



Puncak Arus Balik Tiga Hari, Arus Mudik Lancar Dinilai Terdampak Efisiensi
–Pemudik perlu mempertimbangkan waktu puncak arus balik. Kakorlantas Polri Irjen Agus Suryanugroho memprediksi puncak arus balik Lebaran akan terjadi selama tiga hari yakni, pada 5 April Hingga 7 April. Di sisi lain, arus mudik yang lancar dinilai merupakan dampak dari efisiensi.
Untuk memastikan kelancaran perjalanan, Polri telah menyiapkan sejumlah langkah strategis, termasuk pengaturan jalur dan penerapan sistem contraflow serta one way. Irjen Pol Agus menuturkan bahwa arus balik tahun ini sudah berjalan lancar, meskipun ada perbedaan psikologis antara arus mudik dan arus balik.
"Untuk arus balik, para pemudik biasanya sudah dalam kondisi lelah, sehingga kami perlu menyiapkan skema yang lebih hati-hati dan fleksibel," ujar Agus Suryanugroho.
Pihak kepolisian telah mempersiapkan berbagai opsi untuk mengatur lalu lintas. Pada 2 April, sistem contraflow sudah diterapkan mulai KM 70 hingga KM 55. Pada 3 April, apabila volume kendaraan meningkat, skema one way lokal akan diterapkan dari KM 188 hingga KM 70, dan bahkan dapat diperpanjang hingga KM 246 Pejagan jika diperlukan.
"Jika terjadi lonjakan arus balik pada 5 dan 6 April, kami akan memberlakukan one way nasional, dengan titik awal di KM 414 Kalikangkung, untuk memudahkan pemudik yang kembali ke kota," tambah Kakorlantas.
Polri, lanjut dia, akan terus memantau perkembangan arus lalu lintas, melakukan evaluasi secara berkala, dan mengatur langkah-langkah lebih lanjut untuk menghindari kemacetan yang dapat mengganggu kenyamanan pemudik selama arus balik Lebaran.
Sementara Dirgakkum Korlantas Polri Brigjen Pol Raden Slamet Santoso selaku Kasatgas Kamseltibcarlantas Operasi Ketupat 2025 tengah mematangkan pelaksanaan rekayasa lalin arus balik.
"Pengamanan h+3 itu adalah ada dua yang pertama adalah pengamanan jalur-jalur wisata dan yang kedua adalah persiapan arus arus balik itu sudah disampaikan oleh Bapak Kapolri bahwa tanggal 3 ini arus balik antisipasi," terang Brigjen Pol Slamet di Command Center KM 29.
Lebih lanjut, Brigjen Pol Slamet menjelaskan bahwa pihaknya akan menerapkan rekayasa lalu lintas berupa one way lokal dari KM 188 hingga KM 70, kemudian dilanjutkan dengan contraflow dari KM 70 hingga KM 47 di ruas tol Jakarta-Cikampek.
"Nanti akan mungkin 1- 2 jam ke depan itu akan kita berlakukan one way lokal dari KM 188 ke KM 70 namun untuk menerima one lokal Itu tentunya di KM 70 sampai KM 47 sepanjang Cikampek itu harus kita persiapkan dulu tempatnya wadahnya sehingga tidak ada ketersendatan," jelas Slamet Santoso.
Slamet juga mengungkapkan bahwa setelah pukul 12.00 WIB jumlah kendaraan dari Palikanci sudah mengalami peningkatan mencapai 3.500 kendaraan. Oleh karena itu, pihaknya telah mempersiapkan pengaturan lalu lintas.
"Di atas jam 12.00 tadi di traffic counting yang ada di Palikanci itu sudah kurang imbang jadi yang masuk ke arah Jakarta itu sudah sekitar 3.500-an namun yang keluar itu sudah 1500-an sehingga kita sudah langsung persiapan untuk menerima arus lalu lintas yang dari arah timur ke Jakarta," kata Brigjen Pol Slamet.
Selain rekayasa lalu lintas, pihaknya juga melakukan pemantauan terhadap rest area melalui sistem monitoring Command Center. Apabila terjadi kepadatan d rest area petugas akan menutup dan mengalihkan ke rest area berikutnya.
"Di rest area kami juga sudah mempersiapkan diri kita hitung di command center ini dengan rest area monitoring system sehingga kalau memang ada kepadatan seluruh petugas baik itu dari petugas rest area kepolisian dan petugas dari Jasa Marga dan sebagainya untuk segera menutup rest area tersebut untuk kita alihkan ke jalur rest area yang lain," terang Slamet Santoso.
Arus mudik Lebaran 2025 dinilai sangat lancar. Pemerintah mengklaim bahwa kebijakan seperti work form anywhere dan rekayasa lalu lintas efektif, namun peneliti Institute Studi Transportasi (Instran) Ki Darmaningtyas memiliki pandangan berbeda. Bahwa bisa jadi arus mudik lancar akibat masyarakat tidak mudik terdampak efisiensi.
Ki Darmaningtyas menuturkan bahwa ketika arus mudik yang ada tidak semasif seperti yang dibayangkan sebelumnya. Bukan karena adanya berbagai kebijakan dalam memperpanjang masa liburan, termasuk kebijakan WFA, melainkan karena jumlah pemudik memang menurun. Hal itu terlihat dari kondisi di lapangan, di daerah-daerah tujuan pemudik.
"Di wilayah Jogjakarta misalnya, baik di Kota Jogjakarta maupun Kabupaten Gunungkidul yang saat arus mudik dan saat Lebaran dipadati dengan kendaraan pribadi, utamanya mobil berplat polisi non AB, musim mudik 2025 ini terlihat sepi," terang Darmaningtyas.
Data PT Jasa Marga (Pesero) yang dihimpun dari Pintu Tol Ciawi 1, Cikampek Utama 1, Kalihurip Utama 1, dan Cikupa antara H-5 sampai H-1 antara arus mudik 2024 dengan 2025 menunjukkan adanya penurunan selama kurun waktu H-5 sampai H-1. "Pada arus mudik 2024 ada 1.045.330 unit kendaraan, sedangkan pada arus mudik 2025 terdapat 1.004.348 kendaraan atau turun sebanyak 40.982 kendaraan," hitungnya.
Namun puncak arus mudik tetap ada pada H-3, yaitu sebanyak 231.511 pada 2024 menjadi 255.027 kendaraan. "Ini artinya kebijakan WFA sepertinya tidak berpengaruh signifikan," tandas Darmaningtyas.
Penurunan jumlah kendaraan itu juga terjadi di Pelabuhan Merak, Banten yang menghubungkan ke wilayah Sumatra. Berdasarkan hasil monitoring PT ASDP (Pesero) untuk kurun waktu H-10 (21/3) sampai H (31/3), bila pada mudik Lebaran 2024 terdapat 225.637 kendaraan roda empat yang menyeberang dari Pelabuhan Merak menjadi 225.400 pada arus mudik 2025 ini atau turun 0,1 persen.
"Penurunan jumlah pemudik tahun 2025 ini sebetulnya sudah saya diprediksikan sejak sebelum puasa, ketika pemerintah menerapkan kebijakan efisiensi anggaran," urai Darmaningtyas.
Dampak efisiensi anggaran itu sangat luas dan berpengaruh terhadap minat warga untuk melakukan mudik lebaran. ASN-ASN muda, yang masih punya tanggungan angsuran rumah dan kendaraan, pasti memilih tidak mudik, karena selama 3 bulan terakhir mereka tidak mendapatkan tambahan penghasilan, baik dari perjalanan dinas ataupun kegiatan seremonial, dan konsultansi.
"Bagi kaum lansia, minat untuk bepergian amat dipengaruhi oleh berita-berita mengenai cuaca ekstrim," jelas Darmaningtyas.
Sedangkan untuk sektor swasta, banyak Perusahaan melakukan PHK, seperti Media massa dan industri tekstil. Hotel-hotel dan tempat tempat hiburan juga sepi penggunjung dan ini dampaknya pada turunnya kesejahteraan karyawan sehingga mereka tidak bisa mudik, mereka lebih baik menghemat pendapatnya untuk kelangsungan hidup berikutnya.
"Sambil menunggu kepastian nasib mereka," papar Darmaningtyas.
Terkait dengan persiapan pemerintah menyambut persiapan mudik lebaran terasa cukup berlebihan. Hal itu karena mengacu pada hasil survey Badan Kebijakan Transportasi (BKT) Kementerian Perhubungan yang menyatakan bahwa 146 juta berpotensi untuk melakukan mudik Lebaran. Atas dasar hasil survei itulah, pemerintah dengan melibatkan berbagai stakeholder merumuskan kebijakan persiapan penyelenggaran angkutan mudik Lebaran.
"Sayang dalam perumusan kebijakan ini hanya mendasarkan hasil survei saja, tidak mendasarkan pada evaluasi lapangan pelaksaan mudik lebaran 2024 maupun kondisi sosial ekonomi masyarakat," jelas Darmaningtyas.
Tag: #puncak #arus #balik #tiga #hari #arus #mudik #lancar #dinilai #terdampak #efisiensi