, sore itu ia menerima WhatsApp dari nomor tak dikenal. Pengirimnya mengaku sebagai penggemar, memuji konten-konten yang ia unggah sebagai petugas pemadam kebakaran.
Obrolan ringan mengalir. Pujian berganti basa-basi. Namun arah percakapan mendadak berbelok ke lorong gelap.
“Jaga keselamatan,” tulis si pengirim, menyarankan Khairul selalu memakai helm dan “sowan” kepada orang tuanya. Lalu datang kalimat yang membuat napasnya tercekat: “Tunggu, saya ada kejutan buat kamu.”
Tak lama berselang, alamat lengkap rumahnya diketikkan. Disusul alamat rumah istrinya. Bahkan nama lengkap kedua orang tuanya disebut satu per satu.
Konten edukasi sederhana tentang fungsi helm—yang ia akui dibuat untuk lucu-lucuan—tiba-tiba berubah menjadi pintu masuk teror yang menyasar ranah paling pribadi: keluarga.
Mengapa Konten Edukasi tentang Fungsi Helm Bisa Berujung Teror?
Sebagai petugas damkar, Khairul kerap membagikan konten informatif sekaligus hiburan di media sosial. Dalam video yang kemudian memicu polemik, ia hanya menyampaikan pesan elementer: helm digunakan untuk melindungi kepala, bukan melukai warga.
PerbesarInfografis fungsi helm APD yang benar, fatal kalau disalahgunakan. (Suara.com/Rochmat)“Saya mah cuma bilang pake helm itu gunanya untuk apa,” ujar Khairul kepada wartawan. Ia menegaskan tak ada narasi atau caption yang menyudutkan institusi mana pun.
Namun konteks sosial saat itu sedang panas. Publik tengah menyoroti kasus kekerasan yang melibatkan Bripda Masias Siahaya terhadap pelajar 14 tahun, Arianto Tawakal, di Kota Tual, Maluku. Dalam atmosfer sensitif tersebut, konten Khairul ditafsirkan sebagian pihak sebagai sindiran.
Khairul sendiri mengaku tak bisa mengontrol tafsir orang.
“Yang bisa saya kontrol adalah apa yang saya buat. Ketika respons dari orang lain itu kan saya nggak bisa kontrol,” tuturnya.
Dari situ, percakapan digital berubah menjadi intimidasi nyata.
Pola Represi yang Mengkhawatirkan
Apa yang dialami Khairul Umam bukanlah fenomena baru. Direktur Amnesty International Indonesia, Usman Hamid, melihatnya sebagai bagian dari pola yang lebih besar dan mengkhawatirkan.
“Ini bukan insiden yang berdiri sendiri. Jika ditarik garis lurus dengan kasus-kasus sebelumnya, seperti intimidasi terhadap aktivis Greenpeace maupun content creator, maka ini adalah pola represi yang sistematis,” jelas Usman kepada Kamis (26/2/2026).
Menurut Usman, teror semacam ini punya dua sasaran. Pertama, menakuti korban secara personal. Kedua—yang lebih berbahaya—mengirimkan pesan sunyi kepada publik luas agar tak berani bersuara kritis.
Ketika satire atau konten edukasi dibalas ancaman yang menyasar alamat rumah dan identitas keluarga, ruang sipil untuk berekspresi pelan-pelan tercekik. Usman menilai akar persoalan terletak pada budaya impunitas.
“Aparat berwenang sering kali lamban atau bahkan gagal mengungkap pelakunya,” ujarnya.
Kegagalan penegakan hukum, kata dia, menjadi pupuk bagi berulangnya teror serupa. Jika dibiarkan, bukan tak mungkin praktik intimidasi—baik lewat jalur hukum formal maupun “teror gelap”—menjadi mekanisme pembungkaman baru.
Identitas Peneror Dibuka ke Publik
Di tengah spekulasi yang kembali menyeret institusi kepolisian, langkah tak terduga muncul dari internal Polri. Auditor Kepolisian Madya TK II Itwasum Polri, Kombes Manang Soebeti, memilih membongkar identitas yang disebut sebagai peneror secara terbuka.
“Masa iya Damkar yang bikin konten tentang helm diteror?” ujarnya dalam video di akun Instagram pribadinya.
“Gimana kalau kita buka siapa dia itu? Biar jelas, biar enggak dituduh-tuduh polisi lagi. Ngapain polisi neror-neror?” imbuhnya.
Tanpa banyak penjelasan, merujuk pada nomor handphone peneror data pribadi pria bernama Wawan Gunawan—yang disebut sebagai buruh harian lepas asal Subang—dipaparkan ke ruang publik: foto, NIK, nomor KK, alamat lengkap, hingga nama orang tua.
Langkah ini memang meredam sebagian tudingan bahwa teror berasal dari institusi. Namun ia sekaligus memunculkan pertanyaan baru: apa motif buruh harian lepas itu meneror Khairul? Apa benar dia pelakunya?
Tag: #dari #konten #fungsi #helm #teror #digital #mengapa #petugas #damkar #depok #diincar #diintimidasi