Wakil Rakyat dan Rokok
WAKIL rakyat kadang memang mirip rokok. Di bungkusnya selalu ada janji kenikmatan.
Katanya bisa menenangkan, menghangatkan, membuat suasana hidup terasa lebih bergairah.
Iklannya penuh senyum. Bahasanya meyakinkan. Warnanya gagah. Kalimatnya terdengar seperti obat bagi segala keresahan rakyat kecil.
Begitulah suasana menjelang pemilu. Spanduk tumbuh lebih cepat daripada pohon.
Wajah-wajah tersenyum memenuhi tikungan jalan. Salam hangat bertebaran. Janji manis terdengar di mana-mana.
Semua tampak seolah sedang menenangkan masa depan bangsa.
Rakyat diajak percaya bahwa setelah memilih mereka, hidup akan lebih baik, harga lebih murah, lapangan kerja lebih luas, dan keadilan lebih dekat.
Namun, seperti rokok, efek sebenarnya sering baru terasa setelah dipakai lama.
Awalnya mungkin terasa biasa saja. Tidak ada gejala mencolok. Tetapi perlahan mulai muncul batuk-batuk demokrasi.
Baca juga: Ironi Dominasi Kebenaran dalam Lomba Cerdas Cermat Pilar Kebangsaan
Aspirasi rakyat seperti paru-paru yang mulai menghitam sedikit demi sedikit. Sidang berubah menjadi asap.
Yang terlihat banyak bicara, banyak suara, banyak interupsi, tetapi sulit menangkap mana substansi dan mana sekadar kabut yang memenuhi ruang parlemen.
Kadang rakyat menonton sidang dewan seperti melihat obrolan panjang di gardu ronda tengah malam.
Ada kopi, ada semangat, ada perdebatan, tetapi ujungnya ngalor-ngidul.
Bedanya, bapak-bapak di gardu ronda tidak memakai fasilitas negara dan tidak menghabiskan anggaran miliaran rupiah.
Rakyat berharap pembahasan tentang pendidikan, kemiskinan, harga pangan, atau kesehatan berlangsung serius.
Tetapi yang muncul kadang justru debat receh, saling sindir, adu mikrofon, bahkan pidato panjang yang lebih cocok menjadi podcast daripada solusi kebangsaan.
Ruang sidang yang seharusnya menjadi tempat lahirnya gagasan besar terkadang berubah seperti tempat “adu tembakau”.
Di dalamnya penuh dengan asap pembicaraan, tetapi sedikit keputusan yang benar-benar terasa manfaatnya bagi rakyat.
Tidak Sekadar Marah-marah
Lucunya, kita rakyat sering marah-marah kepada wakil rakyat, tetapi ketika pemilu datang perilakunya kadang seperti orang kecanduan rokok.
Sudah tahu bikin batuk, tetap membeli merek yang sama. Sudah tahu merusak, tetap berkata, “Mungkin kali ini rasanya beda.”
Tentu tidak adil jika semua wakil rakyat kita samaratakan. Di tengah banyaknya asap rokok politik, tetap ada orang-orang baik yang bekerja diam-diam.
Mereka tidak sibuk membuat drama kamera. Tidak terlalu sering memamerkan bantuan di media sosial. Tidak gemar berteriak di depan mikrofon hanya demi viral.
Mereka bekerja membaca dokumen, memperjuangkan anggaran daerahnya, mengawal kebijakan publik, dan sesekali menerima hinaan tanpa sempat membela diri.
Mereka ini seperti oksigen di tengah ruang penuh asap. Tidak terlalu terlihat, tetapi justru menjaga demokrasi tetap hidup.
Baca juga: Pesta Babi Tanpa Babi
Dengan demikian, sudah barang tentu wakil rakyat tidak bisa diabaikan begitu saja. Demokrasi tanpa wakil rakyat bisa berubah menjadi kekuasaan tanpa pengawasan.
Dalam sistem modern, rakyat yang jumlahnya jutaan membutuhkan perwakilan untuk menyampaikan kepentingannya.
Sama seperti sebagian orang merasa hambar di gardu ronda terasa hambar tanpa kopi dan rokok, demokrasi juga memiliki mekanisme yang membuat keberadaan wakil rakyat tetap penting.
Masalahnya bukan sekadar ada atau tidak ada, melainkan kualitasnya. Rokok yang buruk merusak tubuh lebih cepat.
Wakil rakyat yang buruk merusak kepercayaan publik lebih cepat. Dan, ketika kepercayaan rakyat mulai rusak, negara sebenarnya sedang mengalami penyakit kronis yang lebih berbahaya dari kemiskinan.
Suatu negara tidak runtuh pertama kali karena kemiskinan. Banyak negara miskin tetap bertahan.
Tetapi negara bisa rapuh ketika rakyat merasa parlemen hanyalah panggung tongkorongan adu merek rokok.
Rakyat tidak cukup hanya pandai mengeluh setelah memberikan kepercayaan kepada wakil-wakilnya.
Jangan datang ke TPS lima tahun sekali seperti membeli rokok eceran di warung: asal ambil, asal cocok gambar bungkusnya, lalu menyesal setelah dipakai.
Setelah itu sibuk “ngedumel” bahwa demokrasi tidak beres, wakil rakyat tidak becus, dan negara salah arah.
Demokrasi yang sehat membutuhkan rakyat yang sehat pikirannya juga. Sebab, wakil rakyat hanyalah pantulan kualitas masyarakatnya yang memberikan mandat perwakilannya.
Kalau masyarakat memilih karena uang receh, popularitas kosong, fanatisme buta, atau hiburan panggung, jangan heran kalau parlemen akhirnya lebih mirip tempat adu tembakau daripada tempat memikirkan nasib rakyat.
Baca juga: Membaca Revolusi Diam-diam di Balik Kebangkitan Como 1907
Kita sering lupa bahwa kualitas demokrasi politik tidak pernah lahir tiba-tiba dari langit.
Ia tumbuh dari budaya masyarakatnya. Jika masyarakat terbiasa menghargai gagasan, maka parlemen akan dipenuhi orang-orang yang berpikir.
Tetapi jika masyarakat lebih senang sensasi daripada substansi, maka politik pun berubah menjadi industri “asap dan hiburan rokok”.
Mungkin, suatu hari nanti bangsa ini benar-benar dewasa ketika rakyat mulai memperlakukan pilihan politik seperti menjaga kesehatan dari rokok. Tidak tergoda bungkusnya. Tidak mabuk iklannya.
Tidak memilih hanya karena rasa sesaat. Tetapi mulai bertanya dengan tenang dan rasional, apakah ini baik untuk masa depan bangsa, atau hanya memberi kenikmatan sesaat yang nanti meninggalkan batuk panjang bagi demokrasi di negeri ini?