Menko Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) dalam acara Water Town Hall Meeting di Gedung Kemenko Infra, Jakarta, Selasa (23/2)/(Dimas Choirul/Jawapos.com)
Jawab Persoalan Air, Menko AHY Tawarkan Strategi 'Warung Jamu'
Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) mengungkapkan, Indonesia masih butuh kapasitas penampungan air yang memadai. Hal tersebut dilakukan untuk mendorong kemandirian air di Indonesia. "Saat ini, penggunaan air di Indonesia didominasi oleh irigasi sebesar 74 persen, diikuti kebutuhan rumah tangga 9 persen, industri 6 persen, dan komersial 3 persen. Selain itu, pencemaran air menjadi kendala besar di mana 70 persen sungai kita mengalami polusi," kata AHY dalam acara Water Town Hall Meeting di Gedung Kemenko Infra, Jakarta, Selasa (23/2). Di tengah tingginya penggunaan air tersebut, AHY mengatakan Indonesia secara tidak langsung menghadapi masalah struktural terkait air. "Masalah utama yang kita hadapi adalah ketimpangan antara suplai dan permintaan terutama di pulau Jawa yang dihuni oleh sekitar 150 juta penduduk," ungkapnya. Dari sisi kapasitas penampungan air, Indonesia hanya memiliki 71 meter kubik per kapita. Angka tersebut masih rendah dibanding negara-negara di Asia Tenggara. "Jika dibandingkan dengan negara tetangga seperti Thailand dan Vietnam, kapasitas penyimpanan air per kapita kita masih sangat rendah, yakni hanya 71 meter kubik per kapita, padahal angka idealnya berada di kisaran 100 hingga 150 meter kubik per kapita," kata AHY. Untuk menjawab tantangan tersebut, AHY mengungkapkan strategi yang disebutnya sebagai Warung Jamu atau akronim dari Waktu, Ruang, Jumlah, dan Mutu. Dari sisi waktu, perlu mengatasi kekurangan air di musim kemarau dan kelebihan air di musim hujan melalui pembangunan bendungan, kolam retensi, serta groundwater recharge. Dari sisi ruang, perlu mengatasi jarak antara sumber air dan populasi melalui sistem transmisi pipa dan inter-basin transfer. Selanjutnya, dari sisi jumlah, ekspansi penyimpanan dan teknologi desalinasi terutama untuk daerah pesisir harus ditingkatkan. "Sementara dari sisi mutu, pengelolaan sampah dan limbah serta monitoring kualitas air harus dilakukan secara berkelanjutan untuk menjaga kesehatan masyarakat," papar AHY. Lebih lanjut, terkait akses air bersih, AHY menyebut saat ini baru 20 persen penduduk Indonesia yang terhubung dengan air perpipaan. Pemerintah menargetkan 40 persen cakupan urban pada tahun 2029, dan 100 persen koneksi rumah tangga atau menjangkau 211 juta orang pada 2045. "Penting untuk dicatat bahwa harga air perpipaan jauh lebih murah dibandingkan air kemasan yang bisa mencapai ribuan kali lipat harganya, sehingga akses air pipa merupakan solusi keadilan sosial," pungkasnya.
Editor: Mohamad Nur Asikin
Tag: #jawab #persoalan #menko #tawarkan #strategi #warung #jamu