Megawati di HUT ke-53 PDIP: Krisis Iklim Adalah Ancaman Nyata, Generasi Muda Paling Dirugikan
- Ketua Umum PDIP, Megawati, peringatkan krisis ekologis pada Rakernas HUT ke-53 di Ancol, Jakarta Utara, 10 Januari 2026.
- Bencana besar di Indonesia pada November 2025 menjadi bukti kegagalan merawat bumi, berdampak pada ribuan korban jiwa.
- Megawati menyoroti bahwa generasi muda menanggung beban mewarisi bumi rusak akibat kapitalisme eksploitatif sebelumnya.
Ketua Umum PDI Perjuangan (PDIP), Megawati Soekarnoputri, menyampaikan peringatan keras mengenai ancaman krisis ekologis global dalam pidato politik pada pembukaan Rakernas I sekaligus peringatan HUT PDI Perjuangan ke-53 Tahun 2026 di Ancol, Jakarta Utara, Sabtu (10/1/2026).
Megawati menegaskan bahwa kegagalan peradaban dalam merawat bumi telah menempatkan generasi muda dalam bayang-bayang masa depan yang kelam dan tidak pasti.
Presiden ke-5 RI ini menyoroti data ilmiah yang menunjukkan bahwa bumi saat ini mencapai suhu terpanas dalam seratus ribu tahun terakhir. Ia memberikan perhatian khusus pada bencana besar yang melanda Indonesia pada akhir 2025 lalu sebagai isyarat nyata kehancuran lingkungan.
“Dan di negeri kita sendiri, pada 23 November 2025, hujan ekstrem telah memicu bencana ekologis dan kemanusiaan berskala besar. Puluhan kabupaten dan kota di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat lumpuh. Ribuan nyawa melayang, ratusan dinyatakan hilang, dan ratusan ribu rakyat terpaksa meninggalkan tanah kelahirannya,” kata Megawati.
Megawati secara khusus menekankan bahwa pihak yang paling menanggung beban dan kerugian dari kerusakan alam ini adalah anak muda.
Menurutnya, generasi mendatang terpaksa mewarisi bumi yang rusak akibat keserakahan logika kapitalisme yang eksploitatif dari generasi sebelumnya.
“Yang paling merasakan kecemasan ini adalah generasi muda. Mereka hidup dalam ketidakpastian, memandang masa depan dengan kegelisahan. Banyak di antara mereka merasa bahwa generasi sebelumnya telah gagal merawat bumi, dan bahwa hari esok justru tampak lebih menakutkan daripada hari ini,” tegasnya.
Ia menambahkan bahwa kecemasan generasi muda didasarkan pada fakta ilmiah yang mengkhawatirkan, di mana dunia tengah mendekati titik kritis yang tidak dapat dipulihkan, mulai dari mencairnya es di kutub hingga merosotnya keanekaragaman hayati.
Bagi Megawati, rentetan bencana yang terjadi bukan sekadar fenomena alam biasa, melainkan peringatan sejarah atas kegagalan manusia dalam menentukan arah peradabannya. Ia mengkritik keras sistem yang mengutamakan keuntungan materi di atas keselamatan jiwa manusia.
“Bagi saya, bencana ini bukan peristiwa alam semata. Ini adalah peringatan sejarah. Ini adalah isyarat keras tentang masa depan yang jauh lebih katastrofik apabila umat manusia gagal mengubah arah peradabannya—gagal menghentikan pemanasan global, gagal mengubah cara memperlakukan alam, dan gagal menempatkan keselamatan rakyat di atas logika kapitalisme yang eksploitatif,” jelasnya.
Megawati melontarkan pertanyaan reflektif kepada seluruh kader dan masyarakat dunia mengenai masa depan peradaban yang sedang berada di ambang keteruraian.
“Ilmu pengetahuan pun memberikan peringatan keras. Kita sedang mendekati titik-titik kritis yang mungkin tidak dapat dipulihkan. Sebagian ilmuwan bahkan menyebut fase ini sebagai awal keteruraian besar peradaban manusia. Pertanyaannya sederhana, tetapi menentukan: apakah kita akan diam, ataukah kita akan mengubah arah sejarah?” pungkasnya.
Tag: #megawati #pdip #krisis #iklim #adalah #ancaman #nyata #generasi #muda #paling #dirugikan