Kisah Pejuang KPR, Bekal Gaji UMR Ajukan Kredit Rumah BTN hingga Bisa Lunasi 14 Tahun Lebih Cepat
Wicaksono (36) berdiri di ambang pintu rumahnya. Saat itu, ia baru memasuki rumah barunya itu di Cluster Pelita Bojong, Kecamatan Bojonggede, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, pada 2017, setelah proses akad.(Dok. Pribadi)
14:44
25 Februari 2026

Kisah Pejuang KPR, Bekal Gaji UMR Ajukan Kredit Rumah BTN hingga Bisa Lunasi 14 Tahun Lebih Cepat

Memiliki rumah sendiri pada usia muda sering kali dianggap sebagai angan-angan belaka bagi pekerja bergaji upah minimum regional (UMR) di Jakarta. Apalagi, dengan harga properti yang terus meroket.

Namun, stereotip pesimistis itu dipatahkan oleh Wicaksono (36), seorang karyawan swasta di Jakarta.

Sebagai perantau asal Jawa Tengah, Wicaksono dan sang istri awalnya mengadu nasib di Ibu Kota dengan menyewa sebuah kontrakan di kawasan padat Manggarai, Jakarta Selatan. Akan tetapi, siklus membayar uang sewa setiap bulan tanpa pernah memiliki aset pada akhirnya mengusik pemikiran mereka.

“Waktu itu masih ngontrak di Manggarai. Tiap tahun mikir, uang habis buat kontrakan terus, tapi enggak jadi aset,” kata Wicaksono kepada Kompas.com, Senin (21/2/2026).

Pada 2017, berbekal gaji UMR Jakarta yang kala itu berada di kisaran Rp 3,2 juta dan tabungan, Wicaksono “nekat” mengambil fasilitas kredit pemilikan rumah (KPR) dari PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk atau BTN dengan down payment (DP) 0 persen.

Bidikannya adalah sebuah rumah sederhana seharga Rp 290 juta di Cluster Pelita Bojong, Kecamatan Bojonggede, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, yang dapat ditempuh sekitar 5 hingga 10 menit dari Stasiun KRL Bojonggede.

Di atas kertas, keputusan itu terdengar seperti manuver finansial yang berbahaya. Cicilan pada dua tahun pertama dipatok flat sebesar Rp 2,6 juta per bulan. Artinya, hanya tersisa hitungan ratusan ribu rupiah dari gajinya untuk bertahan hidup. Tenor yang harus ia jalani pun tak main-main: 20 tahun!

Namun, siapa sangka, utang dua dekade itu berhasil ia lunasi hanya dalam kurun waktu delapan tahun, tepat pada awal 2025.

Baca juga: Agar Cicilan Tak Macet Saat Bunga Floating, Ini Solusi bagi Pejuang KPR

Berbagi peran dengan istri dan pekerjaan sampingan

Sejak awal akad ditandatangani, Wicaksono dan istri sudah sepakat membagi peran secara jelas. Oleh karena itu, ia mantap mengajukan KPR di BTN, meski angka di slip gaji pas-pasan.

"Waktu itu enggak ada keraguan karena emang pikirannya sudah diplot kayak gitu. Suami bayar rumah (lewat KPR), istri (bekerja) buat kehidupan sehari-hari," tutur Wicaksono.

Kawasan tempat tinggal Wicaksono di Cluster Pelita Bojong, Kecamatan Bojonggede, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, pada 2017. Proses KPR rumah di kluster ini didukung oleh PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk atau BTN.Dok. Pribadi Kawasan tempat tinggal Wicaksono di Cluster Pelita Bojong, Kecamatan Bojonggede, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, pada 2017. Proses KPR rumah di kluster ini didukung oleh PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk atau BTN.

Skenario ideal itu sayangnya harus berubah arah. Kelahiran anak kedua dan kesulitan mencari asisten rumah tangga (ART) yang cocok memaksa sang istri untuk resign dari pekerjaannya.

Mesin ekonomi keluarga pun mendadak timpang. Sementara itu, setelah masa flat berakhir, cicilan KPR perlahan merangkak naik menyentuh angka Rp 3,5 juta per bulan, berkejaran dengan kenaikan gaji yang saat itu baru menyentuh Rp 4 juta.

Untuk menutup lubang finansial, Wicaksono mengorbankan jam tidurnya. Ia memutar otak dengan mencari pekerjaan sampingan (freelance). Pagi hingga sore ia mengerjakan proyek lepas, sedangkan malam hari ia gunakan untuk pekerjaan utamanya di kantor.

Sempat hopeless akibat pandemi

Ujian terberat datang pada 2020 saat pandemi Covid-19 menghantam. Kantor utamanya melakukan efisiensi besar-besaran. Banyak proyek freelance-nya pun harus terhenti. Alhasil, arus kas keluarga goyah.

Malam itu, Wicaksono dan istrinya duduk bersama di meja makan, menghitung ulang semua anggaran dengan skenario terburuk.

"Pahit-pahitnya, sampai di titik se-hopeless ini, kalau emang enggak sanggup (mencicil), ya sudah, rumah kami lepas," kenangnya getir.

Baca juga: Cicilan Enggak Lagi Ringan? Simak Cara Pejuang KPR Bertahan Tanpa Nambah Utang

Di tengah keputusasaan, ia mendapat informasi dari tetangga mengenai program keringanan dari BTN. Berbekal rekam jejak cicilan yang tidak pernah menunggak sehari pun, ia memberanikan diri mendatangi pihak bank.

Langkah ini menjadi titik balik. Ia berhasil mendapatkan persetujuan penurunan suku bunga yang menekan cicilannya menjadi Rp 2,8 juta. Ketika ekonomi belum juga membaik pada tahun berikutnya, ia pun mengajukan program restrukturisasi.

"Kami cuma bayar pokok (utang KPR). Jadi, dari Rp 2,8 juta, aku cuma bayar sekitar Rp 400.000 sampai Rp 500.000. Itu sangat membantu, walaupun tenornya ternyata nambah dua tahun (menjadi 22 tahun)," jelasnya.

Siasat "ngebom" dan menolak jadi kutu loncat

Seiring ekonomi pasca-pandemi kian pulih, keran pendapatan dari jalur freelance kembali mengalir. Ia juga mendapatkan pekerjaan di kantor baru dengan gaji yang jauh lebih baik.

Alih-alih meningkatkan lifestyle, Wicaksono memilih untuk tetap hidup sederhana di bawah kemampuannya. Uang hasil sampingan itu ia tabung secara agresif untuk satu tujuan, yakni “ngebom” alias melakukan pelunasan sebagian pokok utang.

Saat dana mulai terkumpul, ia sempat dihadapkan pada godaan untuk memindahkan KPR atau take over ke bank lain demi mendapatkan promo bunga flat. Fenomena ini lazim disebut "kutu loncat" di kalangan debitur KPR.

PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BTN) mendapat alokasi tambahan menjadi 220.000 unit, naik tajam dari kuota sebelumnya.Shutterstock PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BTN) mendapat alokasi tambahan menjadi 220.000 unit, naik tajam dari kuota sebelumnya.

Namun, setelah menghitung cermat dan survei ke sejumlah bank, biaya appraisal baru bisa memakan hingga 11 persen dari total pokok utang. Ia akhirnya memilih setia di BTN.

"Ternyata, lebih menguntungkan jika stay di BTN dengan ngebom," ungkapnya.

Baca juga: Syarat Beli Rumah Subsidi 2026: Ketentuan Penghasilan dan Dokumen Pengajuan KPR

Perhitungannya tepat. Menurut Wicaksono, proses pelunasan sebagian di BTN tergolong mudah. Penalti yang dikenakan pun sangat ringan, hanya 1 persen dari nilai yang disetorkan.

Saat ia ngebom Rp 50 juta dari hasil tabungan freelance, penaltinya hanya Rp 500.000.
Manuver ini ia lakukan dua kali. Akhirnya, cicilan bulanannya terjun bebas hingga hanya tersisa di kisaran Rp 600.000.

"Kalau jadi kutu loncat, kami tetep bayar ratusan juta. Kalau di BTN, setelah kami nembak-nembak, mungkin kami bisa saving Rp 100 juta lebih," tegasnya.

Pengorbanan istri dan pendekatan humanis bank

Puncak perjuangan itu tiba pada awal 2025. Wicaksono memutuskan untuk melunasi seluruh sisa pokok utangnya. Sang istri bahkan rela menjual perhiasan dan aset simpanannya demi kebebasan finansial keluarga.

Namun, ada satu rintangan terakhir. Akibat program restrukturisasi di masa pandemi, terdapat akumulasi beban bunga tertunda sebesar Rp 30 juta yang harus dibayarkan saat pelunasan total, selain sisa pokok, bunga berjalan, dan penalti.

Lagi-lagi, rekam jejak yang bersih dan komunikasi yang baik dengan pihak BTN membuahkan hasil. Petugas bank mengarahkannya untuk mengajukan keringanan.

Baca juga: Antara Asa dan Cicilan: Kisah dan Strategi Para Pejuang KPR Hadapi Bunga Mengambang

Hasilnya mencengangkan. Beban restrukturisasi yang tadinya di atas Rp 30 juta dipangkas oleh pihak bank hingga hanya tersisa Rp 1,5 juta. Kini, sertifikat rumah di Bojonggede itu sudah sepenuhnya beralih nama.

"Ada sisi plong karena udah nggak ada utang di bank. Cuma tinggal utang ke istri, ya. Karena ini (pelunasan) dari jual perhiasannya istri," guraunya.

Banyak kemudahan dari BTN

Penampakan rumah subsidi di Perumahan Pondok Banten Indah, Serang, Banten, Sabtu (20/12/2025). Sebanyak 50.030 unit rumah tersebut diakadkan massal dengan skema KPR FLPP, penyerahan kunci secara simbolis dilakukan langsung oleh Presiden Prabowo Subianto di perumahan tersebut. Dok. Biro Pers, Media, dan Informasi Sekretariat Presiden Penampakan rumah subsidi di Perumahan Pondok Banten Indah, Serang, Banten, Sabtu (20/12/2025). Sebanyak 50.030 unit rumah tersebut diakadkan massal dengan skema KPR FLPP, penyerahan kunci secara simbolis dilakukan langsung oleh Presiden Prabowo Subianto di perumahan tersebut.

Keberhasilan Wicaksono tak terlepas dari pendekatan humanis pihak bank. Ia mengapresiasi kemudahan yang dirasakannya selama menjadi nasabah, mulai dari pengajuan KPR, penurunan suku bunga, restrukturisasi, hingga pelunasan sebagian dan penuh.

“Alhamdulillah, prosesnya sangat mudah di BTN. Petugasnya jelasin dengan baik dan bisa kasih solusi terbaik bagi nasabah. Bener-bener membantu,” ujar Wicaksono.

BTN sendiri menghadirkan berbagai kemudahan dalam memiliki rumah impian lewat KPR. Asal persyaratan lengkap dan skor kredit bagus, pengajuannya dipermudah. Apalagi, saat ini, BTN punya inovasi digital bale Properti yang diluncurkan pada 9 Februari 2025, tepat saat HUT Ke-75.

Platform tersebut memungkinkan pencarian rumah, simulasi KPR, pengajuan pembiayaan, hingga pelacakan proses kredit secara daring.

“Lewat bale Properti, kami ingin menjadikan pengalaman memiliki rumah sebagai sesuatu yang mudah, cepat, dan menyenangkan. Inilah bentuk nyata komitmen BTN untuk menjadi mitra utama keluarga Indonesia dalam mewujudkan rumah impian mereka,” ujar SEVP Digital Business BTN Thomas Wahyudi dalam siaran pers, Kamis (7/8/2025).

Baca juga: BTN Hadirkan Bale Properti, Mudahkan Masyarakat Cari dan Beli Hunian

Tidak hanya di awal pengajuan, ada pula kemudahan yang diberikan saat masa bayar. Sebut saja sistem auto debet (AGF) setiap tanggal 7-8, program diskon angsuran atau bunga, seperti BTN Eazy dan Bayar Cuan, keringanan untuk nasabah existing (rate top up atau restrukturisasi), hingga pengurangan angsuran melalui pemilahan dan penyetoran sampah.

Jika nasabah ingin melakukan manuver "ngebom" (pelunasan sebagian) atau pelunasan dipercepat seperti Wicaksono, prosesnya tidak dipersulit dengan biaya penalti yang hanya 1 persen.

Direktur Utama PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk Nixon LP Napitupulu dalam media gathering BTN di Bandung, Jawa Barat, Jumat (19/9/2025). DOK. PT BANK TABUNGAN NEGARA (PERSERO) TBK Direktur Utama PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk Nixon LP Napitupulu dalam media gathering BTN di Bandung, Jawa Barat, Jumat (19/9/2025).

Dengan sejumlah kemudahan tersebut, sejak 1976 hingga Desember 2025, BTN telah menyalurkan kredit perumahan sebesar Rp 555,11 triliun.

Rinciannya, penyaluran KPR subsidi sekitar 4,4 juta unit dengan nilai Rp 300,99 triliun. Untuk KPR nonsubsidi, BTN telah membiayai 1,3 juta unit rumah dengan total nilai Rp 218,57 triliun.

"Capaian ini semakin menegaskan peran BTN dalam mendukung kepemilikan hunian bagi masyarakat Indonesia," ujar Direktur Utama BTN Nixon LP Napitupulu, diberitakan Kompas.com, Rabu (18/2/2026).

Baca juga: Sejak 1976, BTN Salurkan KPR Rp 555,11 Triliun untuk Hampir 6 Juta Rumah

Milenial dan Gen Z, jangan takut ambil KPR!

Wicaksono pun membagikan resep rahasianya agar berani melangkah untuk mengajukan KPR BTN bagi generasi milenial dan Gen Z yang saat ini masih ngontrak dan merasa pesimis dengan harga rumah.

1. Ubah mindset, KPR harus diniatkan untuk dilunasi sebagian secara bertahap

Langkah pertama, ubah mindset saat mengajukan KPR BTN dengan diniatkan untuk dilunasi secara bertahap. Untuk itu, diperlukan pula pengaturan keuangan secara ketat.

"Saat mengajukan KPR, masuklah dengan niat untuk 'nembak' atau 'ngebom' (pelunasan sebagian). Jangan pasrah mengikuti tenor 20 tahun. Tekan gaya hidup dan tabung untuk memotong pokok utang," tuturnya,

2. Jangan jadi nasabah pasif

Berikutnya, jangan jadi nasabah pasif. Aktiflah bertanya dengan pihak BTN seputar program-program yang memudahkan nasabah.

"Kita harus sering komunikasi sama pihak BTN. Karena kita sibuk bekerja, informasi program-program keringanan KPR itu sering kita skip. BTN punya banyak program yang meringankan nasabah kalau kita mau bertanya," ujarnya.

3. Haram hukumnya telat bayar

Selanjutnya, jangan sesekali telat membayar cicilan. Sekali saja terlambat, hal ini bisa memengaruhi skor kredit serta menurunkan peluang mendapatkan kemudahan dari BTN.

"Jangan telat bayar! Kalau kita telat bayar, minta keringanan dari bank itu bakal jauh lebih susah. Cicilan yang lancar adalah modal utama kita saat butuh bantuan dari bank," lanjutnya.

4. Perbanyak koneksi dan cari side hustle

Kiat berikutnya, memperbanyak koneksi dan mencari side hustle atau pekerjaan sampingan. Penghasilan tambahan ini dapat diinvestasikan ke instrumen aman atau ditabung. Setelah cukup, dana ini bisa digunakan untuk melunasi sebagian.

"Gaji UMR bukan jalan buntu. Perbanyak side hustle (pekerjaan sampingan) dan jaga silaturahmi. Semakin banyak koneksi yang baik dengan teman-teman sekitar, rezeki kita bakal bertambah. Jangan pernah menyepelekan orang di sekitar kita," tuturnya.

Bagi Wicaksono, rumah di Bojonggede bukan sekadar bangunan, melainkan penanda perjalanan dari kontrakan sempit di Manggarai menuju hunian milik sendiri.

Kini, sepulang kerja, ia bisa melihat anak-anaknya bermain tanpa lagi dihantui kekhawatiran soal kontrak atau kenaikan sewa. Sertifikat telah di tangan dan di rumah itulah, ia merasa semua lembur, kurang tidur, serta pengorbanan selama bertahun-tahun akhirnya terbayar.

Tag:  #kisah #pejuang #bekal #gaji #ajukan #kredit #rumah #hingga #bisa #lunasi #tahun #lebih #cepat

KOMENTAR