Investasi Hilirisasi Tembus Rp 147,5 Triliun, Nikel Jadi Penopang Utama
Kawasan Industri (KI) Weda Bay, Kabupaten Halmahera Tengah, Maluku Utara.(Dok. Kementerian PUPR)
20:04
6 Juni 2026

Investasi Hilirisasi Tembus Rp 147,5 Triliun, Nikel Jadi Penopang Utama

-Realisasi investasi hilirisasi di Indonesia mencapai Rp 147,5 triliun pada kuartal I 2026.

Nikel menjadi kontributor utama dengan nilai investasi sekitar Rp 41,5 triliun.

Namun, keberhasilan hilirisasi nikel tidak lagi hanya diukur dari kapasitas produksi dan besarnya investasi. Industri juga dituntut mampu memenuhi standar keberlanjutan sebagai syarat memperoleh akses pasar global.

Isu tersebut menjadi fokus diskusi bertajuk “Responsible Downstreaming at Scale: North Maluku Sustainable Experience” yang digelar Kadin Komite Bilateral UK dan Irlandia dalam rangka Indonesia Critical Minerals Conference 2026.

Diskusi itu mempertemukan pemerintah daerah, pelaku industri, organisasi internasional, dan pemangku kepentingan sektor mineral kritis.

Forum tersebut membahas upaya Maluku Utara membangun praktik hilirisasi yang bertanggung jawab di tengah meningkatnya kebutuhan mineral kritis untuk mendukung transisi energi dunia.

Baca juga: Cadangan Nikel RI Terbesar di Dunia, Maluku Utara Siap Jadi Acuan Hilirisasi Global

Kegiatan ini menjadi rangkaian North Maluku Sustainability Trip yang berlangsung di Indonesia Weda Bay Industrial Park (IWIP) pada 1 sampai 2 Juni 2026.

Ketua bidang Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Kadin Komite Bilateral UK dan Irlandia, Ovan Tito, memaparkan hasil kunjungan Kadin bersama para pembicara ke IWIP, Maluku Utara.

Kunjungan tersebut dilakukan untuk melihat langsung perkembangan ekosistem hilirisasi nikel di Maluku Utara dan berbagai upaya menjadikan kawasan tersebut sebagai referensi global praktik responsible downstreaming.

“Banyak peserta datang dengan berbagai perspektif dan ekspektasi mengenai industri nikel Indonesia. Namun setelah melihat langsung operasional di lapangan, investasi lingkungan yang dilakukan, serta keterbukaan berbagai pihak dalam berdialog, kami melihat sebuah ekosistem industri yang beroperasi pada skala kelas dunia dan terus berupaya meningkatkan standar keberlanjutannya,” ujar Ovan lewat keterangan pers, Sabtu (6/6/2026).

Dampak hilirisasi terlihat dari peningkatan nilai ekspor produk turunan nikel.

Nilainya naik hampir 10 kali lipat, dari 3,3 miliar dollar AS pada 2018 menjadi 34 miliar dollar AS pada 2024.

Maluku Utara kini menjadi salah satu simpul penting dalam rantai pasok mineral kritis global. Daerah ini menyumbang sekitar 13 sampai 15 persen terhadap pasokan nikel dunia.

Pada kuartal I 2026, ekonomi Maluku Utara tumbuh 19,64 persen, tertinggi di Indonesia.

Pertumbuhan itu ditopang aktivitas pengolahan dan pertambangan yang terus berkembang.

Baca juga: Insentif Kendaraan Listrik 2026: Polemik Baterai Nikel vs LFP

Komoditas berbasis besi dan baja, nikel, serta bahan kimia anorganik menyumbang 96,65 persen dari total ekspor daerah.

Angka tersebut menunjukkan peran sentral hilirisasi dalam struktur ekonomi Maluku Utara saat ini.

Gubernur Maluku Utara Sherly Tjoanda mengatakan keberhasilan hilirisasi tidak bisa hanya diukur dari pertumbuhan ekonomi dan besarnya investasi yang masuk.

Menurut dia, tantangan berikutnya adalah memastikan masyarakat lokal mengambil peran lebih besar dalam rantai nilai industri.

Peran itu bisa dilakukan sebagai tenaga kerja terampil, pelaku usaha, maupun pemasok yang mendukung aktivitas industri di daerah.

“Karena itu kami sedang memperkuat pendidikan dan keterampilan masyarakat agar lebih banyak warga Maluku Utara dapat mengambil peran yang lebih besar dalam industri. Kami juga sedang mendorong pengembangan pendidikan vokasi dan politeknik yang relevan dengan kebutuhan sektor industri, sehingga ke depan semakin banyak masyarakat lokal yang dapat mengisi posisi-posisi strategis,” ucap Sherly.

Sherly mengatakan Pemerintah Provinsi Maluku Utara tidak hanya ingin membangun kawasan industri yang lebih besar hingga 2030.

Pemerintah daerah juga ingin memastikan masyarakat memperoleh akses lebih baik terhadap pendidikan, layanan kesehatan, infrastruktur, dan kesempatan ekonomi.

Ambisi tersebut berjalan seiring dengan meningkatnya peran Maluku Utara dalam rantai pasok mineral kritis dunia.

Posisi strategis itu membuat praktik hilirisasi Indonesia semakin disorot pasar global, terutama terkait aspek lingkungan, sosial, dan tata kelola atau environmental, social, and governance (ESG).

Executive Director NiPERA, Chris Schlekat, mengatakan pasar global akan semakin menuntut bukti konkret atas praktik keberlanjutan produsen nikel.

Menurut dia, penggunaan standar internasional yang kredibel menjadi faktor penting untuk membangun kepercayaan dan menjaga daya saing industri Indonesia.

“Ke depan, akses pasar global akan semakin ditentukan oleh kemampuan produsen untuk menunjukkan praktik lingkungan, sosial, dan tata kelola yang dapat diverifikasi. Karena itu, penting bagi industri untuk mengacu pada standar yang kredibel, relevan, dan berbasis sains agar klaim mengenai praktik-praktik tersebut dapat diukur secara objektif,” tutur Chris.

Co-Head of Responsible Sourcing Glencore, Ilse Schoeters, menilai salah satu perbedaan utama antara Indonesia dan negara dengan industri pertambangan yang lebih matang terletak pada usia industri serta penerapan prinsip ESG yang telah berlangsung lebih lama.

“Industri nikel Indonesia berkembang dalam kecepatan yang luar biasa. Dalam waktu kurang dari satu dekade, kawasan industri dan rantai nilai yang kompleks telah tumbuh dengan sangat cepat. Kami melihat ada perusahaan yang sudah menunjukkan kemajuan dalam mengintegrasikan ESG ke dalam operasionalnya, sementara beberapa yang lain masih dalam proses membangun sistem yang diperlukan,” ujarnya.

Di tengah pesatnya perkembangan industri nikel nasional, kemampuan menunjukkan kinerja keberlanjutan secara terbuka dan terukur dinilai akan semakin penting.

Community Outreach Coordinator Initiative for Responsible Mining Assurance (IRMA), Andre Barahamin, mengatakan pengakuan global terhadap praktik pertambangan yang bertanggung jawab sangat ditentukan oleh komitmen perusahaan menjalani proses evaluasi yang transparan dan independen.

“Transparansi bukan tentang membuka ruang untuk saling menyalahkan, tetapi memberikan fondasi yang sama bagi seluruh pemangku kepentingan untuk memahami kemajuan yang telah dicapai dan perbaikan yang masih perlu dilakukan. Audit independen dapat membantu perusahaan memetakan langkah perbaikan secara lebih jelas sekaligus membangun kepercayaan dengan masyarakat, investor, dan pasar global,” kata Andre.

Tag:  #investasi #hilirisasi #tembus #1475 #triliun #nikel #jadi #penopang #utama

KOMENTAR