Cerita Puti Guntur: Fatmawati Sempat Mengira Kain Merah Putih untuk Popok Bayi
Cucu Presiden Pertama RI Soekarno, Puti Guntur Soekarno saat menceritakan kisah sang nenek, Fatmawati, dalam acara peluncuran Fatmawati Trophy 2026, Sabtu (7/2/2026).(KOMPAS.com/NICHOLAS RYAN ADITYA)
19:14
7 Februari 2026

Cerita Puti Guntur: Fatmawati Sempat Mengira Kain Merah Putih untuk Popok Bayi

- Peringatan 103 tahun kelahiran Ibu Negara Pertama RI, Fatmawati Soekarno, menjadi momen penuh haru bagi keluarga besar Bung Karno.

Sembari terharu, cucu Fatmawati, Puti Guntur Soekarno mengisahkan kembali awal mula lahirnya Sang Saka Merah Putih.

Ia menceritakan, kala itu Fatmawati yang mengandung putra pertama, Guntur Soekarnoputra, menerima dua helai kain merah dan putih dari seorang perwira Jepang pada Oktober 1944.

Baca juga: PDI-P Bakal Gelar Soekarno Run 2026 di GBK, Diprakarsai Anak Muda

"Bahan merah dan putih itu tidak ada yang tahu. Bahkan Ibu Fatmawati sendiri tidak mengerti harus diapakan. Karena sedang mengandung, maka pikirannya mungkin—dari perwira yang memberikan bahan itu—ini adalah untuk dibuat popok bayi," kata Puti dalam acara bertajuk 'Ibu Bangsa Fatmawati Soekarno dalam Balutan Wastra Nusantara' di kediaman Fatmawati, Jakarta Selatan, Sabtu (7/2/2026).

Selanjutnya, menurut Puti, Fatmawati menjahit bendera tersebut dengan tangannya sendiri, tanpa pernah berpikir bahwa kelak kain itu menjadi simbol kedaulatan bangsa.

"Tanpa bertanya apakah suaminya akan menjadi presiden atau dirinya menjadi ibu negara, Fatmawati menjahit bendera itu dengan tangan, di tengah kondisi hamil besar dan ancaman tentara Jepang," ujarnya.

Lebih dalam, Puti menekankan peran Fatmawati sebagai ikon budaya dan diplomasi Indonesia. Menurutnya, Fatmawati selalu percaya diri menampilkan identitas bangsa di hadapan dunia.

Baca juga: Saat Soekarno-Hatta Ditangkap dalam Agresi Militer II, Syafruddin Prawiranegara Menjalankan PDRI

"Beliau menampilkan diri sebagai Ibu Bangsa yang penuh percaya diri. Mendampingi Bung Karno menerima tamu-tamu negara dari segala bangsa, beliau tampil dalam ciri khas keindonesiaan, dalam balutan Wastra Nusantara," tutur Puti.

Di hadapan keluarga besar dan kader PDI-P, Puti mengaku berbicara bukan sebagai politisi, melainkan sebagai cucu yang menyimpan memori hangat tentang sosok Fatmawati.

Menurutnya, sejarah kerap mencatat Fatmawati sebagai penjahit Sang Saka Merah Putih, tetapi melupakan sisi-sisi kemanusiaan yang justru sangat membekas bagi keluarga.

Baca juga: Peran Fatmawati sebagai Tokoh Perempuan Kemerdekaan Indonesia

“Sebagai seorang nenek, hari ini saya, Mas Romy, Mas Dade, sampai hari ini masih bisa merasakan kehangatan cinta dari Ibu Fatmawati. Cinta yang sederhana dari seorang ibu, melalui masakannya," kata Puti.

Adapun dalam kegiatan ini, diluncurkan juga Fatmawati Trophy 2026 yang digagas Ketua DPP PDI-P M. Prananda Prabowo.

Trofi tersebut dirancang oleh pemahat nasional Dolorosa Sinaga dalam bentuk figur perempuan berjubah yang berdiri tegak, melambangkan keteguhan dan kekuatan moral perempuan Indonesia.

Rangkaian acara juga diisi dengan tur Museum Fatmawati yang dipandu langsung oleh Puti Guntur Soekarno, serta ramah tamah dengan sajian khas Bengkulu seperti gulai pakis, pendap, rendang lokan, hingga kue lepek binti—menghadirkan memori domestik dan kultural dalam sejarah perjuangan nasional.

Tag:  #cerita #puti #guntur #fatmawati #sempat #mengira #kain #merah #putih #untuk #popok #bayi

KOMENTAR