Inflasi Jakarta 2025 di Bawah Nasional
- Laju inflasi Provinsi DKI Jakarta sepanjang 2025 terkendali dan berada di bawah capaian nasional. Berdasarkan rilis Badan Pusat Statistik (BPS), inflasi Jakarta secara tahunan atau yoi tercatat sebesar 2,63 persen, lebih rendah dibandingkan inflasi nasional yang mencapai 2,92 persen.
Pada Desember 2025, inflasi DKI Jakarta tercatat sebesar 0,33 persen secara bulanan atau mtm. Angka itu meningkat dibandingkan November 2025 yang sebesar 0,27 persen (mtm), namun masih menjadi yang terendah di Pulau Jawa. Sementara inflasi nasional pada periode yang sama mencapai 0,64 persen (mtm).
Berdasarkan hasil pemantauan kabupaten/kota, Indeks Harga Konsumen (IHK) atau Inflasi Menurut Kelompok di Jakarta, pada November 2025 terjadi inflasi tahunan atau yoy sebesar 2,67 persen. Terjadi kenaikan IHK dari 105,30 pada November 2024 menjadi 108,11 pada November 2025. Sementara untuk inflasi tahun berjalan atau ytd hingga November tercatat 2,29 persen.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia DKI Jakarta Iwan Setiawan menuturkan, tekanan inflasi Desember terutama bersumber dari kelompok Makanan, Minuman, dan Tembakau yang mengalami inflasi 1,07 persen (mtm). Kenaikan harga daging ayam ras dan cabai rawit menjadi pemicu utama, seiring meningkatnya permintaan menjelang Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Natal dan Tahun Baru (Nataru), kenaikan harga live bird, serta terbatasnya pasokan cabai akibat curah hujan tinggi.
''Namun, tekanan inflasi kelompok itu tertahan oleh penurunan harga cabai merah seiring masuknya musim panen di sejumlah daerah sentra. Beberapa komoditas lain seperti ikan mas dan susu cair kemasan juga mengalami penurunan harga,'' ujar Iwan.
Selanjutnya, untuk Kelompok Transportasi, di Jakarta mencatat inflasi 0,65 persen (mtm). Angka ini meningkat dari bulan sebelumnya sebesar 0,29 persen. Kenaikan itu dipengaruhi penyesuaian harga BBM non-subsidi per 1 Desember 2025 serta meningkatnya mobilitas masyarakat selama periode Nataru.
''Selain itu, emas perhiasan juga kembali menjadi salah satu penyumbang inflasi dengan kenaikan 1,59 persen (mtm), meski melambat dibandingkan bulan sebelumnya yang mencapai 8,73 persen,'' katanya.
Sejalan dengan itu, kelompok Perawatan Pribadi dan Jasa Lainnya juga mencatat inflasi 0,49 persen (mtm). ''Namun, di sisi lain, tekanan inflasi itu juga tertahan oleh deflasi pada kelompok Informasi, Komunikasi, dan Jasa Keuangan sebesar 0,06 persen (mtm), serta kelompok Perlengkapan, Peralatan, dan Pemeliharaan Rutin Rumah Tangga yang mengalami deflasi 0,04 persen,'' imbuhnya.
Lebih lanjut, Iwan menjelaskan, terkendalinya inflasi Jakarta tidak terlepas dari sinergi kuat Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID), khususnya menjelang Nataru. Berbagai langkah strategis dilakukan, mulai dari pengamanan pasokan, percepatan distribusi, pemantauan harga, hingga intensifikasi inspeksi pasar.
Sejumlah program turut digencarkan di Jakarta. Di antaranya, Pangan Bersubsidi, Pangan Murah oleh Perumda Pasar Jaya, Aksi Cabai Harga Petani, serta monitoring pasar tradisional dan ritel. ''Upaya distribusi juga diperkuat, termasuk pengiriman sembako ke Kepulauan Seribu dan pemanfaatan armada logistik hingga ke rumah susun,'' katanya. Ke depan, lanjutnya, TPID DKI Jakarta akan terus memperkuat strategi untuk pengendalian inflasi di Jakarta.