PM Singapura Janjikan Tak Akan Ada Jobless Growth Meski AI Ubah Arah Ekonomi
Perdana Menteri Lawrence Wong dari Partai Aksi Rakyat (PAP) merayakan kemenangannya dalam pemilu Singapura, Sabtu (3/5/2025).(AFP/ROSLAN RAHMAN)
20:16
26 Februari 2026

PM Singapura Janjikan Tak Akan Ada Jobless Growth Meski AI Ubah Arah Ekonomi

Perdana Menteri Singapura Lawrence Wong menegaskan negaranya tidak akan mengalami “pertumbuhan tanpa lapangan kerja” saat kecerdasan buatan atau artificial intelligence, AI, mengubah ekonomi global.

Wong yang juga menjabat Menteri Keuangan menekankan pemerintah akan memanfaatkan AI untuk mendorong pertumbuhan dan memastikan manfaatnya dirasakan pekerja.

“Begitulah cara kami memberikan kepercayaan kepada setiap warga Singapura untuk maju di masa depan,” kata Wong di parlemen, Kamis (26/2/2026), saat menutup debat Anggaran 2026 selama tiga hari, dilansir CNA.

Baca juga: Konglomerat RI Mochtar Riady Bakal Jual Gedung Ikonik di Singapura

Awal bulan ini, dalam pidato Anggaran, Wong mengumumkan akan memimpin Dewan AI Nasional yang baru. Dewan tersebut mengawasi pengembangan dan pelaksanaan berbagai misi AI nasional.

Empat sektor menjadi fokus, yaitu manufaktur canggih, konektivitas, keuangan, dan kesehatan.

“Setiap sektor berbeda dan bagaimana mereka menggunakan AI serta dampaknya terhadap pekerja di setiap sektor akan bervariasi,” kata Wong.

“Dan itulah mengapa kami mengoordinasikan semua upaya ini melalui Dewan AI Nasional, menyelaraskan transformasi industri dan peningkatan tenaga kerja untuk memastikan bahwa AI mengangkat derajat pekerja kami.

“Itulah jaminan kami, dan itulah mengapa strategi kami ke depan jelas,” sambungnya.

Wong mengakui kecemasan pekerja dan lulusan baru menghadapi gelombang AI.

“Kekhawatiran ini nyata dan kita harus dan akan menanggapinya dengan serius,” ujarnya.

Baca juga: Singapura Siapkan Insentif AI dalam APBN 2026, Bidik Produktivitas Bisnis

Pasar Kerja Singapura Dianggap Masih Tangguh

Ia mengingatkan setiap gelombang teknologi besar selalu menggantikan sebagian pekerjaan dan melahirkan jenis pekerjaan baru.

Pengalaman Singapura menunjukkan AI meningkatkan kualitas pekerjaan dan produktivitas meski sebagian tugas terotomatisasi.

Pasar tenaga kerja Singapura dinilai masih tangguh. Proporsi pekerja tetap mencapai hampir 91 persen, tertinggi sepanjang sejarah. Peningkatan terjadi di sebagian besar sektor.

Jumlah lowongan kerja masih melampaui pencari kerja. Lebih dari 40 persen lowongan ditujukan bagi profesional, manajer, eksekutif, dan teknisi tingkat pemula atau professional, manager, executive, and technician, PMET.

Wong menegaskan belum ada bukti pemutusan hubungan kerja massal akibat AI.

“Kita tidak bisa hanya mengandalkan data hari ini, kita harus mempersiapkan diri untuk besok,” katanya.

Ia menilai tidak ada hukum ekonomi yang menjamin penciptaan lapangan kerja selalu lebih besar dari yang hilang.

“Itu telah terjadi di masa lalu, tetapi tidak ada hukum ekonomi yang mengatakan bahwa ini akan selalu terjadi atau bahwa ini akan terjadi di masa depan.”

Menurut dia, AI berkembang lebih cepat dan memengaruhi lebih banyak jenis pekerjaan dibanding teknologi sebelumnya. Risiko yang diwaspadai antara lain ketergantungan perusahaan pada AI, berkurangnya pelatihan pekerja, serta menyusutnya posisi tingkat pemula.

“Kami waspada terhadap risiko-risiko ini, dan kami akan bertindak sejak dini untuk mencegah hal tersebut terjadi di Singapura.”

“Kami akan berinvestasi lebih terencana dan lebih sistematis pada sumber daya manusia kami.”

Pemerintah bekerja sama dengan mitra tripartit, termasuk Kongres Serikat Pekerja Nasional atau National Trades Union Congress, NTUC, untuk memperkuat pelatihan dan perlindungan pekerja.

Wong juga menyoroti penguatan ekonomi domestik, terutama sektor jasa. Pemerintah menerapkan kerangka peningkatan keterampilan, memperbarui pedoman gaji sektor perawatan masyarakat dan layanan sosial, serta menaikkan gaji pekerja lembaga kesehatan masyarakat dan prasekolah yang didukung negara.

“Ini bukan langkah ad-hoc atau sekali saja.”

“Ini merupakan bagian integral dari strategi ekonomi kita karena pertumbuhan inklusif berarti lebih dari sekadar mengembangkan industri-industri baru.”

“Ini juga berarti memastikan bahwa layanan domestik, layanan yang diandalkan warga Singapura setiap hari, menjadi lebih produktif, lebih profesional, dan lebih menarik sebagai karier.”

Usaha kecil dan menengah juga menjadi perhatian karena menyerap banyak tenaga kerja. Sektor ritel serta makanan dan minuman menghadapi tekanan lebih besar.

Pemerintah memberikan potongan pajak penghasilan perusahaan atau corporate income tax, CIT, dalam jangka pendek. Dukungan jangka panjang tidak boleh merusak insentif pasar.

Wong menegaskan pemerintah tidak akan melonggarkan batas rasio ketergantungan tenaga kerja asing atau dependency ratio ceiling, DRC. Kebijakan itu dinilai berisiko meningkatkan ketergantungan pada pekerja asing.

“Pada akhirnya, jalan berkelanjutan ke depan adalah peningkatan produktivitas dan transformasi bisnis.”

Ekonomi Singapura tumbuh 5 persen tahun lalu dan melampaui perkiraan. Tekanan biaya hidup tetap dirasakan masyarakat.

“Data mungkin menunjukkan peningkatan, tetapi pengalaman dan realitas yang dialami sangat penting,” kata Wong.

“Jadi pertanyaannya adalah: apa lagi yang harus kita lakukan untuk mengurangi tekanan biaya dan memastikan setiap warga Singapura dapat terus maju?”

Ia menyebut pendapatan meningkat lebih cepat dari inflasi dalam beberapa dekade terakhir. Porsi pengeluaran rumah tangga terhadap pendapatan relatif stabil atau menurun di berbagai kelompok pendapatan.

“Secara umum, warga Singapura menghabiskan lebih sedikit dari pendapatan mereka, meskipun pengeluaran mereka meningkat dalam nilai dolar.”

“Secara khusus, porsi pendapatan rumah tangga yang dihabiskan untuk kebutuhan pokok seperti makanan, transportasi umum, dan pendidikan telah menurun di semua kelompok pendapatan.”

Sektor kesehatan menjadi pengecualian. Porsi pendapatan untuk layanan dan asuransi kesehatan meningkat seiring populasi yang menua.

Pemerintah berupaya mengendalikan praktik tambahan yang memicu inflasi medis, terutama di sektor swasta.

“Kami akan terus memastikan bahwa perawatan kesehatan tetap terjangkau di Singapura.”

“Tidak ada warga Singapura yang akan ditolak perawatan kesehatan yang mereka butuhkan karena ketidakmampuan untuk membayar. Itu jaminan kami.”

Wong juga menyinggung ketimpangan kekayaan. Pemerintah mulai menerbitkan data secara lebih sistematis.

Rumah tangga di kuintil terbawah memiliki kekayaan bersih rata-rata hampir 300.000 dollar Singapura. Nilai tersebut setara sekitar 300.000 dollar Singapura atau sekitar 237.700 dollar Amerika Serikat. Dengan asumsi 1 dollar Amerika Serikat sama dengan Rp 16.798, jumlah itu setara sekitar Rp 3,99 miliar.

“Itu adalah fondasi yang berarti,” kata Wong.

Tag:  #singapura #janjikan #akan #jobless #growth #meski #ubah #arah #ekonomi

KOMENTAR