Kelahiran Anjlok ke Rekor Terendah, Singapura Terancam Menyusut di 2040
Angka kelahiran di Singapura kembali mencetak rekor terendah dalam sejarah, dengan total fertility rate (TFR) atau angka kesuburan total penduduk residen turun menjadi 0,87 pada 2025.
Pemerintah memperingatkan, tanpa intervensi baru, populasi warga negara Singapura bisa mulai menyusut pada awal 2040-an.
Di saat yang sama, laju penuaan penduduk berlangsung semakin cepat dan berdampak luas pada masyarakat serta ekonomi.
Baca juga: Kereta Lintas Negara Malaysia–Singapura Segera Beroperasi, 5 Menit Sampai
Wakil Perdana Menteri Singapura, Gan Kim Yong, menyampaikan hal itu dalam debat anggaran untuk Kantor Perdana Menteri pada Kamis (26/2/2026). Ia menegaskan, dengan penurunan angka kelahiran yang berlangsung dalam kecepatan belum pernah terjadi sebelumnya, tantangan demografi yang dihadapi Singapura bersifat mendasar.
Populasi Singapura bisa menyusut awal 2040-an
Gan menjelaskan, jika TFR tetap di angka 0,87—yang berarti rata-rata setiap perempuan hanya melahirkan kurang dari satu anak sepanjang usia reproduktifnya—dampaknya akan sangat besar.
Menurut dia, kondisi tersebut setara dengan hanya ada 44 anak dan 19 cucu untuk setiap 100 penduduk saat ini.
“Seiring waktu, hampir mustahil membalikkan tren ini, karena kita akan memiliki semakin sedikit perempuan yang bisa melahirkan,” ujarnya.
Ia menambahkan, tanpa langkah baru, populasi warga negara Singapura bisa mulai menyusut pada awal dekade 2040-an.
Imigrasi dikelola ketat untuk tambal kekurangan
Menghadapi situasi ini, Gan menekankan perlunya arus imigrasi yang “dikelola dengan hati-hati untuk menambah rendahnya angka kelahiran.”
Pemerintah memperkirakan akan menerima antara 25.000 hingga 30.000 warga negara baru per tahun dalam lima tahun ke depan, tergantung tren demografi.
Pada 2025, sekitar 25.000 orang menjadi warga negara Singapura. Sebagai perbandingan, rata-rata 21.300 kewarganegaraan diberikan setiap tahun pada periode 2020–2024.
Jumlah penduduk tetap (permanent residents/PR) baru juga diperkirakan naik menjadi sekitar 40.000 per tahun dalam lima tahun mendatang. Pada 2025, sekitar 35.000 orang memperoleh status PR.
Gan menegaskan, pemerintah akan mempertahankan inti warga negara yang stabil dan tetap selektif terhadap imigran baru.
Laju imigrasi juga akan diatur agar pembangunan infrastruktur publik seperti perumahan dan transportasi dapat mengimbangi pertumbuhan penduduk.
Target 6,9 juta bukan sasaran mutlak
Gan kembali menegaskan bahwa total populasi Singapura pada 2030 akan jauh di bawah 6,9 juta, meski jumlah penduduk tetap diperkirakan bertambah.
Namun, pertumbuhan itu kemungkinan lebih lambat dibandingkan lima tahun terakhir.
Angka 6,9 juta pertama kali diungkap dalam White Paper Kependudukan pada 2013 dan sempat memicu kekhawatiran luas soal kepadatan penduduk.
Pemerintah menegaskan angka tersebut bukan target, melainkan parameter perencanaan.
Per Juni 2025, populasi Singapura tercatat 6,11 juta jiwa. Jika tren demografi saat ini berlanjut, Gan mengatakan, masih dibutuhkan waktu yang “cukup lama” untuk mencapai 6,9 juta. Pemerintah akan meninjau kembali situasi tersebut pada 2030.
Ia juga menekankan, “Kami akan mempertahankan keseimbangan etnis yang luas dalam populasi warga negara kami, dan terus secara hati-hati mengelola dampak imigrasi terhadap komposisi penduduk, untuk menjaga keseluruhan karakter masyarakat kami.”
Baca juga: Changi Singapura Masuk Daftar Bandara Terbaik untuk Bertemu Cinta Sejati
Kekhawatiran soal lapangan kerja
Gan mengakui adanya kekhawatiran warga terkait imigrasi. Ia mengungkapkan pertanyaan yang kerap muncul di tengah masyarakat:
“Apakah mendatangkan imigran berarti peluang kerja untuk saya menjadi lebih sedikit? Apakah Singapura tempat anak-anak saya tumbuh akan terasa sangat berbeda dari yang saya alami?”
Menurutnya, pemerintah menanggapi serius kecemasan tersebut dan akan meningkatkan upaya integrasi antara imigran baru dan warga Singapura.
Pernikahan turun, kelahiran anjlok
Di sisi lain, angka pernikahan menurun, dan pasangan yang menikah cenderung memiliki lebih sedikit anak atau bahkan tidak memiliki anak sama sekali.
Akibatnya, jumlah kelahiran residen pada 2025—berdasarkan angka sementara—hanya sekitar 27.500 bayi, terendah dalam sejarah pencatatan Singapura.
Angka itu turun sekitar 11 persen dibandingkan 30.808 kelahiran residen pada 2024.
Kelahiran residen merujuk pada bayi yang lahir dengan setidaknya satu orang tua warga negara atau PR Singapura.
Penurunan ini tergolong cepat, mengingat satu dekade lalu pada 2015, TFR masih berada di angka 1,24.
Populasi menua lebih cepat dari sebelumnya
Ilustrasi lansia.
Gan menegaskan, “Angka kelahiran yang rendah dan populasi yang menua akan secara mendalam membentuk kembali bangsa kita, masyarakat kita, dan ekonomi kita pada tahun-tahun mendatang.”
Meski ada tambahan imigrasi, populasi warga negara hanya tumbuh 0,7 persen pada 2025, dan pertumbuhan itu terus melambat dalam satu dekade terakhir.
Sementara itu, satu dari lima warga negara berusia 65 tahun ke atas pada 2025—naik dari satu dari delapan pada 2015. Menurut Gan, Singapura kini menua “lebih cepat dari sebelumnya”.
Ia memperingatkan dampak luas dari tren ini, mulai dari melemahnya jaringan dukungan keluarga hingga perlambatan pertumbuhan ekonomi.
“Pada tingkat makro, ekonomi yang menyusut berarti berkurangnya vitalitas di kota dan ekonomi kita. Pertumbuhan ekonomi kita dan, sejalan dengan itu, pertumbuhan pendapatan kita akan melambat,” ujarnya.
Ia menambahkan, “Dengan semakin sedikit warga negara, akan menjadi semakin sulit untuk memenuhi kebutuhan keamanan nasional dan pertahanan kita. Ini memunculkan pertanyaan yang lebih dalam tentang seperti apa Singapura dalam 50 atau 100 tahun mendatang—apakah kita akan tetap dinamis, layak huni, dan relevan? Apakah kita akan tetap ada?”
Baca juga: Viral Karyawan Toko Roti di Singapura Bersihkan Rak Etalase Pakai Sapu, Kini Dipecat
Tag: #kelahiran #anjlok #rekor #terendah #singapura #terancam #menyusut #2040