Tak Perlu Malu Punya Privilese dan Merekayasa ''Mulai dari Nol''
Ilustrasi wisuda, Lulusan IPB cepat dapat kerja(FREEPIK/RAWPIXEL.COM)
16:05
25 Februari 2026

Tak Perlu Malu Punya Privilese dan Merekayasa ''Mulai dari Nol''

- Di tengah maraknya kisah inspiratif tentang individu yang bangkit dari kemiskinan, muncul pandangan bahwa hidup nyaman sejak kecil bukan sesuatu yang patut dirayakan.

Sebagian orang bahkan menganggap merayakan privilese sebagai sikap tidak sopan, atau seolah-olah “berdosa”, di tengah banyaknya ketimpangan sosial.

Inilah mengapa ada orang-orang berprivilese yang menciptakan narasi palsu bahwa mereka datang dari keluarga serba kesusahan, agar kesuksesan mereka terkesan “berangkat dari nol”.

Lantas, apakah hidup aman dan berkecukupan sejak kecil memang tidak layak diapresiasi?

“Setiap manusia tidak memilih untuk lahir dalam situasi tertentu,” tutur pendiri layanan kesehatan mental Cup of Stories, Fitri Jayanthi, M.Psi., Psikolog saat dihubungi pada Selasa (24/2/2026).

Baca juga: Takut Dicap Sombong, Orang Mapan Pura-pura Pernah Hidup Susah

Privilese bukan dosa

Menurut Fitri, setiap orang harus mensyukuri dan merayakan segala yang mereka miliki, baik dalam kondisi beruntung maupun kurang beruntung.

Memiliki latar belakang keluarga yang mampu atau kehidupan yang relatif stabil bukanlah sesuatu yang keliru. Namun, yang menjadi sorotan adalah bagaimana seseorang menyikapi kondisi tersebut.

“Bagi orang yang memiliki privilese tertentu, hal terpenting adalah bagaimana ia mensyukuri privilese yang ia miliki,” kata Fitri.

Ia menjelaskan, privilese dapat menjadi sesuatu yang bernilai positif apabila dimanfaatkan secara optimal.

Sebaliknya, ketika kesempatan tersebut disia-siakan atau digunakan untuk merendahkan orang lain, hal itulah yang patut disayangkan.

“Namun, jika ia memaksimalkan privilese yang ia punya untuk mencapai kesuksesan, maka ini hal yang perlu diapresiasi,” ucap Fitri.

Baca juga: Mengapa Sukses Tanpa Narasi Hidup Susah Kerap Diremehkan?

Hidup aman adalah anugerah

Pandangan serupa disampaikan oleh psikolog klinis Shierlen Octavia, yang menyebut bahwa  kehidupan yang aman, stabil, dan nyaman sejak kecil, bukanlah sesuatu yang perlu dipandang negatif.

“Tentunya, punya hidup yang aman, stabil, dan nyaman, itu bukanlah dosa. Itu malah sebuah anugerah dan perlu kita syukuri,” ucapnya saat dihubungi pada Selasa.

Menurut Shierlen, perdebatan ini bukan semata soal perlu atau tidak perlu dirayakan. Ia melihat bahwa merayakan kondisi hidup yang baik dapat menjadi bentuk syukur yang sehat, selama dilakukan dengan cara yang tepat.

“Mungkin ini bukan tentang perlu atau harus dirayakan. Kalau mau merayakan silakan rayakan karena ini adalah hal yang baik,” tutur dia.

Baca juga: Apa Dampak Sosial Jika Banyak Orang Kaya Merekayasa Pernah Hidup Susah

Memanfaatkan privilese secara bertanggung jawab

Shierlen menambahkan bahwa perayaan tersebut sebaiknya tidak dilakukan dengan sikap pamer atau merendahkan pihak lain.

Ketika dilakukan dengan cara yang tepat, merayakan privilese yang dimiliki bisa menjadi bentuk syukur yang sehat.

Shierlen juga menekankan bahwa privilese memiliki potensi untuk membawa dampak yang lebih luas apabila digunakan secara bijak.

“Privilege kalau dipakai dengan benar kan justru bisa membawa manfaat juga untuk banyak orang. Bisa menjadi contoh atau role model juga tentang bagaimana memanfaatkan situasi yang baik yang kita miliki, untuk orang lain,” katanya.

Perbedaan titik awal untuk mencapai kesuksesan tidak otomatis menentukan nilai moral seseorang. Yang menjadi penilaian adalah sikap dalam mengelola, mensyukuri, dan memanfaatkan kesempatan yang tersedia.

Pandangan bahwa hanya penderitaan yang layak menjadi sumber legitimasi kesuksesan, dapat membentuk standar moral yang sempit.

Sementara itu, kehidupan yang stabil dan aman sejak kecil, jika disertai tanggung jawab dan kontribusi positif, tetap dapat menjadi hal yang bermakna dan berdampak.

Baca juga: Ini Alasan Orang Kaya Enggan Mengakui Latar Belakangnya

Tag:  #perlu #malu #punya #privilese #merekayasa #mulai #dari

KOMENTAR